POJOKSATU.id - Memahami istilah investasi menjadi hal penting sebelum seseorang memutuskan menanamkan modal.
Salah satu istilah yang cukup sering muncul adalah high risk.
Secara sederhana, high risk berarti risiko tinggi.
Dalam investasi, istilah tersebut menggambarkan kemungkinan nilai modal mengalami penurunan atau investor menghadapi kerugian yang lebih besar.
Baca Juga: Ini Kata Kabid Humas Polda Metro Soal Keterlibatan Ormas di Kasus Tewasnya Bambang di Pejompongan
Nah, risiko seperti ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari profil risiko setiap investor.
Profil risiko menggambarkan kemampuan, toleransi, serta kenyamanan seseorang ketika menghadapi perubahan nilai investasi.
Karena itu, instrumen yang dianggap terlalu berisiko bagi satu orang belum tentu memiliki tingkat risiko yang sama menurut investor lainnya.
Menariknya, high risk kerap berjalan beriringan dengan potensi keuntungan yang lebih besar. Dari sinilah muncul istilah high risk high return.
High Risk High Return, Apa Maksudnya?
Prinsip high risk high return menggambarkan kondisi ketika instrumen investasi dengan risiko lebih tinggi menawarkan peluang imbal hasil yang juga lebih besar.
Baca Juga: Lakukan Penyegaran Birokrasi, Gus Fawait Resmi Rombak Susunan Pejabat Pemkab Jember
Artinya, potensi keuntungan yang tinggi biasanya disertai dengan konsekuensi risiko yang lebih besar pula.
Namun, prinsip tersebut bukan berarti setiap investasi berisiko tinggi pasti menghasilkan keuntungan besar.
Nilai investasi tetap dapat mengalami penurunan dan investor bahkan bisa kehilangan sebagian modal.
Karena itu, pengalaman, pengetahuan, kemampuan menganalisis kondisi pasar, serta strategi investasi menjadi penting sebelum memilih instrumen dengan risiko tinggi.
Terlebih bagi investor pemula, mengejar keuntungan besar tanpa memahami risikonya bisa menjadi keputusan yang kurang bijak.
Jadi, high risk bukan berarti instrumen tersebut harus selalu dihindari.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan tingkat risiko sesuai dengan tujuan investasi, kondisi keuangan, dan kemampuan masing-masing.
Saham Contoh Investasi Berisiko Tinggi
Saham merupakan salah satu instrumen yang memiliki risiko cukup tinggi karena harganya dapat bergerak mengikuti kondisi pasar.
Meski begitu, saham tetap banyak diminati karena memberikan peluang keuntungan melalui dua sumber utama, yakni dividen dan capital gain.
Capital gain diperoleh ketika investor menjual saham dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga saat membelinya.
Sementara dividen merupakan bagian keuntungan perusahaan yang dapat dibagikan kepada pemegang saham sesuai kebijakan perusahaan.
Karena pergerakan harga saham dapat berubah dengan cepat, investor perlu memahami kondisi perusahaan dan faktor pasar sebelum mengambil keputusan.
Cryptocurrency Memiliki Fluktuasi yang Tinggi
Aset kripto atau cryptocurrency juga sering dikaitkan dengan investasi berisiko tinggi.
Bitcoin menjadi salah satu aset digital yang paling dikenal.
Pergerakan harganya dapat mengalami perubahan tajam dalam waktu relatif singkat.
Karakter tersebut membuat aset kripto berpotensi memberikan keuntungan besar ketika harga meningkat.
Namun, pada saat yang sama, penurunan harga juga dapat menyebabkan kerugian yang signifikan.
Itulah sebabnya, investor perlu memahami karakter aset digital sebelum memasukkannya ke dalam portofolio investasi.
Forex Dipengaruhi Kondisi Ekonomi dan Politik
Instrumen lain yang mempunyai risiko tinggi adalah forex atau foreign exchange market.
Perdagangan valuta asing sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi dan politik suatu negara.
Perubahan nilai mata uang dapat berlangsung cepat sehingga peluang keuntungan dan risiko kerugian sama-sama terbuka.
