POJOKSATU.ID - Jagat maya kembali dihebohkan dengan perilaku anggota DPRD yang seolah bertingkah sok jagoan dan memiliki kuasa.
Seorang anggota DPRD Kota Sungai Penuh, Jambi, bernama Fahruddin terlihat berteriak memaki sejumlah kuli bangunan yang bekerja.
Terdengar cukup jelas politisi Golkar ini menyebut kuli bangunan yang tengan bekerja dengan sebutan monyet dan anjing.
Baca Juga: Penyebab Retaknya Rumah Tangga Selebgram Clara Shinta, Diduga Gegara Masih Simpan Foto Mantan
Peristiwa itu terjadi saat Fahruddin melakukan sidak di kawasan Pasar Beringin Jaya di sekitar alun-alun Kota Sungai Penuh, Jambi, Minggu, 19 Oktober 2025.
Berdasarkan informasi, emosi Fahruddin naik karena suara bising dari pekerja proyek, padahal mereka telah bekerja sesuai SOP.
Suara bising di sebuah proyek sangat wajar terjadi, Fahruddin dianggap berlebihan dalam bertindak hingga mengeluarkan kata-kata kasar.
Baca Juga: Wali Kota Bekasi Garansi Tidak Adanya Pungli Jabatan di Pemerintahannya
Berdasarkan koleksi kendaraan miliknya yang terdaftar dalam LHKPN, Fahruddin punya beberapa kendaraan truk pick-up.
Dari koleksi kendaraan tersebut, ada dugaan bahwa dirinya mungkin sudah sangat familiar dengan dunia proyek.
Sehingga seharusnya lebih bijaksana dalam bertindak kepada para kuli bangunan yang hanya bekerja menjalankan perintah atasannya.
Baca Juga: Pungli Bikin Resah: Komunitas Foto Taman Eco Park Tebet Palak Penghobi Foto, Minta Jatah Rp 500 Ribu
Berdasarkan LHKPN, ada 6 koleksi kendaraan yang dimilikinya dengan total Rp895 juta.
Di antaranya Isuzu D-max, Isuzu Truck, Isuzu NKR 71, Mitsubishi Pick-up, Nissan Mini Bus, dan Daihatsu Terios.
Fahruddin juga tercatat memiliki 2 unit aset properti di Kota Sungai Penuh dan sebidang tanah di Muara Bulian, dengan total semuanya mencapai Rp850 juta.
Baca Juga: Dugaan Mark Up Kereta Cepat Whoosh Hampir 3 Kali Lipat, Biaya Tembus 52 Juta US$ per Km
Sumber kekayaan lain yang dimilikinya berasal dari kas dan setara kas sebesar Rp13,7 juta.
Total harta kekayaan Fahruddin yang tercatat dalam LHKPN sebesar Rp1,7 miliar, tanpa utang sepeser pun.
Atas kejadian ini, Fahruddin mengaku spontan mengucapkan kata-kata tersebut, ia meminta maaf kepada seluruh pekerja di sana.
Ia mengatakan kedatangannya untuk melihat proses pembongkaran dan menanyakan sisa material berupa kayu dan seng.
"Saya langsung spontan mengucapkan hal yang tidak pantas tersebut kepada para pekerja. Saya memohon maaf," kata Fahruddin.
Ia menegaskan tidak bermaksud menghina pekerja proyek dan insiden ini membuatnya belajar untuk lebih hati-hati dalam bersikap.***




