POJOKSATU.ID - Kondisi geografis yang sulit tidak menyurutkan semangat juang para pendidik dan pelajar di SMA 1 Ulugawo, Kabupaten Nias.

Warman Zai, seorang guru Bahasa Inggris, menceritakan perjuangan sehari-hari yang ia dan rekan-rekannya lalui demi mencapai sekolah yang terletak di puncak bukit.

Meskipun telah menjalaninya selama delapan tahun dan menganggapnya sebagai hal biasa, ia mengakui tantangan berat yang dihadapi.

Jarak tempuh dari rumah ke sekolah sekitar empat kilometer dengan kondisi jalan yang berbatu, berkerikil, dan licin saat hujan.

Baca Juga: Kemendikdasmen Terapkan Skema Swakelola Dana Revitalisasi Sekolah Langsung ke Rekening

Jalan ekstrem ini bahkan membuat Warman harus menuntun motornya, sementara sang istri berjalan kaki.

Kondisi jalan yang buruk ini menuntut kesiapan biaya ekstra untuk perawatan motor agar selalu prima.

Perjuangan serupa juga dirasakan oleh para siswa.

Banyak di antara mereka harus berjalan kaki hingga dua jam lebih, melewati hutan, ladang, dan sungai, karena lokasi sekolah yang strategis berada di atas bukit agar bisa dijangkau oleh siswa dari berbagai desa di sekitarnya.

Baca Juga: Kemendikdasmen Tuntaskan Pembangunan 11.179 Sekolah Rusak Bentuk Revitalisasi Sekolah

Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, terutama bagi siswa dan guru wanita, mereka biasanya memilih pergi atau pulang secara berkelompok.

Pihak sekolah memahami kondisi ini dengan memberlakukan absensi yang fleksibel, terutama saat musim hujan tiba, di mana banyak siswa kesulitan untuk datang ke sekolah.

Warman juga mengungkapkan bahwa kurangnya sarana dan prasarana, seperti ruang kelas tambahan dan laboratorium bahasa, menjadi kendala dalam proses pembelajaran.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada sekolah di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) untuk memenuhi kebutuhan tersebut.***

Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android

Versi iOS

Channel WhatsApp

Fanpage Edugov

Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Ferdy Wamala