POJOKSATU.id – Bunda sering memiliki bahan pangan lokal di rumah, tetapi masih bingung mengolahnya menjadi makanan yang disukai anak?

Ternyata berbagai komoditas lokal, seperti ubi ungu dan ubi merah, bisa diolah menjadi menu bergizi yang lezat sekaligus mendukung tumbuh kembang balita.

Inspirasi tersebut dibagikan dalam sesi Pengolahan Pangan Berbasis Komoditas Lokal yang menjadi penutup rangkaian Training of Trainer (ToT) Fasilitator Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) IPB 2026 pada Selasa (30/6/2026).

Baca Juga: Terdakwa Priyo Divonis Seumur Hidup Kasus Sekeluarga Indramayu, Lebih Berat dari Tuntutan 20 Tahun

Melalui kegiatan ini, para fasilitator memperoleh pengalaman praktik langsung mengolah pangan lokal menjadi menu sehat yang nantinya dapat diperkenalkan kepada keluarga di berbagai daerah.

Belajar Mengolah Pangan Lokal Menjadi Makanan Bergizi
Dipandu oleh Ida Widiawaty, peserta tidak hanya menerima penjelasan mengenai manfaat komoditas lokal, tetapi juga terlibat langsung dalam proses memasak dua menu berbahan dasar umbi-umbian, yaitu bubur ubi ungu tahu dan perkedel ubi merah.

Kedua menu tersebut dipilih karena menggunakan bahan yang mudah diperoleh di berbagai daerah, memiliki kandungan gizi yang baik, serta dapat dijadikan alternatif makanan pendamping ASI (MPASI) maupun camilan sehat untuk balita.

Baca Juga: Jangan Terkecoh Klaim Kemasan, Prof Rini Sekartini Ungkap 4 Cara Cek Komposisi Produk Nutrisi Anak

Pada praktik pertama, peserta membuat bubur ubi ungu dengan memadukan ubi ungu, tahu putih, daging ayam, wortel, santan, dan sedikit kaldu jamur.

Seluruh bahan dimasak hingga matang, kemudian dihaluskan dan disaring sehingga menghasilkan tekstur lembut yang sesuai untuk anak balita.

Sementara itu, menu kedua berupa perkedel ubi merah dibuat dari campuran ubi merah, daging cincang, kacang hijau kupas, susu, dan tepung tapioka.

Baca Juga: Spanyol Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026 Usai Hajar Austria 3-0, Berikut Daftar 11 Negara yang Sudah Mengamankan Tiket

Perpaduan bahan tersebut menghasilkan camilan yang kaya karbohidrat, protein, vitamin, serta berbagai zat gizi penting untuk mendukung pertumbuhan anak.

Ubi dan Komoditas Lokal Punya Kandungan Gizi yang Baik
Ida Widiawaty menjelaskan bahwa pemanfaatan pangan lokal tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga menjadi langkah sederhana dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga.

"Bahan pangan lokal memiliki kandungan gizi yang tidak kalah dengan bahan pangan lainnya.

Yang terpenting adalah bagaimana keluarga mampu mengolahnya menjadi menu yang menarik, bergizi, dan sesuai dengan kebutuhan balita.

Baca Juga: UI Tegaskan Kajian BEM Psikologi soal LGBT Bukan Sikap Resmi Kampus, Ini Duduk Perkaranya

Dengan begitu, orang tua tidak perlu selalu bergantung pada bahan pangan yang mahal dan memanfaatkan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak," jelasnya.

Menurut Ida, kreativitas dalam mengolah bahan pangan menjadi menu yang menarik dapat meningkatkan minat makan anak sekaligus membantu keluarga memanfaatkan potensi pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Fasilitator Antusias Praktik Memasak
Suasana praktik berlangsung meriah. Para fasilitator tampak antusias mengikuti setiap tahapan, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah adonan, hingga mencicipi hasil masakan bersama.

Diskusi mengenai variasi resep, teknik memasak, hingga cara menyajikan makanan yang disukai anak juga berlangsung aktif sepanjang kegiatan.

Baca Juga: Contoh Kegiatan MPLS Ramah SD 2026 Hari Pertama hingga Hari Kelima, Kemendikdasmen Ubah Orientasi Sekolah Jadi Lebih Ramah Anak

Salah seorang peserta, Dedeh Rosidah, perwakilan Fasilitator SKB Desa Curug Mekar, mengaku sesi praktik tersebut memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat.

"Selama ini kami lebih banyak mendapatkan materi dalam bentuk teori.

Melalui praktik ini kami jadi tahu bahwa bahan pangan lokal seperti ubi dapat diolah menjadi menu yang menarik, bergizi, dan mudah dibuat di rumah.

Nantinya resep ini akan kami bagikan kepada peserta Sekolah Keluarga

Baca Juga: Tes dan Survei MPLS Ramah 2026 Resmi Diterapkan, Ini Jenis Tes, Cara Pengerjaan, Peran Sekolah, hingga Jadwal Akses Hasilnya

Berkualitas agar semakin banyak keluarga yang memanfaatkan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi anak," ujarnya.

Bekal Pendampingan untuk Keluarga Indonesia
Melalui sesi penutup ini, para fasilitator tidak hanya memperoleh keterampilan mengolah pangan lokal, tetapi juga membawa pulang berbagai inspirasi yang dapat diterapkan saat mendampingi peserta Sekolah Keluarga Berkualitas di berbagai daerah di Indonesia.

Nurul Amirah, Staf LPA2I, berharap keterampilan tersebut dapat mendorong semakin banyak keluarga Indonesia memanfaatkan komoditas lokal sebagai sumber pangan bergizi bagi balita.

"Semoga Sekolah Keluarga Berkualitas menjadi wadah pembelajaran yang mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat dalam membangun keluarga yang harmonis, produktif, tangguh, serta berdaya guna mewujudkan keluarga Indonesia yang berkualitas," pungkas Nurul. ***