POJOKSATU.id - Pengakuan mengejutkan datang dari mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenpanRB) Yuddy Chrisnandi.

Dalam sebuah wawancara publik, ia membongkar praktik titipan dalam seleksi CPNS di masa lalu.

Menurutnya, sebelum sistem Computer Assisted Test (CAT) diterapkan secara penuh, jalur titipan dari pejabat bahkan kepala daerah menjadi fenomena umum dan mendominasi proses seleksi.

Baca Juga: Libur Akhir Tahun 2025 Sekolah, Kegiatan Siswa Diarahkan Begini, Guru dan Tendik Ikut Libur? Simak Poin Penting Aturan Baru Kemendikdasmen

Pengungkapan ini kembali memantik perbincangan mengenai integritas ASN.

Serta bagaimana proses rekrutmen sebelum era digital pernah diwarnai praktik yang jauh dari meritokrasi.


Pengakuan Eks MenpanRB, Titipan Lebih Besar dari Seleksi Kompetensi

Yuddy Chrisnandi blak-blakan menyebut bahwa pada masa sebelum CAT diberlakukan, penerimaan CPNS tidak sepenuhnya melalui seleksi kompetensi.

Baca Juga: Dibekali Langsung Wali Kota, 118 CPNS Palu Ditempa Jadi Benteng Integritas dan Profesionalisme ASN!

“Banyak ya, saya lupa dan kebanyakan itu dari kalangan kepala-kepala daerah,” ungkap Yuddy, dikutip dari Suara.com, 27 November 2025.

Yuddy menjelaskan bahwa praktik ini berlangsung bertahun-tahun dan sulit dibendung karena proses seleksi pada masa itu sangat bergantung pada rekomendasi pejabat daerah maupun pusat.

Menurutnya, sebelum reformasi seleksi ASN dilakukan, sistem rekrutmen tidak memiliki alat verifikasi objektif seperti yang dimiliki CAT hari ini.

Baca Juga: Hari Kelima Bencana, 4 Jalur Menuju Desa-desa di Tapteng Belum Bisa Dilalui Kendaraan dan Logistik


Bagaimana Titipan Menguasai Rekrutmen CPNS?

Sebelum sistem CAT diterapkan secara nasional, proses seleksi CPNS kerap dilakukan melalui proses manual.

Mulai dari tes tertulis hingga administrasi yang sangat rentan manipulasi.

Para pejabat daerah, yang memiliki wewenang besar dalam menentukan formasi dan rekomendasi, sering memberikan “daftar nama” calon pegawai.

Praktik inilah yang kemudian disebut Yuddy sebagai periode paling gelap dalam rekrutmen ASN.

Dalam berbagai laporan media, jumlah titipan bahkan diperkirakan mencapai 80–90 persen dari total penerimaan dalam beberapa gelombang seleksi.

Baca Juga: Guru Jangan Terkecoh! Serdik Hanya Tiket Masuk, Bukan Jaminan Cairnya TPG

Dengan kondisi tersebut, peluang masyarakat umum yang benar-benar mengikuti tes murni menjadi sangat kecil.


Dampaknya, ASN Tidak Lahir dari Kompetensi

Praktik titipan CPNS yang mendominasi bertahun-tahun berdampak panjang terhadap kualitas birokrasi.

Banyak ASN yang lolos bukan karena kapabilitas, tetapi karena kedekatan dengan pejabat tertentu.

Baca Juga: Mengapa TPG Akan Dibayar Setiap Bulan? Ini Alasannya Menjadi Prioritas Pemerintah

Dampak nyata dari praktik ini antara lain:

1. Rendahnya profesionalisme ASN di beberapa daerah

2. Ketidakseimbangan kualitas SDM

3. Munculnya ASN yang tidak sesuai bidang kompetensi

4. Minimnya semangat meritokrasi

5. potensi penyalahgunaan jabatan setelah diterima

Reformasi ASN yang gencar dilakukan beberapa tahun terakhir salah satunya ditujukan untuk menghapus warisan buruk dari masa tersebut.

Era CAT, Pemerintah Berusaha Menghapus Praktik Titipan

Penerapan sistem CAT secara penuh menjadi tonggak besar dalam reformasi rekrutmen ASN.

Melalui CAT, hasil tes ditampilkan langsung di layar komputer dan dapat dilihat peserta serta publik.

Model ini dianggap menutup peluang manipulasi dan titipan dari pihak mana pun.

Baca Juga: Kemenpar Siapkan 65 Paket Wisata untuk Dongkrak Pergerakan Wisatawan di Libur Nataru 2025

Pada masa Yuddy menjabat, ia menegaskan bahwa seleksi berbasis CAT harus menjadi syarat mutlak dalam seluruh rekrutmen CPNS agar jalur titipan tidak dapat beroperasi lagi.

Beberapa perubahan besar setelah CAT diterapkan antara lain:

1. Hasil tes langsung muncul real-time

2. Tidak ada lagi ruang intervensi panitia daerah

Baca Juga: Kecelakaan Beruntun Libatkan 14 Kendaraan di Cikampek Karawang, 2 Tewas dan 5 Luka-Luka

3. Peserta mengetahui skor pribadi dan passing grade

4. Proses seleksi lebih akuntabel dan transparan

5. Laporan kecurangan menurun drastis

Transformasi ini disebut sebagian pihak sebagai bentuk “pembersihan masa lalu” dalam proses rekrutmen ASN.

Baca Juga: Peluang Emas CPNS 2026! BRIN Buka Formasi Periset untuk Lulusan Sains hingga Ilmu Sosial, Ini Daftar Bidang Riset yang Diprioritaskan


Apakah Praktik Titipan Masih Ada? Pengamat Menyebut Masih Ada Potensi

Meski CAT mampu mempersempit ruang titipan, pengamat menilai potensi intervensi masih dapat terjadi.

Pada tahapan pasca-seleksi seperti penempatan atau pengisian formasi di beberapa daerah.

Karena itu, mereka menilai pengawasan publik tetap diperlukan.

Isu titipan CPNS masa lalu juga mengingatkan masyarakat bahwa reformasi ASN tidak boleh berjalan setengah hati.

Proses seleksi yang objektif harus disertai pembenahan menyeluruh di bidang supervisi, disiplin, dan pengawasan.***