POJOKSATU.id - Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern.

Posisi strategis ini menguat setelah tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University dari Australia berhasil mengungkap seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun.

Temuan monumental tersebut berasal dari situs Leang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Baca Juga: 15 Ide Jualan Paket Takjil Hemat untuk Keluarga di Ramadan 2026, Laris dan Menguntungkan

Publikasi hasil riset ini dimuat dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”, sekaligus mencatatkan salah satu bukti seni simbolik tertua yang pernah ditemukan di dunia.

BRIN menegaskan perannya dalam mendukung riset arkeologi melalui publikasi temuan terbaru terkait pertanggalan seni cadas tertua di wilayah Sulawesi Tenggara.

Penemuan ini tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta riset global tentang asal-usul ekspresi simbolik manusia.

Baca Juga: Airlangga Education Expo 2026, Jadi Ajang Strategis Kenalkan Kampus UNAIR ke Calon Mahasiswa

Hasil studi tersebut diumumkan secara resmi dalam konferensi pers bertajuk “Temuan Terbaru Pertanggalan Gambar Cadas Tertua di Sulawesi Bagian Tenggara” yang digelar di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Konferensi ini menjadi momentum penting bagi dunia arkeologi nasional untuk menunjukkan kontribusi Indonesia dalam riset berkelas dunia.

Peran Strategis BRIN dalam Riset Arkeologi
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, menyatakan bahwa capaian ini mencerminkan peran strategis BRIN dalam memperkuat riset ilmu sosial humaniora, khususnya arkeologi, sebagai bagian dari pengelolaan warisan budaya berbasis sains.

Baca Juga: Tak Boleh Dihuni Lagi, Pemprov Jabar Kembalikan Lokasi Longsor Cisarua Jadi Hutan

“Publikasi di jurnal Nature menunjukkan bahwa riset ini telah melalui proses ilmiah yang kuat,” ujar Herry seperti dikutip dari Brin.go.id.

Menurutnya, capaian tersebut bukan sekadar pengakuan internasional, tetapi juga bukti bahwa riset arkeologi Indonesia mampu bersaing dan berkontribusi pada diskursus ilmiah global.

Tantangan Pelestarian Warisan Budaya
Herry menegaskan bahwa publikasi di jurnal Nature bukanlah titik akhir dari perjalanan riset ini.

Baca Juga: Pemprov Jabar Kebut Penanganan Longsor Cisarua, Internet Satelit dan Drone Diturunkan

Justru, temuan tersebut menjadi awal dari tanggung jawab bersama untuk menjaga dan mengelola warisan budaya yang tak tergantikan.

“Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga temuan-temuan ini,” kata Herry.

Ia menjelaskan bahwa BRIN berada di wilayah hulu, yakni riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Sementara itu, aspek pelestarian dan pemanfaatan berada di bawah kewenangan Kementerian Kebudayaan.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Sentil MUI: Jangan Diam Saat Alam Rusak dan Rakyat Kecil Terjepit

Pembagian peran ini, menurut Herry, sudah jelas dan harus dijalankan secara kolaboratif agar situs-situs bersejarah tersebut tetap lestari.

Kolaborasi Jangka Panjang Jadi Kunci
Lebih lanjut, Herry menilai temuan ini menegaskan pentingnya riset kolaboratif jangka panjang yang ditopang oleh ekosistem riset yang kuat.

Ekosistem tersebut mencakup ketersediaan sumber daya manusia, pendanaan berkelanjutan, serta infrastruktur riset yang memadai.

Baca Juga: Pemprov Jabar Kebut Penanganan Longsor Cisarua, Internet Satelit dan Drone Diturunkan

BRIN, kata dia, terus mendorong penguatan talenta melalui berbagai skema, seperti magang riset, degree by research, program postdoktoral, hingga visiting researcher.

Kerja sama internasional juga menjadi bagian penting dari strategi ini, termasuk kolaborasi berkelanjutan dengan universitas di Australia.

Baca Juga: Sekolah Kedinasan Poltek SSN Dibuka! Kuliah Gratis, Lulus Langsung Jadi ASN Siber Negara

Selain itu, riset seni cadas di Sulawesi ini turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan nasional, antara lain Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, serta Institut Teknologi Bandung.

Sinergi lintas institusi ini menjadi fondasi kuat bagi keberhasilan riset.

Implikasi Kebijakan dan Peran Daerah
BRIN juga menilai peran pemerintah daerah dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) sangat krusial dalam mengelola serta mensinergikan kegiatan riset di wilayah.

Baca Juga: Tak Bisa Jawab Pertanyaan Survei, Warga Langsung Naik ke Desil 6? Begini Mekanisme Data Dinsos

Temuan sebaran seni cadas Pleistosen di kawasan karst Sulawesi membawa implikasi kebijakan yang luas, terutama dalam konteks perlindungan lingkungan dan warisan budaya.

Para peneliti menyerukan agar kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba diintegrasikan ke dalam perencanaan tata ruang serta kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

Perlindungan kawasan ini dinilai penting agar nilai ilmiah dan kulturalnya tidak tergerus oleh aktivitas yang merusak.

Baca Juga: Banjir Langganan di Sukamakmur, DPRD Karawang Minta Solusi Permanen

“Temuan signifikan seperti ini hanya bisa lahir dari kolaborasi riset jangka panjang yang saling memperkuat kapasitas,” ujar Herry.

Publikasi di Nature ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam peta ilmu pengetahuan global, tetapi juga menegaskan komitmen BRIN dalam mendukung riset unggulan yang berdampak ilmiah dan strategis. ***