POJOKSATU.id – Hubungan emosional yang hangat antara orang tua dan anak sejak usia dini menjadi salah satu fondasi utama dalam membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh.

Kelekatan atau attachment yang terbangun sejak tahun-tahun pertama kehidupan terbukti berpengaruh besar terhadap perkembangan fisik, emosional, sosial, hingga kemampuan berpikir anak di masa depan.

Pesan tersebut menjadi salah satu materi penting dalam Training of Trainers (ToT) Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) 2026 yang diselenggarakan IPB University di Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB, Senin (29/6).

Baca Juga: IDI Tegaskan Dokter Icha Lakukan Tugas Sesuai SOP, Sudah Konsul Spesialis Ular Berbisa

Melalui pelatihan ini, para fasilitator dibekali pengetahuan berbasis ilmu pengetahuan agar mampu mendampingi masyarakat dalam menerapkan pola pengasuhan yang berkualitas.

Materi mengenai karakteristik anak bawah dua tahun (baduta) dan pentingnya pengasuhan pada masa usia dini disampaikan oleh Prof. Melly Latifah, Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB University.

Menurut Prof. Melly, masa baduta merupakan periode emas (golden period) yang sangat menentukan kualitas kehidupan seseorang pada masa mendatang.

Baca Juga: Dugaan Love Scamming, Sekdis Ruly Bersama Lelaki Lain Sebelum Tewas di Juanda, Suami Diabetes

Pada fase ini, pertumbuhan tubuh berlangsung sangat cepat, sementara perkembangan otak mencapai tahap yang sangat pesat sehingga membutuhkan lingkungan yang mendukung.

"Anak membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman, penuh kasih sayang, serta kaya akan stimulasi agar seluruh potensi tumbuh kembangnya berkembang secara optimal," ujar Prof. Melly.

Kelekatan Emosi Dibangun Sejak Tahun Pertama Kehidupan
Prof. Melly menjelaskan bahwa kelekatan emosional mulai terbentuk sejak tahun pertama kehidupan anak.

Baca Juga: Pemerintah Kembalikan Dana Rp281 Triliun ke Himbara, Siapkan Tambahan Rp100 Triliun untuk Jaga Likuiditas Bank

Ikatan tersebut lahir melalui berbagai interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh orang tua, mulai dari kontak mata, sentuhan, pelukan, menyusui, hingga keterlibatan ayah dalam aktivitas pengasuhan sehari-hari.

Interaksi yang penuh kehangatan tersebut membuat anak merasa aman dan terlindungi.

Rasa aman inilah yang kemudian menjadi modal penting bagi anak untuk berani mengeksplorasi lingkungan, belajar mengenal dunia, serta membangun kepercayaan terhadap orang lain.

Menurutnya, kelekatan yang kuat tidak hanya memberikan manfaat pada masa bayi, tetapi juga berdampak dalam jangka panjang terhadap perkembangan psikologis dan sosial anak.

Baca Juga: PMII Garut Siapkan Kader Berdaya Saing, Muspimcab I Hasilkan Sejumlah Rekomendasi Strategis

Anak yang memiliki hubungan emosional yang sehat dengan orang tuanya cenderung lebih mudah berkomunikasi, mampu bersosialisasi dengan baik, memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi, mampu mengendalikan emosi, serta lebih siap menghadapi berbagai tantangan ketika tumbuh dewasa.

Sebaliknya, lingkungan keluarga yang dipenuhi konflik, kecemasan, minim perhatian, atau kurang memberikan rasa aman berpotensi menghambat terbentuknya ikatan emosional yang sehat antara orang tua dan anak.

Bermain Menjadi Cara Terbaik Anak Belajar
Selain membangun hubungan emosional yang kuat, Prof. Melly juga menekankan pentingnya memberikan stimulasi yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

Ia mengingatkan bahwa anak usia dini belajar melalui aktivitas bermain.

"Anak usia dini belajar melalui bermain.

Baca Juga: Sekdis Perumahan Pemkab Bangkalan Tewas di Bandara Juanda, Suami Ungkap Riwayat Lambung Akut

Karena itu, bermain bukan hanya menjadi hiburan, tetapi merupakan proses belajar yang sangat penting untuk mengembangkan kemampuan motorik, kognitif, bahasa, emosi, hingga keterampilan sosial," jelasnya.

Melalui kegiatan bermain, anak memperoleh kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir, mengenali emosi, belajar berkomunikasi, hingga mengembangkan kreativitas dan rasa ingin tahu.

Stimulasi tersebut tidak harus dilakukan dengan peralatan yang mahal.

Orang tua dapat memanfaatkan berbagai aktivitas sederhana di rumah, seperti membacakan buku cerita, mengajak anak berbicara, merespons celotehnya, mengajak bernyanyi, bergerak mengikuti irama lagu, hingga memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar dengan aman.

Baca Juga: Tudingan Ayu Ting Ting Beli Tiket Konser BTS Lewat Jalur Ordal, Ini Pernyataan Resmi Promotor IMe Indonesia

Berbagai kegiatan tersebut dinilai efektif membantu perkembangan bahasa, kemampuan motorik, kreativitas, kepercayaan diri, serta kemampuan memecahkan masalah sejak usia dini.

Bekali Fasilitator Sebarkan Praktik Pengasuhan Berbasis Ilmu
Melalui penyelenggaraan Training of Trainers Sekolah Keluarga Berkualitas 2026, IPB University terus memperkuat kapasitas para fasilitator agar mampu menyebarluaskan praktik pengasuhan berbasis ilmu pengetahuan kepada masyarakat di berbagai daerah.

Para fasilitator diharapkan tidak hanya memahami konsep tumbuh kembang anak, tetapi juga mampu mendampingi keluarga dalam membangun hubungan emosional yang sehat, menciptakan lingkungan pengasuhan yang positif, serta memberikan stimulasi yang tepat pada masa-masa awal kehidupan anak.

Dengan semakin luasnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kelekatan emosi orang tua dan pengasuhan yang responsif sejak masa baduta, Sekolah Keluarga Berkualitas diharapkan dapat menjadi salah satu upaya nyata dalam mendukung lahirnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. ***