POJOKSATU.id - Seleksi kompetensi dalam rekrutmen Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) menjadi tahap penentu bagi para peserta yang ingin melangkah ke fase berikutnya.
Ujian yang digelar pada 3 hingga 12 Mei 2026 ini tidak hanya menguji kemampuan dasar, tetapi juga menuntut peserta memenuhi standar nilai minimum yang telah ditetapkan panitia.
Dalam skema seleksi berbasis Computer Assisted Test (CAT) yang digunakan oleh Badan Kepegawaian Negara, terdapat dua komponen utama yang diujikan, yakni tes potensi kognitif serta tes manajemen sesuai bidang masing-masing formasi.
Kedua jenis tes ini memiliki peran berbeda dalam menentukan kelulusan peserta.
Baca Juga: Tangis Pasutri Korban Longsor Pangalengan Pecah Saat Terima Rumah dari Bupati Bandung
Tes potensi kognitif menjadi komponen yang paling krusial karena memiliki nilai ambang batas atau passing grade.
Pada seleksi tahun 2026, peserta diwajibkan meraih skor minimal 110 untuk dapat tetap bersaing dalam proses pemeringkatan.
Nilai tersebut menjadi garis batas awal yakni siapa pun yang tidak mencapainya otomatis tersingkir, tanpa melihat hasil pada komponen lainnya.
Materi dalam tes potensi kognitif mencakup beragam aspek kemampuan dasar, mulai dari bahasa, numerik, pengetahuan umum, hingga penalaran visual seperti pola gambar dan abstraksi ruang.
Baca Juga: Pemkot Bandung Gaspol Perbaiki Jalan! 10 Titik Sudah Dikerjakan, Hotmix Dilakukan Tengah Malam
Seluruh soal dikerjakan dalam waktu terbatas, sehingga tidak hanya akurasi, tetapi juga kecepatan berpikir menjadi faktor penting.
Sementara itu, tes manajemen berfungsi sebagai pelengkap yang mengukur kompetensi teknis peserta.
Untuk formasi KDKMP, materi berfokus pada tata kelola koperasi, pengelolaan usaha, hingga pelayanan anggota.
Adapun bagi peserta KNMP, pengujian diarahkan pada aspek kelautan dan perikanan, termasuk pengelolaan sumber daya dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Baca Juga: Sisi Gelap Ponpes Ndholo Kusumo Pati, Jika Santriwati Hamil, Maka Santri Laki-laki yang Menutup Aib
Berbeda dengan tes potensi kognitif, komponen manajemen tidak memiliki nilai ambang batas khusus.
Meski demikian, perolehan nilainya tetap berpengaruh besar dalam menentukan posisi peserta di papan peringkat.
Setiap jawaban benar umumnya bernilai penuh, sementara jawaban salah tidak mendapat poin.
Kelulusan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan melewati passing grade.
Baca Juga: Kisah 4 Penumpang ALS Selamat dari Kobaran Api Usai Tabrakan dengan Truk Tanki BBM di Sumsel
Peserta juga harus mampu menembus peringkat terbaik, yakni maksimal tiga kali jumlah formasi yang tersedia.
Artinya, persaingan tidak berhenti pada sekadar lolos ambang batas, tetapi berlanjut pada adu skor antar peserta.
Dalam kondisi tertentu, kesamaan nilai dapat terjadi.
Untuk itu, panitia telah menetapkan mekanisme penentuan lanjutan.
Pada formasi koperasi, prioritas diberikan kepada peserta dengan nilai tes manajemen lebih tinggi, diikuti IPK, lalu usia.
Sementara pada formasi kampung nelayan, selain nilai manajemen, kepemilikan sertifikat kompetensi di bidang terkait juga menjadi faktor pembeda sebelum mempertimbangkan IPK dan usia.
***



