POJOKSATU.id, Kota Bandung - Satu tahun memimpin kota Bandung, Wali Kota Muhammad Farhan menyoroti stunting yang masih tinggi diakibatkan salah satunya rumah belum memiliki septic tank.

Bahkan pada SisKamling dan Laci RW, Farhan menerima informasi sekitar 27 persen rumah di Kota Bandung belum memiliki septic tank.

"Masih terjun bebas, ini tantangan besar. Akibatnya apa? Diare tinggi. Ketika diare tinggi, dampaknya stunting," ujar Farhan di Balai Kota.

Angka 27 persen rumah tanpa septic tank sendiri memang sudah ada sejak lima tahun lalu dan belum turun, kemungkinan karena ada persoalan keberpihakan anggaran.

"Di kawasan padat, sering kali septic tank berada di depan gang, sementara toilet warga ada di belakang rumah. Untuk memindahkan saluran pipa ke depan membutuhkan biaya sekitar Rp5 juta dan itu harus ditanggung sendiri. Tidak semua warga mampu," jelasnya.

Karena itu, kata dia Pemkot Bandung akan mencari mekanisme seperti program Rutilahu untuk membantu pembiayaan tersebut.

"Biotank sendiri merupakan inovasi. Jika sebelumnya satu septic tank seharga Rp21 juta untuk 3–5 rumah, kini hanya Rp15 juta. Ke depan, kita akan upayakan subsidi bagi warga yang harus memindahkan saluran toilet dari belakang rumah yang menghadap sungai ke bagian depan," imbuhnya.

Rumah menghadap ke sungai sendiri kata dia, sebarannya hampir merata di beberapa titik wilayah Kota Bandung.

Yang pasti di mana ada sungai, biasanya ada persoalan septic tank.

"Pernah dicoba membangun septic tank di atas sungai, tetapi terbawa arus. PDAM juga pernah memberi ide. Bahkan pada masa Bandung Urban Development Project (BUDP), pipa beton yang digunakan kini setelah 30 tahun banyak yang rusak.Ini tantangan yang akan kita benahi, sambil terus menggerakkan SisKamling," paparnya.

Selain septic tank, rumah lakyak huni (Rutilahu) pun masih banyak yang akses udara, ventilasi dan pencahayaannya buruk sehingga kasus penderita TBC tinggi.

"Hal itu menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun alhamdulillah, semuanya tetap berjalan baik," terangnya.