Investor dapat memperoleh keuntungan dari perubahan nilai tukar apabila mampu menentukan waktu transaksi dengan tepat.
Namun, pergerakan pasar yang tidak sesuai prediksi juga dapat membuat kerugian terjadi dalam waktu singkat.
Jadi, pemahaman terhadap mekanisme pasar menjadi hal yang tidak bisa disepelekan.
Properti di Pasar yang Volatil
Investasi real estate juga dapat menjadi pilihan dengan risiko yang perlu diperhitungkan.
Terutama jika dilakukan pada kawasan atau jenis properti tertentu yang memiliki tingkat ketidakpastian tinggi.
Potensi keuntungannya bisa meningkat ketika harga properti mengalami kenaikan.
Namun, ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi nilainya, mulai dari kondisi pasar, perkembangan wilayah, hingga kebijakan dan regulasi pemerintah.
Artinya, investasi properti tidak otomatis bebas risiko hanya karena bentuk asetnya berupa benda fisik.
High Yield Bonds Tawarkan Imbal Hasil Lebih Besar
High yield bonds merupakan instrumen obligasi yang menawarkan imbal hasil relatif tinggi, tetapi juga membawa risiko kredit yang lebih besar.
Salah satu risikonya adalah kemungkinan penerbit mengalami kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran.
Meski memiliki risiko tersebut, instrumen ini tetap menarik bagi sebagian investor karena potensi return-nya dapat lebih tinggi dibandingkan obligasi dengan tingkat risiko yang lebih rendah.
Investor tetap perlu melihat kondisi penerbit serta kemampuan pembayaran sebelum mengambil keputusan.
Reksa Dana Saham Eksposur ke Pasar Saham
Reksa dana saham atau reksa dana berbasis indeks juga termasuk instrumen yang memiliki tingkat risiko relatif tinggi karena sebagian besar portofolionya ditempatkan pada saham.
Bedanya, investor tidak perlu mengelola portofolio saham tersebut seorang diri.
Pengelolaan dilakukan oleh manajer investasi profesional.
Dalam praktiknya, reksa dana saham memiliki alokasi aset minimal 80 persen pada investasi saham sesuai ketentuan yang berlaku.
Keberadaan manajer investasi dapat membantu proses pengelolaan portofolio, tetapi bukan berarti risiko kerugian menjadi hilang.
Diversifikasi Jadi Bagian Penting
Memilih instrumen high risk high return membutuhkan pertimbangan yang matang.
Investor tidak hanya perlu melihat potensi keuntungan, tetapi juga harus menghitung kemungkinan kerugian.
Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mengelola risiko adalah diversifikasi.
Dengan diversifikasi, dana tidak hanya ditempatkan pada satu jenis instrumen.
Investor dapat mengombinasikan aset dengan karakter risiko berbeda sesuai tujuan dan kondisi keuangan.
Aset yang relatif stabil juga dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari portofolio.
Emas, misalnya, kerap digunakan sebagai salah satu pilihan diversifikasi karena secara historis nilainya cenderung bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi.
Salah satu pilihan untuk memiliki emas adalah melalui Tabungan Emas di Pegadaian.
Produk tersebut memungkinkan masyarakat membeli emas dengan nilai awal yang relatif terjangkau.
Saldo emas juga dapat dimanfaatkan sesuai ketentuan produk, termasuk untuk transaksi gadai atau buyback.
Selain itu, saldo dapat dikirimkan kepada sesama pemilik Tabungan Emas maupun dikonversikan ke emas fisik sesuai ketentuan yang berlaku.
Investasi dengan risiko tinggi memang menawarkan peluang yang menarik.
Namun, jangan sampai besarnya imbal hasil membuat kita lupa bahwa setiap peluang selalu memiliki konsekuensi.
Memahami kemampuan diri, mengenali risiko, dan tidak menaruh seluruh modal pada satu tempat menjadi langkah yang jauh lebih penting.
Sebab, investasi yang baik bukan hanya tentang seberapa besar keuntungan yang ingin dikejar, tetapi juga seberapa bijak kita menjaga apa yang sudah dimiliki.***


