Trauma Makanannya Dicampur Sperma, Istri Dokter Sulit Makan Dan Tidur

Ilustrasi. Seorang pria memperlihatkan sperma

POJOKSATU.id, SEMARANG – Seorang istri dokter trauma gara-gara makanannya dicampur sperma oleh teman suaminya yang berprofesi sebagai dokter.

Akibat kejadian itu, istri dokter itu mengalami trauma berat. Ia sulit makan dan tidur.

Kasus yang terjadi pada Oktober 2020 itu kini tengah ditangani Polda Jawa Tengah.

BACA: Dokter Campurkan Sperm4 ke Makanan Istri Teman Ditetapkan Tersangka


Pelaku berinisial dr DP itu telah diperiksa polisi dan ditetapkan sebagai tersangka.

Legal Resource Center untuk Keadlian Jender dan HAM (LRCKJHAM) Semarang mendesak Polda Jateng untuk segera mempercepat proses penanganan kasus tersebut.

Pendamping korban dari LRC-KJHAM, Nia Lisayati mengatakan, kejadian tersebut diduga dilakukan pelaku sejak Oktober 2020.

“Kami mendesak untuk dipercepat karena kasus ini urgent, salah satunya mengakibatkan korban trauma,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Perempuan yang akrab disapa Nia itu menjelaskan, dampak dari tindakan tersebut, korban mengalami trauma berat, gangguan makan, gangguan tidur, serta gangguan emosi.

Untuk menenangkan diri, korban harus mengonsumsi obat antidepresan yang diresepkan psikiatri sejak Desember 2020 hingga saat ini.

Selain itu, korban juga harus melakukan pemeriksaan ke psikiatri, dan melakukan pemulihan psikologis ke psikolog.

Tak hanya itu, lanjut Nia, korban juga berisiko mengalami masalah kesehatan akibat mengonsumsi sperma yang tidak seharusnya dikonsumsi oleh manusia.

Cairan sperma tersebut bisa mengandung bakteri atau pun virus yang suatu saat nanti bisa menjadi penyakit atau menjadi pencetus suatu penyakit.

“Saat ini, korban telah mendapatkan perlindungan dari LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) berupa layanan pemenuhan hak prosedural, bantuan medis, rehabilitasi psikologis, dan fasilitasi restitusi,” tuturnya.

Nia menegaskan, tindakan pelaku merupakan kekerasan terhadap perempuan. Hal ini sebagaimana Rekomendasi Umum PBB Nomor 19 tentang Kekerasan Terhadap Perempuan.

Pelaku juga melanggar pasal 281 KUHP, dan telah melanggar Sumpah Dokter.

Yakin Pelaku Tak Sakit Jiwa

Kendati sudah dilaporkan ke Polda Jateng dan bersiap dilimpahkan ke Kejati Jateng, Nia menyesalkan karena berkas dikembalikan oleh jaksa dua kali dengan alasan pelaku harus menjalani pemeriksaan kejiwaan.

Alasan ini, menurut Nia tidak masuk akal.

Menurutnya, pelaku tidak memiliki kelainan jiwa, sehingga harus menjalani pemeriksaan kejiwaan.

“Pelaku itu seorang dokter, bahkan sudah berpraktik. Secara logika, dia sadar dengan perbuatannya. Jadi, tidak perlu diperiksa kejiwaan, tapi harus diproses secara hukum,” tegasnya.

Terpisah, Kabid Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Tengah Reni Yuniati mengatakan, saat ini IDI belum berani menjawab terkait kasus tersebut.

Pihaknya belum mengetahui siapa pelaku, dan motif yang dilakukan.

“Kami belum melakukan investigasi atas berita yang saat ini muncul. Kami tahunya juga dari berita. Nanti ketua IDI akan menelusuri hal itu di Polda Jateng. Kalau sudah jelas semua akan kita sampaikan,” katanya. (mha/ida/aro)