POJOKSATU.ID – Lorong-lorong panjang di SMA Tamansiswa Bandung yang dulu dipenuhi langkah siswa, riuh tawa, dan suara riang anak-anak kini berubah senyap.

Di salah satu ruang kelas, hanya ada satu kursi yang terisi. Seorang siswa duduk sendiri, belajar di bawah pengawasan guru yang setia.

Sekolah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara ini kini menghadapi masa-masa yang sulit, sepi peminat dan hampir terlupakan.

Tamansiswa Bandung, berdiri sejak 1922, adalah saksi sejarah pendidikan Indonesia.

Baca Juga: PENYEBAB Guru yang Lolos Seleksi Administrasi PPG 2024 Tetapi Belum Terpanggil Tahap 1 dan 2! Begini Arahan dari Pak Dirjen!

Di sekolah ini, lahir berbagai tokoh hebat. Dua mantan Gubernur Jawa Barat, Sanusi Hardjadinata dan Aang Kunafi, pernah mengenyam pendidikan di sini.

Atlet nasional seperti Taufik Hidayat, yang kini menjadi Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, serta pesepak bola ternama Persib Bandung, Atep dan Eka Ramdani, adalah alumni yang turut mengharumkan nama sekolah ini.

“Dulu Tamansiswa pelopor sekolah atlet. Tahun 1980 sampai 2010 adalah masa kejayaan kami,” kenang Anwar Hadjah, Ketua Bidang Organisasi dan Panitera Yayasan Tamansiswa Bandung.

Baca Juga: Head to Head Timnas U-23 Indonesia vs Thailand, Sejatinya MISI BALAS DENDAM

Namun, sinar kejayaan itu mulai meredup sejak kebijakan sistem zonasi pendidikan diberlakukan pada 2012.

Kebijakan yang memprioritaskan penerimaan siswa di sekolah negeri terdekat membuat sekolah swasta seperti Tamansiswa kehilangan banyak calon murid.

“Tiap tahun memang ada penurunan, terutama sejak berlakunya zonasi,” ujar Anwar saat ditemui di SMA Tamansiswa, Jalan Talaga Bodas, Bandung.

Kini, jumlah siswa SMA Tamansiswa hanya 23 orang, dengan satu siswa baru untuk tahun ajaran 2025/2026. SMP Tamansiswa pun mengalami nasib serupa dengan hanya 12 murid.

Baca Juga: HRD PT FCC IndonesiaTak Hadir RDP, DPRD dan Warga Karawang Merasa Dilecehkan

Guru Sosiologi SMA Tamansiswa, Suluh Basuki, tak bisa menutupi rasa sedih saat melintasi kelas yang dulu penuh murid.

“Dulu satu kelas bisa 36 siswa, sekarang hanya satu siswa baru. Bahkan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) terpaksa ditunda,” katanya.

Suluh bahkan sempat menawarkan orang tua murid agar anaknya pindah sekolah, agar bisa memiliki teman sebaya. Namun, keluarga itu memilih bertahan di Tamansiswa.

“Kami sudah berusaha memindahkan, tapi mereka tetap ingin di sini. Katanya, mereka yakin dengan pendidikan di Tamansiswa,” ucap Suluh.

Baca Juga: Hari Ini KPK Periksa SUH, Tersangka Korupsi Iklan Bank BJB Senilai Rp222 Miliar

Pihak yayasan berharap pemerintah lebih berpihak pada sekolah swasta.

“Sekolah swasta itu mitra, bukan kompetitor. Kami sudah berjuang sejak zaman penjajahan. Jangan sampai sekolah bersejarah ini mati pelan-pelan,” ujar Anwar.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sebelumnya telah mengeluarkan Kepgub No. 463.1/Kep.323/Disdik/2024 tentang pencegahan anak putus sekolah dengan menambah kapasitas murid SMA negeri hingga 50 orang per kelas.

Namun, kebijakan ini justru memperberat posisi sekolah swasta yang semakin sulit mendapatkan siswa.

Baca Juga: Meresahkan, Ketua LSM KPK RI Peras Kepala SMP di Kotanopan Rp 1,8 Juta, Modus Penyaluran Kartu PIP

Tamansiswa Bandung bukan sekadar sekolah, ia adalah bagian dari sejarah panjang pendidikan nasional.

Bahkan, dua gedung di Tamansiswa itu dibangun oleh tokoh besar Aang Kunafi dan mantan Gubernur Jabar lainnya, Ahmad Heryawan.

Di balik tembok yang mulai sunyi, tersimpan cerita perjuangan dan dedikasi Ki Hajar Dewantara dalam mencerdaskan bangsa.

Kini, dengan hanya satu siswa baru, Tamansiswa Bandung seakan menjadi simbol tantangan sekolah swasta di era modern.

Baca Juga: Bukan Kedua Atasannya, LPSK Sebut Brigadir Nurhadi Diduga Tewas di Tangan Misri Puspita Sari

Namun, semangat guru dan yayasan untuk tetap bertahan menunjukkan bahwa api perjuangan pendidikan tidak pernah padam.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

“Walaupun hanya satu murid, kami tetap mengajar dengan sepenuh hati. Karena tanggung jawab kami adalah mendidik, bukan sekadar mengisi kelas,” tegas Suluh.