POJOKSATU.id, WONOGIRI - Waduk Gajah Mungkur tengah menjadi perbincangan, pasalnya dimusim kemarau dan airnya surut ditemukan makam-makam kuno.
Tentunya, hal tersebut menjadi jejak sejarah tentang adanya peradaban manusia kala itu.
Waduk Gajah Mungkur yang berada di Kabupaten Wonogiri yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 17 November 1981.
Baca Juga: Antispasi Kebakaran Hutan, 11 Gunung di Wilayah KPH Bandung Utara Bakal Ditutup untuk Pendakian
Proses pembangunan waduk yang berjarak 6 kilometer ke arah barat daya Kota Wonogiri itu dimulai sejak tahun 1974.
Ide pembangunannya sebenarnya telah dimulai pada tahun 1941 oleh Ir. R.M Sarsito Mangunkusumo yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pekerjaan Umum Mangkunegaran di Surakarta.
Tetapi pembangunan waduk itu belum sempat terlaksana, karena kondisi dan situasi
Pada dekade 1970-an, Sungai Bengawan Solo selalu meluap di musim hujan.
Baca Juga: Warga Purwasari Karawang Kecewa dengan Sikap Pegawai Kantor Kecamatan Purwasari
Tapi saat musim kemarau, debit air sungai itu tidak terlalu besar, sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan air dari masyarakat sekitar.
Oleh karena itu pada tahun 1975, JICA atau Badan Kerja Sama Internasional Jepang mulai mengadakan studi kelayakan waduk.
Lalu, pada tahun 1976, Waduk Gajah Mungkur mulai dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Proyek Bengawan Solo atau PBS.
Waduk tersebut adalah satu dari empat waduk besar yang dibangun dalam proyek Bengawan Solo.
Proyek tersebut dilakukan untuk mengendalikan sifat-sifat air sungai Bengawan Solo yang merusak dan menjadikannya lebih bermanfaat.
Untuk membangun waduk tersebut, tidak kurang 51 desa ditenggelamkan dan lebih dari 13.000 kepala keluarga dipindahkan karena tanah serta sawahnya tergenang air bendung.
Baca Juga: Pengakuan Anies Baswedan, Dirinya Tak Pernah Ketemu Jokowi Pasca Diusung Nasdem : Saya Warga Biasa
Sebagian besar dari mereka transmigrasi ke Sumater Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.
Dalam pidatonya, Soeharto mengatakan bahwa pengorbanan itupun diminta dari sebagian masyarakat daerah Wonogiri untuk kepentingan penyelesaian bendungan ini.
Kala itu, Presiden Soeharto menandatangani batu prasasti sebelum menekan tombol yang diiringi deburan air pada aliran-aliran pembuang waduk.
Baca Juga: Datang Sendirian, Wulan Guritno Penuhi Panggilan Bareskrim: Mau Silaturahmi
Pembangunan waduk ini melibatkan cukup banyak orang, yaitu 2.800 pekerja termasuk 35 ahli dari Jepang sebagai penasihat.
Anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan Waduk Gajah Mungkur tidak kurang dari Rp 55 miliar, di antaranya Rp 34 miliar dari APBN dan sisanya merupakan bantuan Pemerintah Jepang.
Pengeluaran anggaran terbesar adalah untuk memindahkan 13.000 KK dan pembebasan lahan.
Baca Juga: Pesan Menag Yaqut di Orientasi PPPK Kemenag: Berterima Kasihlah kepada Presiden Jokowi
Secara teknis, Waduk Gajah Mungkur direncanakan mampu bertahan selama 100 tahun, dengan catatan endapan lumpur yang masuk setiap tahunnya tidak lebih dari 1,5 juta meter kubik.
Dengan daya tampung 750 juta meter kubik air, maka Waduk Gajah Mungkur merupakan waduk terbesar di Jawa Tengah dan salah satu yang terbesar di Indonesia.
Selain berfungsi sebagai pencegah banjir, sumber irigasi, dan juga tenaga listrik, Waduk Gajah Mungkur juga menjadi salah satu obyek wisata ikonik Kabupaten Wonogiri.
Saat ini sisa-sisa pemukiman di sekitar waduk masih bisa ditemui. Termasuk jalan hingga jembatan yang dulu adalah akses utama Wonogiri menuju Kecamatan Pracimantoro.
Termasuk juga fondasi rumah, bekas tiang rumah, sumur, hingga makam.
Namun kondisinya tak lagi utuh karena tergerus air waduk saat musim hujan.
Salah satu warga Desa Pondok Sari bernama Darti mengatakan Desa tersebut sekarang sudah tak ada lagi karena tenggelam di Waduk Gajah Mungkur.
Darti bercerita ia tak ikut transmigrasi karena masih punya tanah yang tak terdampak. Ia kini tinggal di Sumberejo, Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri.
Darti juga bercerita bahwa, dahulu sebelum menjadi waduk ada jalan besar yang dapat dilalui dari Wonogiri ke Pracimantoro.
Selain itu ada sungai dan jembatan juga di dalamnya. Namanya Sungai Tempuran karena merupakan gabungan dua sungai.
Baca Juga: Hasil Autopsi Imam Masykur Sudah Keluar, Ungkap Fakta Baru Kekejaman Praka Riswandi Manik Cs
Darti juga menyebut jika Presiden Kedua Soeharto pernah tinggal di desa yang kini ada di dasar Waduk Gajah Mungkur.
Soeharto tinggal di lokasi tersebut sebelum akhirnya pindah ke rumah yang saat ini dikenal menjadi lokasi Museum Wayang Indonesia.***




