POJOKSATU.ID - Sangat menarik sekal mencermati gencarnya gerakan politik yang dilakukan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli menjelang gelaran hajat besar yakni Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) akan diselenggarakan pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026 bertempat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Pria asal Cirebon tersebut sangat agresif dan menikmati menyajikan terobosan Pemikiran melalui berbagai opini yang didistribusikan secara masal lewat platform media sosial. Berbagai opini liar dan bagikan sensitif menggambarkan begitu besar hasrat Imam Jazuli untuk memonopoli dikursus ruang publik berkaitan Muktamar NU dan isu-isu penting dan sensitif.
Pada akhirnya menjadikan Fenomena Imam Jazuli dan Gerakannya sebuah ruang pertanyaan yang langsung Menyasar Pribadi Imam Jazuli.
Apa saja yang menjadi ide dan gagasan menohok dari Imam Jazuli terhadap NU dan Isu kekinian? Apakah Imama Jazuli dan pandang beserta gerakannya adalah bentuk terobosan progresif atau hanya penawaran awal portofolio politik secara pribadi menjelang Muktamar NU akan berlangsung?
Ideologi NU dan Besaran Kekuatan
Garis besar tentang NU. Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya oleh KH. Hasyim Asy'ari dan para ulama. Organisasi ini bergerak di bidang keagamaan, sosial, pendidikan, dan ekonomi dengan berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah.
Baca Juga: Siswa MAN IC Serpong Raih Penghargaan di INSO 2026 Arab Saudi, Jadi Delegasi Perdana Indonesia
Jika dihitung secara kuantitatif, jumlah pengikut Nahdlatul Ulama (NU) disebut berkisar antara 91,2 juta hingga 159 juta jiwa berdasarkan berbagai survei dan data kependudukan. Dalam posisi Ormas Internasional, NU diakui secara global sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia
Sebagai Ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) secara institusional menegaskan diri bukan partai politik dan tidak melakukan politik praktis atau dukung-mendukung paslon tertentu, melainkan menjalankan politik kebangsaan (high politics) berlandaskan kemaslahatan umat.
Sudah menjadi kelaziman jika posisi Politik NU Bukan Partai Politik. Organisasi NU adalah organisasi kemasyarakatan Islam yang independen dan kembali ke Khittah 1926 sejak 1984.
Rezim yang dianutnya adalah politik Kebangsaan dan Berperan menjaga nasionalisme, keutuhan bangsa, dan nilai moral, bukan mengejar jabatan kekuasaan. Karena sangat jelas bila larangan Pengurus: Pengurus harian NU dibatasi agar tidak merangkap jabatan atau menjadi pengurus harian partai politik.
Masuk Bursa Ketum
Hal yang menarik bagi sosok Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, adalah ketika Tokoh Muda adalah Cirebon Jabar ini secara meyakinkan masuk dalam radar bursa bakal calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Baca Juga: Program Tarif Rp1 Sambut HUT RI Diharapkan Jadi Stimulus Transportasi Publik
Identitas dan kiprahnya seorang Imam Jazuli sangat mudah diketahui dan ditemukan di platform media sosial. Ia adalah Pengasuh dan arsitek transformasi Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, Jawa Barat. Dengan latar belakang: Alumnus Universitas internasional Al-Azhar, Mesir tak diragukan lagi daya jelajah Intelektual sudah go publik.
Menuliskan produk ide dan gagasan Kyai Muda ini jauh lebih seksi ketimbang membicarakan peluang Sang Kyai maju menjadi salah satu Ketum PBNU. Sang Kyai juga memastikan bahwa apa yang sedang dibicarakan berkaitan popularitas dirinya masuk dalam deretan bursa Ketum PBNU adalah buah bibir yang memabukkan, menggoda dan penuh sensasi.
Kyai Imam Jazuli sadar belum waktunya dan tidak ada kata menikung dan mendahului sesepuh NU yang lebih layak dan pantas menjadi pilihan terbaik warga NU. Waras akhlak dan keimanan berorganisasi teruji.
