POJOKSATU.id - Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib bagi murid sekolah dasar (SD), madrasah ibtidaiyah (MI), dan sederajat mulai tahun ajaran 2027/2028.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan kebijakan tersebut mulai diterapkan pada kelas 3 SD sebagai bagian dari upaya membangun kemampuan bahasa asing sejak dini.

“Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib yang mulai diajarkan pada tahun akademik 2027/2028, mulai kelas 3 SD,” kata Mu'ti saat memaparkan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat malam, 2 Oktober 2026.

Baca Juga: 332 Anak Muda Indonesia Lulus Beasiswa English Access, Bekal Bahasa Inggris untuk Masa Depan

Kebijakan ini merupakan bagian dari perubahan kurikulum yang menempatkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai tahun ajaran 2027/2028. 

Sebelumnya, Bahasa Inggris masih dapat menjadi mata pelajaran pilihan di jenjang SD.

Mulai Kelas 3, Berapa Jam Pelajarannya?

Bahasa Inggris wajib dimulai dari Fase B, yang mencakup kelas 3 dan 4 SD, kemudian berlanjut pada kelas 5 dan 6.

Dalam struktur pembelajaran, Bahasa Inggris dialokasikan 2 jam pelajaran (JP) per minggu. 

Dengan asumsi 36 minggu efektif, alokasi tersebut setara sekitar 72 JP dalam satu tahun.

Baca Juga: Danantara Pangkas 354 BUMN, Rosan Ungkap 52 Persen Perusahaan Masih Merugi

Satu JP pada jenjang SD berdurasi 35 menit. Sekolah dapat mengatur pembagian waktu tersebut sesuai kalender pendidikan dan pengorganisasian pembelajaran masing-masing.

Pemilihan kelas 3 sebagai awal pembelajaran wajib juga berkaitan dengan kesiapan fondasi murid. 

Memasuki Fase B, kemampuan membaca, menulis, dan berhitung murid diharapkan sudah lebih kuat sehingga pembelajaran Bahasa Inggris dapat diberikan secara lebih terarah.

Apa Tujuan Pembelajaran Bahasa Inggris?

Pembelajaran Bahasa Inggris di SD tidak diarahkan untuk membuat murid langsung menguasai tata bahasa yang kompleks.

Fokus awalnya adalah membangun keberanian berkomunikasi, pemahaman bahasa sederhana, dan kebiasaan menggunakan Bahasa Inggris dalam konteks sehari-hari.

Baca Juga: HUT ke-81 TNI, Sjafrie Sjamsoeddin Terima Bintang Mahaputera Adipurna dari Prabowo

Mu'ti menegaskan pembelajaran harus berlangsung secara komunikatif dan menyenangkan agar murid tidak takut melakukan kesalahan.

“Kita ingin membuat anak-anak ini belajar dengan gembira walaupun salah,” ujar Mu'ti.

Dengan arah tersebut, tujuan pembelajaran kelas 3 dapat mencakup kemampuan:

  • memahami instruksi sederhana;

  • menyapa dan memperkenalkan diri;

  • bertanya serta menjawab pertanyaan sederhana;

  • mengenali kosakata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari;

  • memahami gambar, kata, frasa, dan teks pendek;

  • menggunakan ungkapan sederhana dalam interaksi;

  • membangun keberanian berbicara meskipun masih melakukan kesalahan.

Baca Juga: Peluru Logam Bersarang di Mata Siswa SMA Garut, Ibu Korban Minta Anak Segera Dioperasi

Artinya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari kemampuan menghafal kosakata atau mengerjakan soal tata bahasa.

Gambaran Materi Kelas 3

Pada tahap awal, materi dapat dimulai dari tema yang dekat dengan kehidupan murid, seperti greetings, introductions, numbers, colours, family, classroom objects, daily activities dan lingkungan sekolah.

Pembelajaran kemudian berkembang menuju percakapan pendek, mendeskripsikan benda atau orang, memahami instruksi, serta menceritakan aktivitas sehari-hari dengan kalimat sederhana.

Dengan alokasi 2 JP per minggu, pembelajaran sebaiknya tidak didominasi ceramah dan hafalan. 

Guru dapat menggunakan permainan bahasa, kartu gambar, lagu, cerita pendek, dialog berpasangan, bermain peran, serta aktivitas komunikasi sederhana.

Baca Juga: Mitra Keracunan

Arah tersebut menempatkan Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi, bukan sekadar materi teori yang harus dihafalkan.

Kelas 3 dan 4 Fokus Fondasi Komunikasi

Pada kelas 3 dan 4, pembelajaran dapat diarahkan terutama untuk membangun fondasi listening dan speaking, kemudian diperkuat melalui kemampuan membaca dan memirsa teks sederhana.

Murid dapat dilatih memahami percakapan pendek, mengikuti instruksi, menjawab pertanyaan, melakukan dialog sederhana, serta memahami informasi dari gambar dan teks pendek.

