POJOKSATU.id — Tak semua kelas punya guru. Tak semua siswa bisa belajar Matematika atau Bahasa Inggris dari pengajarnya sendiri.
Di banyak pelosok negeri, mapel krusial seperti IPA dan Bahasa Indonesia ternyata masih kosong. Lalu, kemana guru PPPK 2025 akan ditempatkan?
Pemerintah kini berpacu dengan waktu untuk mengisi kekosongan guru yang telah lama menjadi benang kusut pendidikan nasional.
Data Kemendikbudristek menyebutkan masih ada sekitar 679 ribu kekurangan guru secara nasional per akhir 2024.
Bahkan ada proyeksi kebutuhan hingga 1,3 juta guru di tahun 2025 jika dihitung termasuk yang pensiun dan distribusi tidak merata.
Baca Juga: ALHAMDULILAH! Penetapan NIP PPPK Paruh Waktu Dijadwalkan Awal Desember 2025
Fokus pada Mapel Krusial
Kekosongan terbanyak terjadi pada mata pelajaran inti:
-
Matematika
-
Bahasa Indonesia
-
IPA
-
Bahasa Inggris
Banyak sekolah yang masih belum memiliki guru tetap untuk mata pelajaran ini.
Pemerintah pun menetapkan bahwa formasi guru PPPK 2025 akan diarahkan secara khusus untuk mapel ini, karena dianggap paling strategis dalam meningkatkan mutu belajar siswa di seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Penempatan Prioritas di Daerah 3T
Kekosongan guru paling terasa di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Lokasi yang sulit dijangkau, keterbatasan sarana, dan jauhnya akses membuat banyak guru enggan bertugas di sana.
Daftar wilayah 3T 2025 mengacu pada daftar afirmasi dari LPDP dan mencakup lebih dari 120 kabupaten/kota dari Aceh hingga Papua seperti:
-
Kabupaten Nias Utara (Sumut)
-
Kabupaten Sumba Barat Daya (NTT)
-
Kabupaten Mahakam Ulu (Kaltim)
-
Kabupaten Tambrauw (Papua Barat Daya)
-
Kabupaten Kepulauan Sangihe (Sulut)
-
Kabupaten Mamberamo Raya (Papua)
Formasi PPPK akan dialokasikan untuk daerah-daerah ini secara prioritas.
Pemerintah juga mendorong redistribusi guru secara nasional agar tidak ada lagi wilayah yang dibiarkan kosong tanpa tenaga pendidik tetap.
Siapa yang Diprioritaskan?
Tidak semua bisa langsung ditempatkan.
Pemerintah menetapkan kelompok guru yang akan mendapat prioritas dalam seleksi PPPK tahun ini:
-
Guru honorer lama yang tercatat di Dapodik dan telah lama mengajar di sekolah negeri.
Mereka dinilai siap terjun tanpa banyak adaptasi. -
Lulusan PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang belum memiliki status tetap, tapi telah memiliki bekal kompetensi mengajar.
-
Pelamar yang bersedia ditempatkan di daerah 3T dan mengajar mapel krusial.
Mereka yang memenuhi syarat di atas akan memiliki peluang besar untuk masuk dalam formasi tahun ini.
Sekolah Rakyat Jadi Cermin Kebutuhan
Belakangan, model sekolah rakyat atau ruang belajar kembali bermunculan di daerah padat dan terpencil.
Bukan karena ingin membuat sekolah tandingan, tapi karena kekosongan guru di sekolah formal belum tertutupi.
Komunitas, tokoh adat, dan bahkan warga biasa, membentuk ruang belajar sederhana agar anak-anak tetap bisa membaca dan berhitung.
Fenomena ini menjadi alarm: pemerintah harus mempercepat penempatan guru PPPK, agar akses pendidikan benar-benar menyentuh seluruh anak Indonesia.
Formasi Disusun Berdasar Kebutuhan Daerah
Formasi PPPK 2025 tidak lagi ditentukan sepihak oleh pusat, tapi berdasar usulan pemerintah daerah, yang memperhitungkan:
-
Jumlah guru yang pensiun
-
Kekosongan guru berdasarkan mapel dan wilayah
-
Sebaran guru yang timpang antara desa dan kota
Dengan begitu, penempatan guru benar-benar tepat sasaran dan tak lagi mengulang kesalahan distribusi masa lalu.
Baca Juga: Rekrutmen ASN Fokus PPPK, Tapi Hanya Tiga Instansi Buka Formasi PPPK 2025, Kemana Guru Disalurkan?
Mekanisme Penempatan PPPK Guru 2025:
| Mekanisme Penempatan | Penjelasan |
|---|---|
| Fokus Mapel | Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, Bahasa Inggris |
| Prioritas Wilayah | Daerah 3T sesuai daftar LPDP dan kebutuhan daerah |
| Kelompok Pelamar | Honorer lama (Dapodik), lulusan PPG, pelamar bersedia ke 3T |
| Dasar Usulan | Data real dari pemda: pensiun, distribusi, kekosongan |
| Penyesuaian Formasi | Sesuai kuota nasional dan mekanisme optimalisasi |
Di balik angka-angka ini, ada anak-anak yang menunggu.
Di balik formasi, ada ibu-ibu guru yang tetap mengajar meski belum punya NIP. Dan di balik daftar 3T itu, ada semangat negeri yang tidak ingin tertinggal dalam pendidikan.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Usung Tiga Kurikulum, Mari Kita Bedah
Semoga penempatan tahun ini benar-benar menyentuh titik-titik kosong, terutama di mapel krusial dan wilayah yang paling membutuhkan.
Bagaimana menurut bapak ibu? Adakah tanggapan atau pengalaman di lapangan yang bisa dibagi?
Tulis di kolom komentar ya.
Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami:
-
Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Rifki Setiadi