Yang lebih gila lagi, ketika Marzab Tradisional NU menginginkan agar organisasi ini tak tergoyahkan rayuan politik praktis, jabatan dan juga kedudukan beserta wewenangnya.
Situasi mendadak tegang disulap menjadi reda. Tradisi NU lamban laun dimoderatori tampa adanya isu kudeta atau melawan dengan kekuatan.
Baca Juga: Fenomena 'Ngetem' di Depan Gate LRT, Berburu Tarif Maksimal Rp10 Ribu di LRT Jabodebek
Imam Jazuli berhasil mencapai moderasi percakapan yang landai berotot dengan dukungan komunikasi yang mumpuni para sesepuh Kyai, Tokoh NU, entitas politik seperti Ketua Umum Parpol, Ketua dan anggota DPR dan juga Para Kepala Daerah, bahkan para artis papan pun dirangkul. Bisa dikatakan bahwa Imam Jazuli bukan hanya seorang visioner tetapi merangkap juga sebagai "Diplomat Ulung "
Penulis juga lebih tertantang untuk menguliti dan menyimaknya apa yang menjadi pemikiran dan gagasangnya.
Bagi Imam Jazuli bahwa kandidat Ketua Umum PBNU harus moderat dan juga disesuaikan kebutuhan kekinian. Tidak harus memperhatikan dan mempertahankan penuh billa mana tingkat urgensi dan kepentingan itu harus dipertaruhkan dan dibutuhkan.
Ketika pencalonan yang diisi oleh latar belakang menteri atau pejabat pemerintah (seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar, Nusron Wahid, Saifullah Yusuf) menjadi perdebatan panas namun bagi Imam Jazuli justru menjadi peluang menunjukkan keperpihakan dan kepedulian terhadap organisasi dan progresifnya.
Dalam konteks kontribusi dan Pandangan dan Posisi KH Imam Jazuli khususnya berkaitan hiruk pikuk Muktamar NU dan Bursa Ketua Umum PBNU.
Baca Juga: Program Tarif Rp1 Sambut HUT RI Diharapkan Jadi Stimulus Transportasi Publik
Ia menilai bursa pencalonan yang diisi oleh latar belakang menteri atau pejabat pemerintah (seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar, Nusron Wahid, Saifullah Yusuf) sebagai dinamika yang wajar.
Imam Jazuli dengan tegas bersikap bahwa status pejabat tidak masalah selama kandidat memenuhi mekanisme organisasi dan memiliki kapasitas.
Kemudian mnekankan bahwa kepemimpinan PBNU harus ditentukan sepenuhnya oleh mandat muktamirin (pengurus wilayah dan cabang), bukan karena latar belakang jabatannya.
Dan pada akhirnya merujuk kesimpulan fenomenal sebagai petunjuk momentum berjaya dan berharga bagi Warga NU agar Muktamar diarahkan untuk agenda strategis abad kedua NU, seperti penguatan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, dan tata kelola profesional.
Dengan melihat alur dan paparan gagasannya, bis dikatakan bahwa Iman Jazuli adalah orang cendekia muda NU dengan pemikiran menerobos cara pandang ortodoks ke ruang negosiasi.
Di tangan Kyai Muda dan diberangi bekal gelar akademik yang mumpuni, NU dipaksakan harus cair dan menerima urgensi perubahan drastis akibat terjadi distorsi dan disrupsi kekinian di segala lini.
Terjadi perubahan radikal dan urgensi memahami dan kewajiban mentransformasikan secara cepat akhirnya memaksa perubahan itu harus hadir dan Nyata Karena kompleksitas pemikiran dan gagasan Imam Jazuli adalah aset termahal bagi NU secara khusus dan masyarakat umumnya.
Akhirnya dapat disimpulkan Pemikiran dan juga Gagasan Imam Jazuli adalah entitas reformasi dan tantangan NU itu sendiri. Banyak lini terkoneksi dan terelaborasikah baik mewakili kepentingan organisasi dan urgensinya berpikir majemuk untuk Masyarakat Indonesia.***
Ditulis: Pengamat Politik dan Ekonomi Heru Subagia




