POJOKSATU.id, Kota Bandung — Lebih dari 1000 anggota Paguyuban Pasundan dari berbagai daerah hadir dalam acara halal bihalal Keluarga Besar Paguyuban Pasundan pada Senin, 30 Maret 2026.

Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan Prof.Dr.H.M Didi Tumudzi, M.Si, menegaskan pentingnya puasa Ramadan sebagai bekal meningkatkan ketaatan, ilmu, dan karakter pejuang — pemberani serta pantang menyerah — yang berdampak pada semangat meraih kemuliaan umat.

"Puasa sejatinya menjadi bekal untuk melahirkan hamba Allah yang memiliki ilmu yang tinggi, membentuk karakter pejuang, pemberani, petarung dan pantang menyerah. Ramadhan juga semestinya memberikan efek luar biasa kepada seorang muslim dan umat Islam secara keseluruhan, yaitu berupa kemauan untuk meraih kembali kemuliaan Islam dan Ummatnya," tuturnya di kantor Paguyuban Pasundan, Jalan Sumatera 41 Bandung.

Didi juga meminta agar anggotanya tolong menolong, bantu membantu dan jangan terpengaruh oleh upaya adu domba antara Sunni dengan Syiah.

"Kita doakan semoga bangsa Palestina, dan bangsa Persia (Iran) selamat dari ujian yang sangat berat ini,"paparnya.

Lebih lanjut ia meminta para pimpinan di lingkungan Paguyuban Pasundan jangan menjadi pimpinan yang menyesatkan, karena akan membahayakan kelangsungan dan eksistensi Paguyuban Pasundan.

"Celup anak-anak, para Mahasiswa dengan celupan ke Islaman yang kuat dan budaya lokal," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pangaping Paguyuban Pasundan, Mayjen (Purn) Dr. Tb. Hasanuddin, S.E., M.M. menekankan perlunya pengurus Paguyuban Pasundan lebih dekat dengan pengurus daerah dan cabang.

"Konsep dari pusat harus diimplementasikan turun ke lapangan agar bermanfaat nyata. Ia mengingatkan agar Paguyuban tidak menjadi pimpinan yang menyesatkan dan mengajak organisasi untuk memperkuat jati diri Sunda melalui pendidikan, budaya, dan gotong royong," tuturnya.

Sementara itu, Dewan Pangaping Paguyuban Pasundan, Komjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Mochamad Iriawan, S.H., M.M., Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi peran Paguyuban Pasundan sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar bagi masyarakat Sunda.

Bahkan, usianya hampir seiring dengan Persib Bandung sebagai simbol kebanggaan daerah.

Paguyuban Pasundan dinilai tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mendorong kemajuan pendidikan, kemandirian, serta martabat masyarakat Sunda agar mampu bersaing di era modern.

Nilai-nilai kearifan lokal seperti keseimbangan hidup, gotong royong, dan tata krama tetap menjadi landasan utama.

Iriawan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga jati diri budaya sekaligus bersikap adaptif dan inovatif dalam menghadapi tantangan zaman.

Momentum ini diharapkan dapat memperkuat kebersamaan, ukhuwah, serta mewujudkan cita-cita luhur para pendiri Paguyuban Pasundan.

Sedangkan Dewan Pakar Paguyuban Pasundan Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. mengucapkan maaf lahir batin memalui vidio streaming.

Ia berharap Paguyuban terus berkontribusi memajukan bangsa dan negara.

Silaturahmi ditutup dengan tausiah oleh Ustadz Dr. Aam Amirudin yang mengupas makna silaturahmi bada Idul Fitri sebagai momentum memperkuat ukhuwah, memperbaiki hubungan sosial, dan menjaga nilai‑nilai keislaman serta kebudayaan Sunda.

Acara ditutup dengan permohonan maaf‑memaafkan, ucapan terima kasih kepada panitia dan undangan (sekitar 1.000 tamu yang diundang), serta harapan agar kebersamaan dan cita‑cita pendiri Paguyuban Pasundan terus dihidupkan melalui program‑program nyata di daerah.