POJOKSATU.id, PAPUA - Berdasarkan data Badan meteoroogi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa fenomena iklim El Nino memicu musim kemarau.
Sehingga tahun 2023 akan menjadi lebih kering dan berkepanjangan. Hal ini sudah terjadi di beberapa wilayah tanah air, salah satunya adalah Provinsi Papua Tengah.
Berdasarkan keterangan Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim A Fahcri Radjab, bahwa kekeringan di beberapa wilayah Indonesia, karena musim kemarau tahun ini berbarengan dengan aktifnya fenomena El Nino.
Sehingga musim kemarau di Indonesia lebih kering dibanding tiga tahun terakhir.
Baca Juga: Rocky Gerung Dilaporkan Relawan Jokowi ke Bareskrim Polri Tapi Malah Ditolak, Ini Sebabnya
Meski demikian, Fahcri tidak dapat menyimpulkan apakah musim kemarau berkepanjangan ini berkaitan dengan fenomena perubahan iklim.
Menurutnya, perlu kajian lebih lanjut apakah musim kemarau ini disebabkan oleh perubahan iklim.
BMKG mengingatkan pemerintah, seluruh pemangku kepentingan terkait dan juga masyarakat untuk mengantisipasi dampak dari El Nino. Sebab, fenomena El Nino ini diprediksi masih akan terjadi hingga akhir 2023.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kekeringan akibat musim kemarau berkepanjangan yang diiringi cuaca dingin ekstrem terjadi di Distrik Agandugume dan Distrik Lambewi, Kabupaten Puncak, Papua Tengah.
Baca Juga: HP Kapolda Jateng Irjen Ahmad Lutfhi Diretas Via Aplikasi File APK, 2 Pelaku Ditangkap di OKI Sumsel
Kekeringan yang melanda di beberapa wilayah tersebut memicu gagal panen serta mengakibatkan enam orang meninggal dunia.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebut gagal panen membuat warga kesulitan mendapatkan bahan makanan sejak 3 Juni 2023 lalu.
"Kekeringan itu juga menyebabkan warga setempat kesulitan mendapatkan air bersih hingga mengakibatkan enam warga yang meliputi lima orang dewasa dan seorang bayi meninggal dunia. Diduga dikarenakan diare dan dehidrasi," kata Abdul Muhari.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Puncak per Minggu (30/7/2023).
Baca Juga: Hendak Perbaiki Mesin Air, Kakek Sihin Tewas Tercebur Sumur di Ciputat Timur
Bencana kekeringan ini telah berdampak pada kurang lebih 7.500 jiwa. Petugas telah melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap korban meninggal.
Adapun penanganan darurat yang telah dilakukan meliputi penyelidikan epidemiologi kepada para korban yang meninggal dunia oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah.
Selain itu, distribusi bantuan makanan dan obat-obatan serta penyuluhan kesehatan juga dilakukan secara berkala.
Operasi pemantauan dan penanganan kesehatan ini juga didampingi oleh Emergency Medical Team (EMT) Regional Papua.
Baca Juga: Pemilik Fiber Optik yang Bikin Sultan Alfatih Celaka Ikut Buka Suara, Sudah Beritikad Baik
Pemkab Puncak juga mendistribusikan bantuan logistik dan peralatan yang meliputi makanan siap saji 4.000 paket, makanan anak 4.000 paket, serta lauk pauk siap saji 2.000 paket.
Kemudian, ada tenda gulung 500 lembar, sarden 25 dus, kornet 32 dus, sosis 83 dus, abon sapi 15 dus, biskuit 18 dus, pakaian seragam sekolah anak 3.000 setel, pakaian dewasa 4.000 setel, celana dewasa 4.000 lembar, dan selimut 4.000 lembar.
Abdul Muhari menambahkan bahwa, pemerintah pusat juga turut memberi perhatian dalam penanganan darurat kekeringan di kawasan Pegunungan Tengah Papua itu.
Baca Juga: 15 Pemain Termahal Bursa Transfer Musim Panas 2023, Duo Anyar Arsenal Masuk 3 Besar
Rencananya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto akan bertolak ke Kabupaten Papua Tengah pada Rabu 2 Agustus 2023. ***




