POJOKSATU.id, Kota Bogor – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendukung penyusunan kajian akademik terhadap Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake.

Kajian tersebut dinilai penting untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap dua benda bersejarah itu, dari kesan mistis menjadi pemahaman ilmiah dan historis.

Hal itu disampaikan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Kecagarbudayaan bertajuk “Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake” di Museum Pajajaran Bogor, Jalan Batu Tulis Blok Sekolah No.37, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Kamis (14/5/2026).

“Jadi Batutulis nanti harus ada buku akademiknya, memberikan kajian secara komprehensif, dimulai dari tanggal pembuatan, bahan pembuatan, siapa yang membuat, apa arti tulisannya dan nanti kemudian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake juga sama,” ucap KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi.

Menurut KDM, Kota Bogor merupakan pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran yang keberadaannya dibuktikan melalui Prasasti Batutulis.

Karena itu, sejarah besar di balik peninggalan tersebut perlu dijelaskan secara menyeluruh kepada masyarakat.

Ia menilai, naskah akademik nantinya dapat menjadi dasar dalam penyusunan tata ruang, tata bangunan, tata kelola pendidikan, hingga tata kelola kesehatan di Jawa Barat.

Dengan begitu, pembangunan masa depan tetap memiliki keterkaitan dengan akar sejarah dan budaya Sunda.

KDM juga menegaskan bahwa Prasasti Batutulis bukan sekadar peninggalan sejarah biasa.

Di balik prasasti tersebut tersimpan jejak kejayaan Kerajaan Sunda pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.

Dalam diskusi tersebut, Ahli Epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan bahwa prasasti dibuat atas perintah Raja Surawisesa untuk mengenang jasa pendahulunya, Prabu Siliwangi (1482-1521), yang dianggap berjasa menata Kota Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota Kerajaan Sunda.

Namun seiring berjalannya waktu, jejak fisik Kerajaan Sunda tidak banyak tersisa.

Salah satu penyebabnya ialah kuatnya pengaruh kerajaan Islam di sebagian besar wilayah Pulau Jawa pada masa berikutnya.

Meski demikian, kemegahan Kerajaan Sunda diyakini masih tercermin melalui Mahkota Binokasih yang hingga kini disimpan turun-temurun di Keraton Sumedang Larang.

Berdasarkan naskah kuno Carita Parahyangan, mahkota tersebut dibuat di Kerajaan Galuh sebagai simbol kekuasaan dan legitimasi raja-raja Sunda.

Setelah Kerajaan Sunda runtuh, Mahkota Binokasih kemudian diserahkan oleh empat utusan Pajajaran kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.

Dalam sesi yang sama, Ahli Arkeometalurgi BRIN Harry Octavianus Sofian menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih memiliki keterkaitan erat dengan kosmologi Tritangtu dalam budaya Sunda.

Konsep itu membagi kehidupan ke dalam tiga unsur, yakni hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.

Harry menyebut, desain Mahkota Binokasih merepresentasikan tiga peranan penting dalam Kerajaan Sunda, yaitu Rama, Ratu/Prabu, dan Resi.

Bagian atas mahkota melambangkan Rama atau pemimpin spiritual yang menjaga nilai adat dan kebijaksanaan.

Bentuknya menyerupai stupa dengan ornamen bunga teratai yang mencerminkan kebijaksanaan dan manfaat bagi sesama.

Sementara bagian tengah melambangkan Ratu atau Prabu sebagai simbol kepemimpinan dalam mengambil keputusan dan menyusun aturan.

Ornamen daun segitiga dan Garuda Mungkur di bagian belakang dimaknai sebagai keberanian pemimpin dalam melindungi rakyatnya.

Adapun bagian bawah mahkota menggambarkan Resi, yakni kelompok intelektual dan penasihat kerajaan yang memberi ilmu serta pertimbangan.

Nilai tersebut berkaitan dengan ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati, tokoh penting Kerajaan Sunda-Galuh abad ke-14 yang dikenal memperkuat budaya dan spiritualitas masyarakat Sunda.

Melihat nilai sejarah dan filosofinya yang besar, Mahkota Binokasih selama ini disimpan dengan ketat oleh Keraton Sumedang Larang.

Namun dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda, mahkota tersebut dibawa berkeliling ke sejumlah kabupaten dan kota sebagai bagian dari napak tilas Pajajaran sekaligus upaya mengenalkan sejarah Kerajaan Sunda kepada masyarakat luas.