POJOKSATU.id - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi tuan rumah kegiatan Pembinaan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara.
Kegiatan ini digelar oleh Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 1 November 2025, yang bertujuan memperkuat semangat nasionalisme mahasiswa penerima Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik).
Baca Juga: DPRD Kota Bandung Bentuk Pansus 11, Bahas Raperda Grand Design Pembangunan Keluarga 2025–2045
Program ADik memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari Papua, daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), dan anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.
Wakil Rektor I Unesa, Martadi, menegaskan pentingnya membangun karakter kebangsaan bagi para penerima beasiswa.
“Kalian adalah the rising star, matahari harapan bangsa. Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan negara ini,” ujarnya.
Baca Juga: DPRD Kota Bandung Bentuk Pansus 11, Bahas Raperda Grand Design Pembangunan Keluarga 2025–2045
Anggota Tim Teknis PPAPT, Yonny Koesmaryono, menjelaskan bahwa program ADik bukan sekadar membuka akses kuliah, tetapi juga membentuk karakter.
“Program ADik bukan sekadar memberikan akses kuliah, tetapi juga membangun kapasitas diri, karakter, dan kepemimpinan generasi muda Indonesia,” katanya.
Ketua Panitia Pembinaan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara, Muhammad Farid Ilhamuddin, menyebut kegiatan ini bagian dari komitmen perguruan tinggi.
Baca Juga: Dari Harapan Jadi Cemas, Calon PNS Galau Hadapi Penundaan Rekrutmen
“Kami ingin membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam semangat kebangsaan dan solidaritas sosial,” ujarnya.
Sebanyak 224 mahasiswa penerima beasiswa dari 16 perguruan tinggi di Jawa Timur ikut dalam kegiatan tersebut.
Mereka mendapat pembekalan wawasan kebangsaan, bela negara, serta pemahaman antiradikalisme.
Wakil Rektor III Unesa, Bambang Sigit Widodo, mengingatkan bahwa tantangan generasi muda bukan hanya soal teknologi, tapi juga menjaga nasionalisme.
“Perbedaan bukan untuk diseragamkan, tetapi untuk disatukan. Ketika mahasiswa kehilangan daya kritisnya, di situlah roh mahasiswa hilang,” tegas Bambang.
Ia juga menutup kegiatan dengan pesan inspiratif.
“Bangun Indonesia dengan prestasi, bukan provokasi. Kibarkan merah putih di manapun, dengan cara apapun,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa penerima Beasiswa ADik menjadi agen perubahan yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing dalam membangun Indonesia Emas 2025.***