Memasuki kelas 5 dan 6, kemampuan tersebut dapat diperluas melalui teks yang lebih beragam, tulisan pendek, presentasi sederhana, dan interaksi yang lebih kompleks.

Dengan pola bertahap tersebut, Bahasa Inggris tidak sekadar menjadi pelajaran hafalan, tetapi digunakan dalam aktivitas komunikasi.

Baca Juga: Buntut Penempatan Jauh, 969 Manajer Koperasi Merah Putih Tolak Penugasan, Agrinas Siapkan Relokasi

Guru Kelas Akan Dipersiapkan

Salah satu tantangan utama penerapan kebijakan ini adalah ketersediaan guru yang mampu mengajarkan Bahasa Inggris.

Mu'ti menjelaskan bahwa pada tahap awal pemerintah akan mengutamakan pelatihan bagi guru kelas agar mampu mengajarkan kemampuan dasar Bahasa Inggris.

Pengangkatan guru Bahasa Inggris secara khusus belum menjadi kebijakan utama, kecuali apabila kebutuhan tersebut masuk dalam formasi calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang dibuka.

Kemendikdasmen telah menjalankan Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) secara bertahap menjelang penerapan wajib pada 2027/2028.

Pelatihan tersebut tidak hanya menyasar kemampuan Bahasa Inggris, tetapi juga kompetensi pedagogis agar guru dapat menghadirkan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.

Baca Juga: 10 Bidang Studi dengan Mahasiswa Terbanyak di Indonesia, Pendidikan Teratas, Mahasiswa STEM Baru Sekitar 28 Persen

Kompetensi Guru Jadi Kunci

Kesiapan guru menjadi bagian penting sebelum Bahasa Inggris diterapkan sebagai mata pelajaran wajib.

Sekolah perlu mulai memetakan guru yang dapat mengikuti pelatihan, menyiapkan perangkat ajar, mengatur jadwal 2 JP per minggu, serta menyiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan usia murid.

Guru juga perlu memahami bahwa pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak SD berbeda dengan pembelajaran bahasa asing pada jenjang yang lebih tinggi. 

Aktivitas komunikasi, permainan, gambar, cerita, lagu, dan praktik sederhana lebih relevan untuk membangun fondasi bahasa.

Baca Juga: Kades Cianting Utara di Nonaktifkan Jabatannya, Berkali - Kali Lolos dari Jeratan Hukum Kini Apes Dipenjara

Asesmen Tidak Cukup dengan Hafalan

Rencana pembelajaran Bahasa Inggris SD juga perlu diikuti pola asesmen yang sesuai.

Guru dapat menilai kemampuan murid melalui praktik berbicara, memahami instruksi, menyimak percakapan, membaca teks pendek, mencocokkan informasi dengan gambar, serta menulis kalimat sederhana.

Kesalahan berbahasa pada tahap awal tidak seharusnya menjadi hambatan utama. 

Yang lebih penting adalah melihat perkembangan kemampuan murid dalam memahami dan menggunakan Bahasa Inggris sesuai tingkat perkembangannya.

Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran Bahasa Inggris diharapkan tetap ringan, komunikatif, dan menggembirakan.

Baca Juga: Tanggapi Fraksi DPRD Jember, Gus Fawait Pastikan Program Kesehatan Gratis dan Beasiswa Anak Petani Tepat Sasaran

Yang Perlu Disiapkan Sekolah

Sebelum kewajiban berlaku pada 2027/2028, sekolah dapat mulai menyiapkan:

  • pemetaan kompetensi guru;

  • pelatihan atau pengembangan kompetensi guru;

  • alokasi 2 JP Bahasa Inggris setiap minggu;

  • tujuan dan perangkat pembelajaran sesuai fase;

  • buku, media visual, audio, serta bahan bacaan sederhana;

  • metode pembelajaran yang komunikatif dan sesuai usia anak;

  • asesmen yang mengukur kemampuan menggunakan bahasa, bukan sekadar hafalan.

Baca Juga: Bupati Bandung Ungkap 1.000 ASN Terjerat Judi Online, Transaksi Capai Rp4,4 Miliar

Sekolah yang sudah siap juga dapat menyelenggarakan Bahasa Inggris sebelum tahun ajaran 2027/2028. 

Masa transisi ini dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan guru, perangkat pembelajaran, jadwal, dan sarana pendukung.

Pada akhirnya, Bahasa Inggris wajib mulai kelas 3 SD bukan sekadar penambahan mata pelajaran. 

Pemerintah ingin membangun fondasi kemampuan komunikasi asing sejak pendidikan dasar melalui pembelajaran yang bertahap dan menyenangkan.

Kunci pelaksanaannya berada pada kesiapan guru, ketepatan materi, alokasi waktu yang realistis, serta pembelajaran yang membuat anak berani menggunakan Bahasa Inggris tanpa takut salah. ***