POJOKSATU.id - Produksi dan produktivitas sawit nasional dinilai stagnan dan cenderung menurun, sementara kebutuhan domestik, terutama untuk biodiesel dan energi nasional, terus meningkat.
Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam 10th Indonesian Palm Oil Stakeholders (IPOS) Forum Tahun 2025 yang digelar di Medan, Kamis, 30 Oktober 2025.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersama Kementerian Pertanian menegaskan perlunya percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Selain itu, penekanan pada penataan tata kelola industri, dan penguatan sertifikasi keberlanjutan ISPO, agar sektor sawit tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengungkapkan bahwa produktivitas sawit rakyat terus menurun karena program PSR belum berjalan optimal.
“Produksi naik, tapi lajunya lamban. PSR sudah mendesak, karena banyak kebun rakyat yang sudah tua dan tidak produktif,” ujarnya dalam pembukaan IPOS Forum ke-10 Tahun 2025 di Santika Dyandra Convention Center Medan.
Berdasarkan data GAPKI, produksi minyak sawit Indonesia tahun 2025 diproyeksikan mencapai 53,6 juta ton, naik tipis dari 52,76 juta ton pada 2024.
Sementara kebutuhan dalam negeri terus meningkat, terutama untuk program biodiesel dan hilirisasi energi.
Baca Juga: Mau Kuliah S2 ke Swedia Tanpa Biaya? Ini Info Lengkap Beasiswa SISGP 2025
Eddy menegaskan, selain PSR, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi, mulai dari penyelesaian kebun dalam kawasan hutan, maraknya pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun, hingga lemahnya tata kelola kemitraan.
“GAPKI mendorong penerapan prinsip good governance dan kepatuhan regulasi di seluruh rantai pasok sawit. Kita ingin industri ini tumbuh besar secara ekonomi dan kuat secara sosial,” tegasnya.
GAPKI juga menekankan pentingnya percepatan penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai standar nasional keberlanjutan.
“ISPO tidak boleh hanya dilihat sebagai kewajiban administratif, tapi alat untuk memperkuat reputasi dan daya saing sawit Indonesia,” tutur Edy.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang telah menerbitkan Peraturan Presiden terbaru tentang ISPO, mencakup sektor hulu, hilir, dan biofuel, sebagai wujud keseriusan dalam membangun industri sawit berkelanjutan.
GAPKI kini tengah berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, BPDP, lembaga riset, dan perusahaan sawit untuk mengeksplorasi sumber daya genetis baru, serta serangga penyerbuk dari Afrika, guna menghasilkan klon unggul dan meningkatkan produktivitas nasional.
Dirjen Perkebunan: Sinergi Satgas Sawit dan GAPKI Diperkuat
Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat, menyebut pembentukan Satgas Sawit menjadi langkah strategis untuk mempercepat penataan dan penyelesaian hambatan di lapangan.
“Satgas Sawit memastikan agar kebijakan seperti PSR, sertifikasi ISPO, dan penertiban kawasan hutan berjalan efektif dan terintegrasi antar-lembaga,” ujarnya.
Baca Juga: Update Pencairan Tunjangan Sertifikasi Guru TW3, Pemerintah Sebut Angka Rp13 Triliun dan 81 Persen
Menurutnya, industri kelapa sawit merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, dengan luas areal mencapai 16,3 juta hektare dan menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja.
Indonesia bahkan menyumbang lebih dari 55 persen pasokan minyak sawit dunia.
Namun, di balik capaian itu, ia menilai tantangan masih besar. Mulai dari legalitas lahan, produktivitas rendah, bibit tidak unggul, hingga tekanan global terkait isu lingkungan dan regulasi internasional seperti EU Deforestation Regulation (EU-DR).
“Kami ingin memastikan transformasi sawit tidak berhenti di ekspor bahan mentah, tapi menuju hilirisasi yang menciptakan nilai tambah dalam negeri dan memperkuat kedaulatan ekonomi,” ungkapnya.
Baca Juga: Labschool UNJ Buka Lowongan Guru dan Staf 2025, Cek Posisi dan Jadwal Pendaftarannya
Baik GAPKI maupun Kementerian Pertanian sepakat bahwa industri sawit harus menjadi penggerak utama ekonomi hijau Indonesia.
“Hilirisasi dan inovasi sawit bukan hanya untuk devisa, tapi untuk energi masa depan. Kita perlu area khusus energi untuk memperkuat biofuel dan kemandirian energi nasional,” kata Eddy.
IPOS Forum Jadi Wadah Kolaborasi dan Solusi
Forum tahunan IPOS ke-10 ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai lembaga, asosiasi, dan perusahaan sawit.
Ketua GAPKI Sumut, Timbas Prasad Ginting, menyebut forum ini menghadirkan 40 stan perusahaan serta klinik sawit bagi petani.
Baca Juga: Jangan Ketinggalan! Jadwal Pelaksanaan UKPPPG Guru Tertentu Periode 4 Sudah Diumumkan
“IPOS Forum harus menjadi wadah solusi, inspirasi, dan kolaborasi nyata bagi masa depan sawit Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
IPOS-FORUM yang berlangsung 30-3q Oktober ini tidak hanya diisi diskusi, melainkan juga menyediakan stan 40 perusahaan yang mengenalkan berbagai produk andalan masing-masing. ***



