POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Salah satu olah raga sekaligus permainan yang ternyata tidak pernah pudar, yaitu main layangan sekaligus adu ketangkasan.

Memang bermain layangan sepertinya berlaku hanya musiman, itu tentu saja bagi anak-anak remaja bahkan sebelum remaja.

Musim layangan bagi anak-anak biasanya mulai pada musim panas, yaitu sekitar bulan Juni, Juli, Agustis hingga awal September setiap tahunnya.

Baca Juga: Simpati Mengalir untuk Ibu 2 Anak yang Diceraikan Suami Jelang 3 Hari Terima SK PPPK di Aceh Singkil

Beda hal nya dengan para orang dewasa, bermain layangan seolah tidak ada liburnya, karena hal itu bisa menjadi olah raga yang cukup menegangkan tapi juga menyenangkan.

Bagi para orang dewasa, bermain layangan tidak mengenal musim. Ketika waktu di sore hari cuacanya mendukung ( tidak turun hujan ), mereka akan bermain layangan.

Biasanya para pemain layangan profesional memiliki group-group atau komunitas-kamunitas, yang setiap komunitasnya mencapai puluhan orang.

Baca Juga: Warga Pondok Aren Terisolasi, Akses Rumah Tertutup Tembok Proyek Graha Raya

Mereka biasanya berkomunikasi melalui group-group Whatsapp, kemudian berkumpul bersama di lokasi adu layangan yang sudah biasa di gunakan.

Main layangan para orang dewasa tentu hampir sama dengan bermain layangan dengan anak-anak, tapi tentunya ada aturan yang sudah baku ditentukan.

Karena, bukan hanya sebatas bermain layangan. Melainkan adu ketangkasan antar para pemain layangan, untuk saling mengadu tenaga dan juga kejelian untuk mengalahkan lawan yang sudah ditentukan.

Baca Juga: Cegah Kekerasan Anak Sejak Dini: Sekolah Ramah Anak Jadi Pondasi Karakter Positif

Umumnya, para orang dewasa mengadu ketangkasan pada sore hari umumnya untuk berolah raga dan untuk menghilangkan kebiasaan buruk tidur pada sore hari.

Olah raga adu layangan selain menggunakan tenaga, juga menggunakan strategi dan kelincahan pemain saat melakukan manuver-manuver layangan di udara.

Menurut Ade Sobari, salah seorang pecinta adu ketangkasan layangan, banyak komponen yang terbantu dengan adanya para pemain layangan.

Baca Juga: Menumbuhkan Literasi Digital Sejak Dini: Kunci Anak Tumbuh Cerdas, Kritis, dan Bijak di Dunia Maya

“Yang pertama untuk meningkatkan pendapatan para UMKM pengrajin layangan, senar tajam (gelasan) juga para petani bambu,” kata Ade Sobari, Rabu (22/10).

Yang kedua, yaitu terjalinnya rasa persaudaraan antar para pemain yang setiap hari bisa bertemu dan saling menayakan kabar.

“Yang ke tiga, tentu menghilangkan kepenatan setelah seharian bekerja di tempat kerjanya masing-masing,” tambah Ade Sobari.

Dan yang tidak kalah pentingnya, selama beberapa jam para pemain layangan biasanya lepas dari segala aktifitas Gadget. Karena fokus untuk adu ketangkasan layangan.

“Yang paling penting, tidak ada status sosial dalam bermain adu ketangkasan layangan. Mau itu pekerja kuli kasar, pekerja kantoran, pengusaha dan lainnya, semua sama berbaur menjadi satu,” beber Ade Sobari, mengakhiri pembicaraan.***