POJOKSATU.id - Kegelisahan sering kali menjadi awal dari sebuah perubahan.
Itulah yang dirasakan Lina Liliana dan Mega Puspita Dewi, dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK UNEJ), saat mencermati meningkatnya persoalan kesehatan pada perempuan usia reproduktif, khususnya ibu hamil.
Anemia, kekurangan energi kronis, hingga kecenderungan menuju diabetes melitus tipe 2 bukan lagi sekadar deretan data statistik.
Baca Juga: Bansos Cair Serentak 22–31 Desember 2025, Ini Daftar Bantuan dan Bank Penyalurnya
Bagi Lina dan Mega, kondisi tersebut adalah realitas yang mengusik nurani dan menuntut solusi nyata.
Dari kegelisahan itulah, sebuah gagasan ilmiah lahir. Keduanya berhasil mengantarkan ide tersebut meraih Juara 1 Esai Ilmiah Nasional dalam ajang Advanced and Excellence Competition in Medical Collaboration (AXONIC) 2025.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang pada November 2025 itu mengusung tema besar “Lullaby of Life: Nurturing Mothers, Empowering Children”.
Tema tersebut langsung menarik perhatian Lina dan Mega karena selaras dengan keresahan yang selama ini mereka diskusikan.
“Tema ini terasa sangat relevan. Bukan hanya membahas penyakit, tetapi bagaimana kesehatan ibu menjadi fondasi bagi tumbuh kembang generasi berikutnya,” tutur Lina saat ditemui di Kampus UNEJ, Sabtu (20/12/2025), di sela masa libur perkuliahan.
Berangkat dari diskusi sederhana, keduanya mulai merangkai ide yang tidak hanya berbasis bukti ilmiah, tetapi juga mempertimbangkan aspek perilaku, budaya, hingga pemanfaatan teknologi.
Baca Juga: Geger di Luwu, Pria Afrika Nekat ke Indonesia untuk Menikahi Gadis yang Dikenalnya di Facebook
Mereka membayangkan solusi yang aplikatif dengan menggabungkan biofarmaka lokal, teknologi microneedle, serta pemantauan kesehatan berbasis digital untuk membantu pencegahan gangguan gizi dan metabolik pada ibu hamil.
“Selama ini ide-ide itu sering hanya berhenti sebagai wacana. Lewat lomba ini, kami melihat ruang untuk menguji gagasan tersebut secara ilmiah dan realistis,” jelas Lina.
Bagi Lina dan Mega, kompetisi bukan semata ajang mencari gelar juara.
Baca Juga: Letnan Jenderal Fanil Tewas Kena Ledakan Bom, Peledak Dipasang di Bawah Mobilnya
AXONIC 2025 mereka maknai sebagai laboratorium gagasan untuk mengasah riset, sekaligus membuktikan bahwa ide mahasiswa bisa memiliki potensi dampak nyata bagi kesehatan ibu di Indonesia.
Proses yang dijalani pun tidak singkat. Riset literatur mendalam, penyusunan konsep inovasi, hingga persiapan presentasi menjadi tantangan tersendiri.
Namun dari proses itulah keduanya belajar berpikir kritis, menyusun solusi secara sistematis, dan mempertanggungjawabkan ide secara ilmiah.
Lina juga membagikan pengalamannya bagi mahasiswa lain yang ingin mengikuti jejak serupa.
Menurutnya, kunci utama terletak pada keberanian mengangkat persoalan yang relevan dan dekat dengan realitas masyarakat.
“Selain itu, penting menggunakan evidence terbaru, menjaga logika inovasi tetap konsisten, mampu mengantisipasi pertanyaan juri, serta menyampaikan presentasi secara ringkas tapi substansial,” ujarnya.
Baca Juga: THR TPG Guru 2025 Cair Bertahap, Ini Tanda-Tanda Proses Sudah Masuk Tahap Akhir
Prestasi ini menjadi pemantik semangat bagi Lina dan Mega untuk terus berkembang.
Mereka berharap pengalaman di AXONIC 2025 dapat menjadi bekal untuk memperdalam riset, mengasah kepekaan sosial, serta membangun solusi yang benar-benar berdampak di bidang kesehatan. ***




