POJOKSATU.id – Limbah industri tidak selalu berakhir menjadi sampah.
Dengan inovasi dan strategi bisnis yang tepat, hasil samping produksi justru dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang mampu membuka peluang usaha baru sekaligus mendukung keberlanjutan industri.
Konsep tersebut dipelajari peserta CEO School dalam rangkaian Agromaritim Sociopreneur Academy (ASA) 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPAAI) IPB University.
Baca Juga: Besok Panggilan Ketiga Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Kejagung Telah Terbitkan Sprindik Baru
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 2 Juli 2026, di PT Fisnack Inovasi Pangan ini menghadirkan Founder PT Fisnack Inovasi Pangan, Wiko Puji Susanto, sebagai narasumber dengan materi bertajuk Dari Hasil Samping Industri Perikanan: Inovasi Pengembangan Produk.
Melalui sesi tersebut, peserta memperoleh wawasan mengenai strategi membangun produk inovatif yang memiliki nilai tambah melalui pemanfaatan hasil samping industri perikanan.
Berawal dari Melihat Peluang di Balik Limbah
Pada awal kegiatan, peserta diperkenalkan dengan perjalanan PT Fisnack Inovasi Pangan dan kisah Wiko Puji Susanto dalam membangun bisnis berbasis inovasi.
Baca Juga: Beasiswa Kedokteran Full ke Jepang Dibuka, Dapat Dana hingga Rp3 Miliar dan Uang Saku Bulanan
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya bergantung pada ide yang menarik, tetapi juga kemampuan melihat peluang dari persoalan yang ada di sekitar.
Salah satu contohnya adalah pemanfaatan limbah kulit ikan dari industri fillet dori yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui proses inovasi, bahan tersebut diolah menjadi camilan bernilai ekonomi tinggi dengan potensi pasar yang luas.
Memahami Tahapan Pengembangan Produk
Dalam sesi materi, Wiko memaparkan tahapan pengembangan produk yang dimulai dari identifikasi masalah, pencarian sumber inovasi, pengembangan fitur dan layanan, diversifikasi produk, hingga penyusunan roadmap pengembangan bisnis secara berkelanjutan.
Baca Juga: Alasan Sakit, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Mangkir Panggilan Kedua Tim 9 Kejagung
Peserta juga diperkenalkan dengan proses produksi Fisnack, mulai dari tahap preparasi bahan baku, penggorengan, hingga pengemasan yang dilakukan sesuai standar mutu dan keamanan pangan.
Melalui pendekatan tersebut, peserta memahami bahwa inovasi produk memerlukan proses yang sistematis, mulai dari riset hingga siap dipasarkan.
Kulit Ikan Diolah Jadi Camilan Bergizi
Wiko menjelaskan bahwa inovasi Fisnack lahir dari pemanfaatan hasil samping industri fillet ikan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
Dengan teknologi pengolahan yang tepat, kulit ikan dapat diubah menjadi camilan bergizi yang mengandung protein, omega-3, dan kalsium dalam jumlah tinggi.
Produk tersebut juga dirancang memiliki karakteristik tidak berbau amis dan tidak berminyak sehingga memberikan nilai tambah dibandingkan produk sejenis.
Menurut Wiko, inovasi harus selalu berorientasi pada kebutuhan pasar.
"Belum tentu produk inovasi diterima oleh market. Karena itu, sebuah produk harus mampu menjawab kebutuhan konsumen dan memiliki keunggulan yang jelas dibandingkan produk lainnya," ujarnya.
Standar Mutu Jadi Penentu Kepercayaan Konsumen
Selain inovasi produk, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga standar mutu dalam proses produksi.
Baca Juga: Menlu AS Akui Pertahanan Udaranya Bocor, Iran Miliki Teknologi Rudal Canggih
Penerapan standar produksi bertujuan menjamin keamanan konsumen, menjaga konsistensi kualitas, memenuhi ketentuan regulasi, serta meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Wiko menegaskan bahwa kualitas produk merupakan salah satu faktor utama dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap sebuah merek.
Strategi Pemasaran Bertumbuh dari Skala Kecil
Materi kemudian dilanjutkan dengan strategi pemasaran yang diterapkan Fisnack sejak awal berdiri.
Perjalanan bisnis dimulai dengan menawarkan produk secara langsung ke warung makan, mengikuti berbagai bazar, memperluas distribusi ke toko oleh-oleh dan ritel modern, membangun jaringan agen serta reseller, hingga memanfaatkan pemasaran digital melalui berbagai platform online.
Baca Juga: Media Sosial dan Remaja Jadi Sorotan, MUI Dorong Penguatan Literasi Digital serta Peran Keluarga
Ia juga menekankan bahwa desain kemasan memiliki peran penting dalam menentukan saluran pemasaran yang tepat dan meningkatkan daya tarik produk di mata konsumen.
Menutup sesi, Wiko memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar berani mewujudkan gagasan menjadi bisnis yang nyata.
"Ide tanpa eksekusi adalah halusinasi. Usaha tanpa strategi hanya membuang energi," pesannya.
Melalui kegiatan ini, peserta CEO School diharapkan memahami pentingnya inovasi produk, pemanfaatan hasil samping industri, penerapan standar mutu, serta penyusunan strategi pemasaran yang efektif sebagai bekal membangun bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat maupun sektor perikanan Indonesia.***




