POJOKSATU.id - Fenomena yang disebut sebagai “awan kontainer” belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Istilah ini kerap dikaitkan dengan cuaca ekstrem dan hujan yang disebut-sebut memicu berbagai keluhan kesehatan, mulai dari gatal-gatal pada kulit, mata perih, hingga munculnya busa pada air hujan yang ditampung warga.

Menanggapi hal tersebut, Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menegaskan bahwa istilah awan kontainer tidak dikenal dalam ilmu meteorologi.

Baca Juga: Diakui Internasional, Prabowo Klaim MBG Indonesia Dipelajari White House dan Dipuji Rockefeller Institute

Ia menilai istilah tersebut lebih merupakan kesalahpahaman dalam memahami fenomena atmosfer yang sebenarnya.

Berdasarkan klaim dan narasi yang beredar luas, Sonni menilai ada kekeliruan dalam memahami proses terbentuknya hujan, terutama pada tahap awal presipitasi.

“Kesimpulan saya, ada kekeliruan dalam memahami proses presipitasi, terutama pada tahap pengintian atau pembentukan inti kondensasi,” ujarnya merespons viralnya fenomena tersebut.

Baca Juga: Menuju World Class University, UNIDA Matangkan Persiapan Akreditasi Internasional QS WUR 2026

Menurut Sonni, hujan yang menimbulkan keluhan seperti gatal-gatal pada kulit, mata perih, maupun terbentuknya busa pada air hujan bukan disebabkan oleh jenis awan tertentu. Fenomena tersebut lebih berkaitan dengan hujan asam.

“Hujan asam terjadi akibat gas-gas polutan di udara yang berperan sebagai inti kondensasi, kemudian larut dalam air hujan.

Apalagi di wilayah dengan tingkat polusi udara tinggi, potensi terjadinya hujan asam memang lebih besar,” jelasnya.

Baca Juga: Penghasilan Guru PPPK Paruh Waktu Disorot, Terima Gaji Rp 2,72 Juta per Bulan, Ini Fakta Lengkapnya

Terkait penggunaan istilah “awan kontainer” oleh sejumlah pembuat konten, Sonni menegaskan bahwa istilah tersebut tidak memiliki dasar ilmiah dan hanya bersifat subjektif.

“Sampai saat ini, tidak ada istilah atau konsep dalam meteorologi yang menyebutkan keberadaan ‘awan kontainer’ seperti yang dimaksud,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa awan pada dasarnya selalu bergerak dan berubah bentuk mengikuti dinamika atmosfer.

Baca Juga: Benarkah Ini Solusi Swasembada Pangan, Bulog Lepas dari Status BUMN?

Anggapan bahwa awan tampak kaku atau tidak bergerak kemungkinan muncul dari pengamatan visual yang sangat singkat.

“Ketika awan disebut tidak bergerak atau tidak berubah bentuk, itu biasanya hanya berdasarkan pengamatan mata telanjang sesaat, padahal secara fisik awan terus mengalami perubahan,” ujarnya.

Sonni turut menanggapi klaim yang mengaitkan fenomena tersebut dengan jejak pesawat di langit.

Baca Juga: GILA! Purbaya Sampai Disebut 'Idiot' Oleh Noel, Karena Respon Negatif dari Dirinya yang Sebut Purbaya Akan 'Di Noel Kan'!

Menurutnya, garis-garis lurus yang sering terlihat merupakan jejak kondensasi pesawat atau contrail.

“Itu adalah uap air hasil pembakaran bahan bakar pesawat. Ketika berada di lapisan udara yang dingin, uap air tersebut mendingin dan mengondensasi, sehingga tampak sebagai garis lurus di langit,” jelasnya.

Namun jejak tersebut tidak bersifat permanen. Dalam beberapa menit, bentuknya akan menyebar dan berubah mengikuti kondisi atmosfer.

Baca Juga: Kemenhut! Pengumuman Seleksi Calon Penerima Tugas Belajar S2 dan S3 Kementerian Kehutanan!

“Jika diamati dengan cermat, bentuknya akan berubah menjadi tidak teratur. Ini menunjukkan adanya kekeliruan pengamatan yang bisa memicu kesimpulan yang salah,” tuturnya.

Menutup penjelasannya, Sonni mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menyikapi informasi cuaca yang viral di media sosial.

Pemahaman yang tepat, menurutnya, penting agar publik tidak mudah percaya pada istilah atau klaim yang tidak memiliki dasar ilmiah, terutama terkait fenomena alam yang sebenarnya dapat dijelaskan secara sains. ***