POJOKSATU.id - Kisah seorang guru yang telah mengabdi selama 10 tahun namun tidak pernah berhasil lolos PPG Daljab Kemenag kembali menggema di kalangan tenaga pendidik.
Ia mencoba dari Batch 2 hingga Batch 4, berharap nasibnya berubah, tetapi hasilnya selalu sama.
Setiap pengumuman yang ia buka justru menghadirkan luka baru dan rasa putus asa yang makin dalam.
Pada akhirnya, ia memutuskan meninggalkan profesi yang selama ini menjadi bagian besar dari hidupnya.
Baca Juga: Banyak yang Gagal Tanpa Penjelasan, Guru Desak Kemenag Transparan dalam Seleksi PPG Batch 4
Kisah ini mencerminkan kegelisahan banyak guru yang merasa berjuang sendirian di tengah sistem yang tidak berpihak.
Harapan besar di Batch 2 dan Batch 3, namun hasilnya selalu “Tidak Lulus”
Pada Batch 2, ia mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan keyakinan bahwa pengabdiannya akan mendapat tempat.
Namun ketika hasil “Tidak Lulus” muncul, ia mencoba menghibur diri bahwa kesempatan berikutnya mungkin lebih baik.
Baca Juga: Viral! Belajar Mobil di Jalan Umum, Satu Nyawa Melayang, Praktik Berbahaya yang Masih Dibiarkan
Ia mendaftar lagi di Batch 3 dengan semangat yang belum sepenuhnya padam.
Tetapi lagi-lagi sistem menjawab hal yang sama, seolah menepis seluruh pengalaman sepuluh tahun mengajar yang ia miliki.
Meski berusaha tegar di depan siswa, di dalam hatinya ia mulai goyah.
Kecewa yang menumpuk membuatnya memutuskan resign untuk pertama kali
Kegagalan berulang membuatnya merasa tidak lagi memiliki ruang yang jelas dalam masa depan sertifikasi guru.
Ia menimbang keputusan resign dengan hati-hati, bukan karena marah, tetapi karena lelah menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
Ketika akhirnya mengundurkan diri, itu menjadi cara untuk melindungi dirinya dari harapan yang terus mengecewakan.
Baca Juga: Satu Triliun
Ia sadar bahwa mungkin jalannya tidak lagi berada di madrasah.
Resign pertamanya adalah tanda bahwa hatinya tengah retak oleh tekanan yang sudah terlalu lama ia pendam.
Sekolah memanggil kembali pada Oktober, membuatnya merasa masih dihargai
Beberapa bulan setelah mundur, sekolah menghubunginya kembali karena kehilangan guru pada mata pelajaran inti.
Baca Juga: DPR Sentil Proyek KopDes, Jangan Sampai 80 Ribu Gerai Cuma Jadi Tempat Kambing Nongkrong
Ia sempat ragu, namun rasa tanggung jawab terhadap siswa mendorongnya menerima panggilan itu.
Kehadiran sekolah yang masih mempercayainya memberi sedikit kehangatan di tengah rasa kecewanya kepada sistem.
Ia kembali mengajar dengan harapan kecil bahwa mungkin masih ada ruang untuknya.
Ia kembali bukan untuk jabatan, tetapi demi anak-anak yang pernah ia bimbing.
Saat Batch 4 dibuka, ia mencoba untuk terakhir kalinya dan kembali gagal
Meski sudah tidak ingin berharap, ia tetap mendaftarkan diri pada Batch 4 sebagai upaya terakhir memperjuangkan haknya.
Semua syarat ia lengkapi, memastikan tidak ada kesalahan dalam sistem maupun dokumen.
Hari pengumuman menjadi momen yang menegangkan, karena di satu sisi ia ingin menyerah, namun di sisi lain masih menyimpan sedikit harapan.
Sayangnya, hasil yang keluar kembali mengulang luka yang sudah ia alami berkali-kali.
Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi, Basarnas Pastikan Kondisi Pendaki di Ranu Kumbolo
Kegagalan Batch 4 menjadi titik paling menyakitkan dalam seluruh perjalanan panjangnya.
Pengabdian 10 tahun dirasanya sudah cukup, sehingga ia memilih pergi untuk selamanya
Setelah mempertimbangkan semuanya, ia menyadari bahwa bertahan hanya akan memperpanjang luka yang belum juga sembuh.
Baca Juga: Hanya 8 dari 1060 BUMN yang Setor 95 Persen Dividen, Siapa Saja Para Raksasa Itu?
Ia merasa 10 tahun pengabdian sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan keseriusannya sebagai guru.
Ketika ia mencoba bekerja di luar dunia pendidikan, ia justru langsung dihargai sejak hari pertama.
Bahkan sebelum dua bulan, ia sudah ditawarkan posisi lebih tinggi.
Baca Juga: DPR Sentil Proyek KopDes, Jangan Sampai 80 Ribu Gerai Cuma Jadi Tempat Kambing Nongkrong
Dari sana ia mengerti bahwa penghargaan kadang datang dari tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Perjalanan guru ini menggambarkan betapa beratnya tekanan yang ditanggung tenaga pendidik ketika sistem sertifikasi tidak memberikan kepastian.
Banyak guru yang akhirnya merasa berjalan tanpa arah, meski telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun.
Pengalaman panjang tidak selalu menjadi penentu kesempatan dalam sistem yang terus berubah.
Satu kata “Tidak Lulus” dapat meruntuhkan upaya yang sudah dibangun bertahun-tahun lamanya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa perbaikan sistem PPG Daljab adalah kebutuhan mendesak, bukan sekadar wacana.***




