POJOKSATU.id – Pemanfaatan bahan baku lokal menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap komoditas impor.

Melalui inovasi teknologi pangan, potensi tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern.

Hal itu menjadi pembahasan dalam kegiatan CEO School yang merupakan bagian dari rangkaian Agromaritim Sociopreneur Academy (ASA) 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPAAI) IPB University.

Baca Juga: Beasiswa Kedokteran Full ke Jepang Dibuka, Dapat Dana hingga Rp3 Miliar dan Uang Saku Bulanan

Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh materi mengenai inovasi pangan berbasis bahan baku lokal bersama CV Nawasena Pangan Kreatif dengan narasumber Fathkia Fitriatunnisa.

Kegiatan ini memberikan wawasan mengenai peluang membangun startup pangan yang mampu menjawab tantangan kesehatan, ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal Indonesia.

MUGO Hadirkan Tepung Bebas Gluten Berbahan Lokal
Pada awal sesi, peserta diperkenalkan dengan MUGO, startup pangan inovatif yang mengembangkan gluten-free flour atau tepung bebas gluten berbasis 100 persen bahan baku lokal Indonesia.

Baca Juga: Alasan Sakit, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Mangkir Panggilan Kedua Tim 9 Kejagung

Mengusung slogan "Inspired by Nature, Perfected by Innovation", MUGO menghadirkan produk tepung yang lebih sehat, praktis, dan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, UMKM, hingga industri pangan.

Inovasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung diversifikasi pangan nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah berbagai komoditas lokal.

Mengenal Manfaat Produk Gluten-Free
Dalam pemaparannya, Fathkia Fitriatunnisa menjelaskan latar belakang pengembangan produk gluten-free.

Gluten merupakan protein alami yang terdapat pada gandum, barley, dan rye yang berfungsi memberikan tekstur elastis pada adonan.

Baca Juga: Bandung Raya Siaga Kriminalitas: Jam Malam Pelajar Dipatenkan, Polisi Bersenjata Disebar di Titik Rawan

Namun, bagi penderita penyakit celiac, alergi gandum, maupun individu yang memiliki sensitivitas terhadap gluten, konsumsi protein tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan sehingga produk bebas gluten menjadi alternatif yang lebih aman.

Melalui inovasi ini, peserta memahami bagaimana kebutuhan kesehatan dapat menjadi peluang lahirnya produk pangan inovatif.

Jawab Tantangan Ketahanan Pangan
Selain aspek kesehatan, materi juga membahas berbagai tantangan yang melatarbelakangi lahirnya MUGO.

Meningkatnya permintaan terhadap pangan sehat, tingginya ketergantungan Indonesia pada gandum impor, serta kebutuhan masyarakat akan produk yang praktis menjadi peluang besar bagi pengembangan tepung berbasis bahan baku lokal.

Baca Juga: Media Sosial dan Remaja Jadi Sorotan, MUI Dorong Penguatan Literasi Digital serta Peran Keluarga

MUGO menawarkan solusi melalui produk yang mudah diolah, memiliki harga yang terjangkau, dan memanfaatkan sepenuhnya sumber daya lokal Indonesia.

Pendekatan tersebut sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan nasional melalui diversifikasi bahan pangan.

Kembangkan Beragam Produk Herbal
Tidak hanya mengembangkan tepung bebas gluten, MUGO juga memperkenalkan berbagai inovasi produk lainnya.

Perusahaan mengembangkan minuman herbal melalui Ginger Series dan Tisane Series yang memanfaatkan kekayaan tanaman herbal lokal Indonesia.

Baca Juga: Terungkap, Ini Yang Dikatakan Messi ke Lamine Yamal Usai Final Piala Dunia 2026

Diversifikasi produk tersebut menunjukkan komitmen perusahaan dalam menghadirkan inovasi pangan yang sesuai kebutuhan pasar sekaligus memperluas pemanfaatan hasil pertanian lokal.

Bangun Bisnis Melalui Kolaborasi
Peserta juga diajak memahami nilai dan budaya kerja yang menjadi fondasi pengembangan bisnis MUGO.

Perusahaan mengedepankan empat nilai utama, yaitu inovasi, kualitas, fokus pada pelanggan, dan kolaborasi.

Dalam menjalankan usahanya, MUGO membangun kemitraan dengan petani, UMKM, akademisi, pemerintah, serta pelaku industri untuk memperkuat ekosistem pangan nasional dan memperluas dampak inovasi.

Baca Juga: China Open 2026: 7 Wakil Indonesia Tampil di 16 Besar, Ini Jadwal Lengkapnya

Startup Pangan Butuh Sistem Bisnis yang Kuat
Materi juga menekankan bahwa keberhasilan startup pangan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk.

Pengelolaan operasional, optimalisasi sumber daya, strategi scale-up, pengembangan kemitraan, hingga proses produksi, distribusi, dan pemasaran menjadi bagian penting dalam membangun perusahaan yang mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Melalui sistem bisnis yang terintegrasi, sebuah startup akan lebih siap menghadapi persaingan sekaligus menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, peserta CEO School memperoleh pemahaman bahwa inovasi pangan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat, memanfaatkan potensi sumber daya lokal, serta dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Pembelajaran tersebut diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk mengembangkan startup agribisnis yang inovatif, berkelanjutan, dan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan Indonesia. ***