POJOKSATU.ID - Bank Indonesia terus mendorong pengembangan pembiayaan hijau sebagai salah satu langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Muslimin Anwar, menjelaskan bahwa pembiayaan hijau diproyeksikan terus meningkat di masa depan, seiring dengan dukungan bauran kebijakan nasional yang semakin terarah.
"Pembiayaan hijau menjadi kunci dalam mendukung transformasi ekonomi berkelanjutan. Berdasarkan survei yang dilakukan pada 35 bank sampel, pangsa pasar kredit hijau mencapai 7% dari total kredit industri hingga Juni 2024," ujar Muslimin.
Baca Juga: Ini Prediksi Skor dan Susunan Pemain West Ham vs Arsenal, The Gunners Menang Selisih 2 Gol
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan kredit hijau secara tahunan (yoy) tercatat positif, dengan tingkat pertumbuhan mencapai 12%-15% pada periode 2022 hingga 2024.
Menurut data, pembiayaan hijau didominasi oleh segmen pengelolaan sumber daya alam hayati, khususnya crude palm oil (CPO), serta bank-bank dalam kategori Kelompok Bank Modal Inti 4 (KBMI 4) yang menyumbang 74% dari total pembiayaan hijau.
Aktivitas ekonomi berkelanjutan lainnya yang menjadi prioritas mencakup pengelolaan energi terbarukan, konservasi keanekaragaman hayati, serta pengelolaan air dan limbah berkelanjutan.
Baca Juga: Prediksi Skor dan Susunan Pemain Big Match Liverpool vs Manchester City, The Reds Diunggulkan!
Namun demikian, Muslimin menggarisbawahi bahwa terdapat berbagai tantangan di sisi demand dan supply yang perlu diatasi untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan hijau.
"Di sisi permintaan, produk hijau belum menjadi fokus utama para debitur, sementara insentif moneter untuk produk hijau masih terbatas. Proses sertifikasi juga cenderung memakan waktu yang lama dan mahal," jelasnya.
Dari sisi penawaran, tantangan implementasi taksonomi hijau, biaya proyek yang tinggi, serta keterbatasan SDM dan inovasi produk menjadi hambatan utama.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Bank Indonesia merekomendasikan sejumlah langkah strategis, termasuk:
1. Pembangunan infrastruktur keuangan berkelanjutan dan harmonisasi kebijakan transisi hijau.
2. Peningkatan interoperabilitas platform keuangan hijau untuk mendorong efisiensi.
3. Dukungan kebijakan fiskal untuk mempercepat pembangunan ekonomi hijau.
Lebih lanjut, Muslimin juga menyebutkan perlunya penguatan peran Badan Pengelola Pengendali Perubahan Iklim dan Tata Niaga Karbon (BP3I-TNK) dalam mendorong pembiayaan hijau di Indonesia.
"Kolaborasi dan harmonisasi kebijakan antarinstansi sangat penting untuk memastikan keberlanjutan ini berjalan sesuai target," tambahnya.
Bank Indonesia optimis bahwa dengan sinergi dan bauran kebijakan yang tepat, pembiayaan hijau dapat menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung transformasi ekonomi Indonesia menuju pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.***



