POJOKSATU.id - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMS, Muhamad Subhi Apriantoro, Lc., M.H., berhasil meraih penghargaan best paper dalam forum internasional 9th World Islamic Economics and Finance Conference (WIEFC) 2026.

Pada konferensi tersebut, Subhi mempresentasikan hasil risetnya mengenai persepsi publik terhadap perbankan syariah di Indonesia.

Baca Juga: Jadwal Sekolah Selama Ramadan 2026 Resmi, Siswa Libur Awal Puasa hingga Dua Pekan Jelang Lebaran

Karya ilmiah itu dinilai unggul dan dinobatkan sebagai riset terbaik dalam forum yang diikuti para pakar ekonomi Islam dari berbagai negara.

Riset bertajuk Public Perception of Islamic Banking: A Social Network Analysis ini ditulis bersama mahasiswanya, Eva Triyulianti.

Makalah tersebut masuk dalam sesi teknis bertema Digitalization, Public Perception, and Equity Market Performance in Islamic Finance, serta tercantum sebagai salah satu paper terpilih dalam buku program konferensi.

Baca Juga: Urai Macet Puri Kosambi, Ketua DPRD Karawang Kaji Opsi Overpass

Dalam penelitiannya, Subhi menggunakan pendekatan Social Network Analysis (SNA) untuk memetakan percakapan publik di media sosial terkait isu perbankan syariah.

Metode ini memungkinkan analisis hubungan antarakun, sentimen, hingga pola diskusi digital secara lebih terstruktur.

“Metode ini memungkinkan analisis hubungan antarakun, sentimen, hingga pola diskusi digital secara lebih terstruktur,” kata Subhi.

Baca Juga: SNBP 2026 Kian Ketat, Siswa Kelas XII Diminta Matang Pilih Prodi, Lulus Tapi Tak Daftar Terancam Blokir

Hasil riset menunjukkan bahwa sentimen publik terhadap bank syariah bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh isu-isu aktual yang berkembang.

Diskusi di media sosial juga didominasi kelompok usia 25–34 tahun sebagai demografi paling aktif, serta ditemukan adanya kesenjangan pemahaman antara laki-laki dan perempuan.

Selain itu, penelitian ini turut memetakan tema pembicaraan, hashtag populer, serta aktor kunci atau influencer yang berperan besar dalam membentuk opini publik mengenai layanan keuangan syariah.

Baca Juga: SINTA Bukan Sekadar Angka, Ini Strategi Dosen Menaikkan Skor Tanpa Harus Lelah Menulis

Menurut Subhi, temuan tersebut tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga diagnostik karena mampu mengidentifikasi persoalan literasi, tingkat kepercayaan, hingga efektivitas strategi komunikasi perbankan syariah di ruang digital.

“Data percakapan media sosial bisa menjadi bahan evaluasi bagi bank syariah dan regulator untuk menyusun strategi komunikasi yang lebih tepat sasaran,” ujarnya.

Ia berharap riset ini dapat menjadi rujukan akademik dalam pengembangan kajian perbankan syariah berbasis data digital, sekaligus memperluas pemanfaatan metode SNA dalam penelitian hukum dan ekonomi syariah. Subhi juga menekankan pentingnya kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dalam riset dan publikasi ilmiah.

Baca Juga: TPG TW 3 dan TW 4 2025 Cair di 2026, Ini Kunci Utama Mekanisme Carry Over

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam penelitian tidak hanya memperkuat budaya riset di perguruan tinggi, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang ekonomi dan hukum Islam.

Konferensi WIEFC 2026 sendiri diselenggarakan di Minhaj University Lahore, Pakistan, pada 24–25 Januari 2026. Forum ini menjadi ajang pertemuan akademisi dan praktisi ekonomi Islam dari berbagai belahan dunia. ***