POJOKSATU.id - Pemerintah mulai mempersiapkan penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di Madrasah Ibtidaiyah (MI) mulai tahun ajaran 2027/2028. Kebijakan ini berlaku bagi siswa kelas 3 hingga kelas 6.

Menteri Agama Nasaruddin Umar membenarkan rencana tersebut.

Untuk mendukung kesiapan madrasah, Kementerian Agama (Kemenag) menjalin kerja sama dengan British Council melalui program penguatan kompetensi guru dan peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris.

“Mulai tahun ajaran 2027 hingga 2028, bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa kelas 3 hingga 6 di madrasah.

Madrasah membutuhkan persiapan yang matang, khususnya dalam memperkuat kompetensi guru dan peningkatan metode pembelajaran,” tuturnya.

Pernyataan tersebut disampaikan saat peluncuran program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP) di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).

Kemenag Perkuat Kompetensi Guru Bahasa Inggris MI

Melalui STEPS-CoP, Kemenag berharap madrasah memiliki kesiapan yang memadai untuk memberikan pembelajaran bahasa Inggris yang bermakna dan efektif.

Nasaruddin menekankan, pengembangan profesional guru tidak cukup hanya mengandalkan pelatihan yang dilakukan sesekali.

Guru membutuhkan proses belajar berkelanjutan, kolaborasi, dan kesempatan untuk memperluas pengalaman mengajar.

“Hal ini membutuhkan pembelajaran berkelanjutan, kolaborasi, dan kesempatan untuk memperluas pengalaman,” katanya.

Menurut Nasaruddin, guru juga perlu memiliki ruang untuk berbagi praktik baik, membahas tantangan yang dihadapi di kelas, serta mempelajari pendekatan baru dalam mengajar.

“Saya berharap ini akan menjadi katalisator perubahan positif, membantu membangun komunitas di mana para guru merasa termotivasi untuk belajar, berkolaborasi, dan terus meningkatkan praktik pengajaran mereka,” imbuh Menag.

Pendekatan tersebut diharapkan membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mempersiapkan siswa menghadapi penerapan mata pelajaran bahasa Inggris di madrasah.

British Council Soroti Kesiapan Guru

Country Director Indonesia sekaligus Director Southeast Asia British Council, Summer Xia, menyambut upaya pemerintah dalam memperkuat pendidikan bahasa Inggris sejak jenjang dasar.

Ia menilai, penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di madrasah membutuhkan persiapan khusus, terutama dalam memastikan pendidik memperoleh dukungan yang memadai.

“Melalui STEPS-CoP, kami memadukan keahlian global British Council dengan pengetahuan dan pengalaman para pendidik Indonesia untuk membangun model pengembangan profesional yang dapat diperluas dan berkelanjutan.

Dengan mendorong guru untuk saling belajar dan memimpin perubahan di komunitas masing-masing, kami ingin memastikan bahwa semakin banyak anak mendapatkan pendidikan bahasa Inggris berkualitas, di mana pun mereka tinggal dan apa pun latar belakang mereka,” ujar Summer Xia.

Ia berharap pembelajaran bahasa Inggris sejak dini dapat menjadi fondasi bagi siswa untuk tumbuh dan berpartisipasi dalam dunia yang semakin terhubung.

Namun, kesiapan menghadapi kebijakan tersebut tidak cukup hanya dengan memasukkan bahasa Inggris ke dalam kurikulum.

Kualitas pembelajaran juga bergantung pada kemampuan guru dalam menyampaikan materi dan membangun pengalaman belajar yang efektif.

“Kualitas pengalaman belajar siswa pada akhirnya sangat bergantung pada kesiapan orang yang berada di depan kelas, yaitu para guru,” imbuhnya.

STEPS-CoP Sasar Lebih dari 5.000 Guru MI

Program STEPS-CoP akan diawali dengan pelatihan Training of Trainers (ToT) bagi 68 pemimpin Community of Practice (CoP).

Para pemimpin komunitas tersebut selanjutnya akan memberikan pelatihan kepada lebih dari 5.000 guru bahasa Inggris dan guru kelas MI yang tersebar di 34 kabupaten/kota.

Program ini dirancang untuk membangun komunitas belajar bagi para guru agar mereka dapat terus mengembangkan kompetensi, bertukar pengalaman, dan menemukan solusi atas tantangan pembelajaran di kelas.

Melalui kolaborasi tersebut, Kemenag dan British Council berupaya memastikan guru memperoleh ruang, dukungan, serta kesempatan untuk meningkatkan kemampuan mengajar sebelum kebijakan bahasa Inggris wajib diterapkan.

Persiapan ini menjadi penting karena keberhasilan kebijakan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh perubahan kurikulum, tetapi juga oleh kesiapan guru yang mendampingi siswa setiap hari.

Dengan dukungan dan pengembangan kompetensi yang berkelanjutan, pembelajaran bahasa Inggris di madrasah diharapkan menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk memperluas pengetahuan, membangun kepercayaan diri, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan. ***