POJOKSATU.id, SUBANG - Kabar duka kembali melanda Subang, kabarnya hari ini ada kejadian orang meninggal akibat Minuman Keras ( Miras ) Oplosan.

Kabarnya para korban Miras Oplosan, sempat dilarikan ke rumah sakit tapi sayangnya nyawa mereka tidak tertolong.

Dari informasi yang pojoksatu.id kumpulkan, korban meninggal akibat miras oplosan hingga petang tadi mencapai 4 orang.

Baca Juga: Rambut Sewu, Ritual Kuno Penjaga Keseimbangan Alam yang Diyakini Bisa Berujung Petaka Jika Disalahgunakan

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Subang, saat di konfirmasi via seluller mengatakan masih dalam pendataan.

"Msh dalam pendataan," singkat AKP. Bagus Panuntun, via seluller kepada ppjoksatu.id, Rabu (11/02).

Adanya kasus meminggalnya para pemuda yang diduga akibat miras oplosan, merupakan pukulan berat bagi pemerintah dan aparat setempat.

Baca Juga: Validasi TPG Januari Resmi Ditutup 11 Februari, Bagaimana Nasib Guru yang Statusnya Masih Belum Valid?

Karena kejadian ini kembali berulang memakan korban, dampak dari lemahnya pengawasan dan bebasnya peredaran Miras di Subang.

Terpisah, Maraknya peredaran minuman keras (miras) yang diduga mengakibatkan 4 orang meninggal dunia pada Rabu (11/02) dini hari di wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat memicu reaksi keras dari kelompok pemuda dan elemen masyarakat.

DPC Moonraker Kabupaten Subang secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap menuntut ketegasan Pemerintah Daerah (Pemda) dan DPRD dalam menegakkan peraturan daerah yang dinilai "mandul".

Baca Juga: Baking Soda Viral Dijadikan Skincare Pencerah, Dokter Kulit Ingatkan Bahaya yang Mengintai

Sekretaris Jenderal DPC Moonraker Kabupaten Subang, Aang, menyatakan bahwa kondisi Subang saat ini berada dalam taraf krisis moral akibat lemahnya penegakan hukum terhadap peredaran alkohol.

Dalam keterangannya, Aang menyoroti keberadaan toko dan kios miras yang beroperasi tanpa izin resmi di lokasi strategis, termasuk di sekitar pusat pemerintahan, Gedung DPRD, hingga Masjid Agung Subang.

"Ini adalah bentuk penghinaan terhadap nilai agama dan martabat pemerintahan. Wilayah yang seharusnya menjadi simbol ketertiban dan kesucian justru dikepung oleh aktivitas penjualan miras yang memicu kriminalitas," tegas Aang dalam pernyataan tertulisnya, yang diterima pojoksatu.id, Rabu (11/02). ***