POJOKSATU.id, Kota Bandung - Pemerintah Kota Bandung bersiap melakukan penataan besar-besaran terhadap terminal tipe C yang selama ini dikelola langsung oleh Pemkot.
Revitalisasi ini sejalan dengan rencana perubahan peran angkutan kota (angkot) yang tak lagi menjadi moda utama, melainkan sebagai feeder atau pengumpan transportasi massal.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 14 terminal tipe C di Kota Bandung dengan kondisi yang dinilai belum optimal.
Terminal Ujungberung menjadi salah satu contoh yang disorot karena fungsinya sudah jauh bergeser dari peruntukan awal.
“Terminal tipe C yang dikelola Pemkot itu ada sekitar 14. Rata-rata kondisinya ya seperti sekarang, termasuk Ujungberung,” ujar Farhan dalam siaran pers, Rabu (14/1/2025).
Sebagai langkah strategis, Pemkot Bandung akan mengadopsi konsep angkot feeder yang telah diterapkan di sejumlah wilayah penyangga.
Dengan konsep ini, angkot tidak lagi menjadi tulang punggung transportasi, melainkan berfungsi menghubungkan kawasan permukiman dengan moda transportasi utama.
“Kita akan mengubah konsep angkot menjadi feeder. Ini sudah dicontohkan di wilayah subprovinsi dan akan kita adopsi di seluruh Kota Bandung,” jelas Farhan.
Perubahan tersebut berdampak langsung pada fungsi terminal tipe C.
Farhan menilai, saat ini banyak terminal yang hanya dilewati angkot tanpa benar-benar dimanfaatkan sebagai titik naik turun penumpang.
“Sekarang terminal itu kebanyakan cuma dilewati saja. Jadi kita dalami dulu, kalau fungsinya memang tidak ada, akan kita alihkan,” katanya.
Salah satu opsi pengalihan fungsi terminal adalah pemanfaatannya sebagai fasilitas publik, seperti pengolahan sampah.
Konsep ini sebelumnya telah diterapkan di kawasan Ciwastra dan kini tengah dikaji untuk terminal-terminal lainnya.
“Seperti di Ciwastra, rencananya ada terminal yang dijadikan tempat pengolahan sampah,” ungkap Farhan.
Kondisi Terminal Ujungberung dinilai semakin menguatkan urgensi revitalisasi.
Terminal tersebut kini lebih banyak berfungsi sebagai kios pasar dan ojek pangkalan dibanding simpul transportasi.
“Di Ujungberung sekarang jadi kios pasar dan ojek pangkalan. Artinya memang kita harus melakukan revitalisasi angkot,” ujarnya.
Farhan menegaskan, perubahan konsep ini merupakan bagian dari upaya membangun sistem transportasi Kota Bandung yang lebih tertata, efisien, dan terintegrasi antar moda.
“Konsep utamanya angkot sebagai feeder. Itu yang paling penting,” tutupnya.




