POJOKSATU.id – Dari sebuah desa sunyi di Tegowanu, Grobogan, seorang guru PAUD bernama Nikma Zulia Rahma membuktikan bahwa langkah kecil pun bisa membuka jalan menuju panggung dunia.
Gadis kelahiran Semarang, 18 Juli 2002 itu kini menjadi salah satu nama yang dibicarakan banyak pendidik muda setelah tampil sebagai Conference Speech Delegate di Universiti Malaya, Malaysia.
Tumbuh dari Desa, Berani Menatap Dunia
Perjalanan Nikma bukanlah mulus.
Setelah lulus SMP, ia memutuskan merantau dan menempuh pendidikan di pesantren. Di tempat itu, hidupnya berubah drastis.
Bukan hanya karena ia menerima beasiswa penuh, tetapi karena disiplin dan pembiasaan yang membentuk ketangguhan mentalnya.
Masa mondok itu, kata Nikma, menjadi titik balik yang menggerakkan seluruh langkahnya.
Baca Juga: Kompetisi ONMIPA 2025 Resmi Dibuka, 260 Mahasiswa dari 96 Kampus Adu Prestasi di Unpad
Ia belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, dan kesempatan selalu datang pada mereka yang mau berjuang lebih jauh dari batas kenyamanan.
Ucapannya sedikit demi sedikit terbukti.
Usai lulus pesantren, Nikma pulang ke Grobogan dan mendedikasikan dirinya sebagai guru PAUD.
Ia terjun di kegiatan masyarakat, ikut menggerakkan organisasi pendidikan anak usia dini, hingga dipercaya menjadi Sekretaris PC Himpaudi Tegowanu.
Semua itu ia lakukan dengan satu tujuan, menghadirkan pendidikan yang lebih dekat dan hangat bagi anak-anak desa.
Jalan Menuju Konferensi
Kesempatan melihat dunia muncul ketika ia bergabung dengan Yayasan Education Nusantara Indonesia, sebuah ruang belajar bagi pemuda yang ingin terhubung dengan komunitas global.
Dari sana, pintu menuju konferensi internasional di Universiti Malaya terbuka lebar.
Namun jalan menuju podium internasional tidak juga selalu mudah.
Beberapa hari sebelum keberangkatan, Nikma malah mengalami insiden kecil yang mengganggu kesehatannya.
Bahkan sehari sebelum tampil, ia dilanda keraguan besar.
“Saya hampir menyerah. Tapi saya ingat, kesempatan ini tidak datang dua kali. Jadi meski sakit, saya harus tetap maju,” ungkap Nikma.
Berdiri Tegak Meski Berjuang Menahan Nyeri
Ketika hari konferensi tiba, semua kecemasan seolah luruh.
Dengan kondisi tubuh yang belum sepenuhnya pulih, ia tetap berdiri tegak di podium.
Penuh keyakinan, ia berbicara di hadapan peserta dari berbagai negara.
Rasa percaya diri berhasil membalut rasa nyeri yang sesungguhnya masih mengganggu.
Wajahnya yang lembut dan tenang, dan pemikiran yang disampaikan Nikma, mampu membuat audien terkesima.
Karenanya, penderitaan itu terbayar.
“Saat melihat peserta dari berbagai negara sangat antusias menyimak penyampaian saya, saya merasa semua perjuangan terbayar. Rasanya seperti mimpi,” tambahnya.
Bagi Nikma, momen itu bukan sekadar prestasi.
Ia menyebutnya sebagai pengalaman spiritual—pengingat bahwa setiap langkah selalu mendapat pertolongan tepat waktu selama seseorang tidak pernah menyerah.
Gagasan Besar Nikma di Panggung Internasional
Di hadapan delegasi dari berbagai negara itu, Nikma tidak sekadar menyampaikan materi.
Ia mengusung gagasan yang sangat visioner, membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini melalui konsep Little Green Steps.
Baginya, perubahan dunia tidak selalu lahir dari kebijakan besar atau teknologi tinggi—tetapi justru dari langkah-langkah kecil yang dibiasakan sejak kanak-kanak.
Ia menegaskan bahwa satu anak yang terbiasa membawa botol minum sendiri, memilah sampah, atau merawat tanaman, pada dasarnya sedang belajar cinta bumi dengan cara yang paling sederhana, namun paling melekat.
Lebih jauh, Nikma mengaitkan konsep ini dengan SDG 12 atau Sustainable Consumption and Production.
Ia memaparkan bagaimana pendidikan anak usia dini selama ini terlalu fokus pada aspek akademik, padahal sejatinya PAUD seharusnya menjadi ruang emas untuk menanamkan karakter ekologis.
Karenanya, Nikma mengajak dunia untuk melihat ulang proses belajar di usia dini—bahwa seni, sains, matematika, sampai literasi bisa menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran lingkungan melalui aktivitas sehari-hari.
Pendekatannya holistik dan kontekstual yang ditawrakannya adalah belajar dari hidup, untuk kehidupan yang lebih baik.
Di panggung itu pula, Nikma menunjukkan kualitas pemikirannya yang matang dan terstruktur.
Menjawab Tantangan Nyata
Ia tak hanya bicara soal urgensi, tetapi juga merinci tantangan nyata seperti budaya plastik sekali pakai, minimnya fasilitas daur ulang, hingga kurangnya kolaborasi rumah–sekolah.
Lalu, dengan bahasa yang runtut dan data yang terukur, ia menawarkan solusi yang bisa langsung diterapkan: mulai dari One Child, One Good Habit, Bank Sampah Mini, hingga Mini School Garden yang melibatkan anak, guru, dan orang tua.
Delegasi dari berbagai negara terlihat terkesan—bukan hanya pada isi pikirannya, tetapi pada kemampuannya mengemas gagasan kompleks menjadi sederhana dan menggugah.
Puncaknya, Nikma menutup pidatonya dengan pesan reflektif bahwa masa depan bumi tidak akan berubah jika manusia dewasa terus menunda langkah kecil. Luar biasa, ya?
Inspirasi dari Tanah Grobogan
Kini, nama Nikma Zulia Rahma menjadi inspirasi baru bagi para pendidik dan pemuda di Grobogan.
Kisah dan pemikirannya mengalir dari mulut ke mulut, menjadi bukti bahwa tempat asal bukanlah batas, dan mimpi tak pernah menanyakan dari mana seseorang memulai.
Ia tumbuh dari desa kecil, namun mimpinya melangkah ke panggung internasional.
Ia jatuh sakit sebelum tampil, namun keteguhannya untuk berdiri menyampaikan pemikiran di podium internasional, tak pernah terhenti.
Perjalanan Nikma adalah pengingat bahwa langkah baik—betapapun kecil—akan menemukan jalannya sendiri.
Dan untuk setiap pemuda yang masih ragu, Nikma telah membuktikan bahwa dunia selalu membuka ruang bagi mereka yang berani bermimpi dan terus melangkah. ***




