POJOKSATU.id — Sekolah Rakyat resmi menerapkan sistem multi-entry dan multi-exit.
Sebuah pendekatan fleksibel yang memungkinkan siswa masuk dan lulus kapan saja, tanpa terikat kalender akademik Juli–Juni seperti sekolah konvensional.
Konsep ini diharapkan menjadi terobosan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang selama ini terhambat akses pendidikannya akibat rigiditas sistem formal.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa siswa Sekolah Rakyat tidak perlu masuk bersamaan di awal tahun ajaran.
Mereka bisa memulai pendidikan kapan pun, menyesuaikan dengan kesiapan akademik maupun kondisi sosial-budaya masing-masing.
Hal ini memungkinkan proses belajar berjalan lebih personal dan responsif terhadap kebutuhan siswa.
Konsep multi-exit yang diusung Sekolah Rakyat pun tak kalah menarik. Siswa diberi ruang untuk lulus lebih cepat jika telah memenuhi capaian kompetensi yang ditetapkan.
Sebaliknya, mereka yang memerlukan waktu lebih lama tetap difasilitasi hingga mampu mencapai standar kelulusan yang diharapkan.
Hal ini menjadikan pendidikan tidak lagi berpacu pada durasi belajar, melainkan pada substansi penguasaan materi.
Keunggulan model ini jelas terasa bagi anak-anak dari keluarga migran, anak putus sekolah, atau yang selama ini tertinggal karena sistem pendidikan formal tak memberi ruang fleksibilitas.
Sekolah Rakyat menawarkan pembelajaran individual yang menyesuaikan kondisi sosial, latar belakang pendidikan, hingga kemampuan personal siswa.
Baca Juga: 13 Kampus Indonesia Disorot Soal Riset, UI hingga ITB Masuk Daftar Pengawasan
Dengan demikian, anak-anak tidak perlu lagi menunggu tahun ajaran baru untuk bisa kembali belajar.
Begitu siap, mereka langsung bisa bergabung dan mengikuti proses belajar sesuai kecepatan masing-masing.
Namun, penerapan sistem ini bukan tanpa tantangan. Konsep multi-exit tidak berarti siswa bisa keluar kapan saja tanpa pertimbangan akademis.
Kelulusan tetap harus melewati capaian pembelajaran yang terukur dengan proses pendidikan berbasis asrama agar karakter dan kompetensi siswa terbentuk secara utuh.
Seleksi siswa pun cukup ketat. Sekolah Rakyat hanya menerima anak-anak dari keluarga desil 1–2 sesuai data Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Ekstrem Nasional (DTSEN) dan Dapodik.
Anak-anak yang sudah tercatat di sekolah formal tidak menjadi prioritas program ini.
Dengan sistem berbasis data ini, Sekolah Rakyat berfokus pada anak-anak yang benar-benar belum tersentuh layanan pendidikan formal secara layak.
Konsep multi-entry dan multi-exit di Sekolah Rakyat memang menjadi model pembelajaran baru yang inklusif, tetapi tetap terukur.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
Dengan mengedepankan fleksibilitas tanpa mengorbankan kualitas, model ini diharapkan bisa menjadi solusi nyata bagi pemerataan akses pendidikan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.***




