POJOKSATU.id - Geopolitik Research Centre (GRC) merilis hasil survei elektabilitas pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kapuas Hulu setelah masa kampanye dan debat publik.
Direktur Eksekutif GRC, Alfian Septiansyah, menjelaskan bahwa survei ini memberikan wawasan tentang preferensi politik masyarakat pascakampanye, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kedua pasangan calon dalam merumuskan strategi menjelang pemilihan.
Hasil Survei Elektabilitas
Survei dilakukan dalam tiga simulasi untuk mengukur tingkat elektabilitas:
1. Simulasi Pertanyaan Terbuka
- Wahyudi Hidayat-Oktavianus Wawa: 48,2%
- Fransiskus Diaan-Sukardi: 41,4%
- Tidak menjawab: 10,4%
2. Simulasi Pertanyaan Tertutup
- Wahyudi Hidayat-Oktavianus Wawa: 53,8%
- Fransiskus Diaan-Sukardi: 40,5%
- Tidak menjawab: 5,7%
3. Simulasi Duplikat Surat Suara
- Wahyudi Hidayat-Oktavianus Wawa: 813 suara (54,2%)
- Fransiskus Diaan-Sukardi: 667 suara (44,46%)
- Surat suara tidak sah: 20 lembar
Alfian menyatakan bahwa pasangan Wahyudi Hidayat-Oktavianus Wawa menunjukkan keunggulan di semua simulasi. Meski demikian, masih ada sejumlah pemilih yang belum menentukan pilihan, yang tercermin dari persentase "Tidak menjawab".
Metodologi Survei
Survei dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling, melibatkan 1.500 responden dari total 196.115 pemilih terdaftar di Kapuas Hulu. Responden dipilih berdasarkan representasi usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Survei ini dilakukan pada 10-20 November 2024 dengan metode wawancara langsung, memiliki margin of error ±2,52% dan tingkat kepercayaan 95%.
Baca Juga: Survei: Elektabilitas Cakada KIM Plus “Rusak” Basis Banteng di Jabar
Sementara itu Muhammad Sutisna, pengamat politik Universitas Indonesia, menyebut hasil survei ini dapat menjadi gambaran awal Pilkada Kapuas Hulu, di mana Wahyudi Hidayat-Oktavianus Wawa berpeluang menang. Ia menilai, tingkat kepuasan masyarakat terhadap Bupati petahana Fransiskus Diaan yang berada di bawah 50% menjadi salah satu faktor yang memengaruhi elektabilitas pasangan petahana.
“Peran Wakil Bupati dalam pemerintahan biasanya tidak sebesar Bupati, sehingga kegagalan kepemimpinan lebih sering disandarkan kepada Bupati,” ujar Sutisna. Ia juga mencatat tren “anomali kutukan petahana”, di mana wakil bupati sering mengungguli bupati saat mereka bersaing dalam Pilkada.
Sutisna menyimpulkan bahwa survei GRC ini dapat menjadi dasar bagi masyarakat Kapuas Hulu untuk menentukan pilihan mereka pada hari pencoblosan.***




