POJOKSATU.ID - Isu mengenai keamanan dan kualitas pengasuhan di lembaga penitipan anak atau daycare kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah munculnya kesaksian dari sejumlah orang tua.

Sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) mengungkapkan adanya dugaan perlakuan tidak layak di salah satu daycare Little Aresha yang berlokasi di Jogja.

Informasi ini bermula dari keresahan para wali murid yang menemukan adanya kesamaan pola perilaku yang tidak wajar pada anak-anak mereka.

Beberapa orang tua melaporkan bahwa anak mereka menunjukkan kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri ketika sedang mengalami tantrum.

Baca Juga: Klarifikasi Kabar Pengalihan Anggaran Bansos PKH dan BPJS ke Program MBG!

Perilaku tersebut meliputi tindakan memukul diri sendiri meski hanya menerima teguran ringan dari orang tua di rumah.

Awalnya, para orang tua menganggap tindakan tersebut merupakan fase perkembangan balita yang normal terjadi dalam masa pertumbuhan.

Namun, kecurigaan mulai muncul setelah diketahui bahwa banyak anak lain di lembaga yang sama menunjukkan gejala serupa secara bersamaan.

Kecurigaan semakin menguat ketika salah satu kerabat korban menceritakan pengalaman keponakannya yang telah dititipkan di tempat tersebut sejak bayi hingga berusia lima tahun.

Baca Juga: Upaya Nyata Kemendikdasmen Dalam Memperbaiki Akses Belajar Di Wilayah 3T

Keluarga merasa sangat sedih dan prihatin melihat anak tersebut terus-menerus melakukan tindakan melukai diri setiap kali merasa emosional.

Situasi ini memicu dugaan kolektif di kalangan netizen bahwa terdapat perlakuan yang tidak manusiawi selama proses pengasuhan di lembaga tersebut.

Publik pun menanggapi fenomena ini dengan sangat kritis dan membandingkan standar pengasuhan manusia dengan fasilitas penitipan hewan.

Banyak pihak mendesak agar pengawasan terhadap izin dan operasional lembaga penitipan anak diperketat guna mencegah terjadinya trauma jangka panjang pada anak.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun pada anak mereka.

Hingga saat ini, diskusi mengenai pola perilaku menyakiti diri tersebut masih terus bergulir sebagai bentuk upaya menuntut keadilan bagi para korban.***