POJOKSATU.id - Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) memaparkan faktor utama yang menentukan kelolosan siswa dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.

Penjelasan ini menjadi sorotan, khususnya bagi sekolah berakreditasi A yang memperoleh kuota hingga 45 persen melalui penggunaan e-Rapor.

Koordinator Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi SNPMB, Riza Satria Perdana, menegaskan bahwa kelulusan SNBP tidak ditentukan oleh satu aspek tunggal.

Baca Juga: Bukan Asal Catat! Begini Mekanisme Penilaian Komitmen PKH Agar Data Dianggap Valid

Penilaian dilakukan secara komprehensif oleh masing-masing perguruan tinggi negeri (PTN).

“Yang dinilai itu rata-rata nilai rapor keseluruhan, kemudian nilai mata pelajaran pendukung sesuai program studi yang dituju, lalu prestasi siswa seperti lomba atau kejuaraan,” kata Riza dalam Sosialisasi Daring Registrasi Akun SNPMB dan Pengisian PPDS, Selasa, 6 Januari 2026.

e-Rapor Tidak Pengaruhi Peluang Siswa
Riza juga meluruskan anggapan bahwa penggunaan e-Rapor dapat memengaruhi peluang siswa lolos SNBP.

Menurutnya, e-Rapor hanya berdampak pada aspek administratif sekolah, bukan pada mekanisme seleksi di tingkat PTN.

“Apakah sekolah pakai e-Rapor atau manual, peluang siswanya sama. Yang membedakan itu kuota sekolahnya, bukan cara penilaian siswanya,” ujarnya.

Baca Juga: Tunjangan Guru Per Bulan, Benarkah Solusi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Guru?

Artinya, siswa dari sekolah yang menggunakan e-Rapor maupun pengisian PDSS manual tetap dinilai dengan standar yang sama oleh PTN tujuan.

Strategi Pilih Prodi Jadi Kunci

Selain nilai dan prestasi, Riza menekankan pentingnya strategi pemilihan program studi.

Ia menjelaskan bahwa SNBP menggunakan sistem dua putaran seleksi, berbeda dengan SNBT yang memproses seluruh pilihan secara bersamaan.

Pada SNBP, seluruh peserta akan diseleksi terlebih dahulu pada pilihan pertama.

Siswa yang tidak lolos pada tahap ini baru akan diproses pada pilihan kedua.

“Karena itu, pilihan prodi sangat krusial. Jangan menaruh prodi yang sangat kompetitif di pilihan kedua, karena besar kemungkinan kuotanya sudah habis di putaran pilihan pertama,” kata Riza.

Baca Juga: Pandji Pragiwaksono Dipolisikan dan Didemo Soal Materi Mens Rea, Gibran Anggap Kritik Tak Perlu Dipidanakan

Ia menyarankan siswa bersama guru bimbingan konseling melakukan pemetaan peluang secara realistis.

Pertimbangan harus mencakup kekuatan nilai rapor, mata pelajaran pendukung, prestasi, serta tingkat keketatan program studi yang dituju.

Menurut Riza, strategi yang tepat dapat membuka peluang kelulusan, bahkan bagi siswa yang berada di peringkat bawah kuota sekolah.

“Kalau prodi yang dipilih sesuai dengan kemampuan dan karakter nilai siswa, peluangnya tetap terbuka,” ujarnya.

SNPMB pun mengingatkan sekolah dan siswa agar tidak hanya terpaku pada peringkat semata. ***