Tukang Ojek Gencot Penumpang: Puasin Saya Dulu, Jangan Dah Bayar Ongkos

Ilustrasi pemerkosaan

POJOKSATU.id, MATARAM – Kasus tukang ojek gencot penumpangnya sendiri sedang bergulir di Pengadilan Negeri Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Tukang ojek itu bernama Dewa Made Keter, warga Gerung, Kabupaten Lombok Barat.

Kakek 75 tahun ini dituntut terancam hukuman penjara karena diduga memperkosa penumpangnya inisial M, wanita dewasa.

Pemerkosaan terjadi pada Senin malam, 1 Juni 2021. Saat itu, Made Keter menjemput korban dengan menggunakan sepeda motor.


Korban dijemput di tempat kerjanya di Jalan Catur Warga, Kota Mataram.

Korban saat itu meminta diantar pulang ke rumahnya di Desa Dasan Tapen, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat.

Jalan yang biasa dilalui yaitu perempatan Dasan Cermen ke arah selatan, tetapi saat itu korban dibawa melalui Jalan Bypass Jempong menuju arah Gerung.

Saat dalam perjalanan terdakwa masuk ke jalan yang gelap dan sepi. Korban sempat bertanya “Mau kemana kita ini?”. Pelaku menjawab “Mau buang diri”.

Mendengar jawaban pelaku, korban merasa ketakutan. Korban sempat memukul pelaku dari arah belakang dengan maksud agar diantar pulang melalui jalan yang semestinya.

Begitu sampai di jalan yang sepi dan gelap, pelaku langsung memberhentikan sepeda motornya.

Saat berhenti itu, korban langsung lari. Hanya saja berhasil dikejar oleh pelaku.

Kakek berusia 75 tahun ini menarik rambut korban hingga terjatuh dan mengalami luka.

Setelah itu, pelaku menjepit leher korban menggunakan tangannya hingga korban sulit bernapas.

Selanjutnya, pelaku merampas HP korban dan mengeluakan baterai dan kartu SIM, lalu dibuang.

Korban terus berontak dan lari, tetapi kembali berhasil dikejar oleh pelaku.

Korban pun diminta kembali naik ke sepeda motor sembari diancam akan dibunuh.

Saat itu korban mengira bakal langsung diantar pulang sehingga dia menurut saja.

Pelaku melanjutkan perjalanan. Hanya saja bukannya langsung membawa korban pulang tetapi malah membawanya ke tempat sepi yang ada berugaknya.

Di tempat itu, pelaku membuka celananya dan memaksa korban membuka celana.

Korban berteriak minta tolong tetapi tidak ada orang. Pelaku terus berusaha melancarkan aksi bejatnya sembari mengatakan “Puasin saya dulu. Jangan dah bayar ongkos ojek”.

Korban pun tidak berdaya melawan. Aksi bejat terhenti setelah ada orang dari kejahuan mengarahkan senter ke arahnya.

Seketika itu pelaku langsung memasang celana. Begitu juga dengan korban.

Pelaku kemudian meminta korban naik ke sepeda motor dan setelah itu diantar pulang.

Sesampainya di rumah korban, pelaku berpesan agar tidak menceritakan apa yang telah diperbuatnya.

Korban kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya ke pihak keluarga dan setelah itu melapor ke polisi.

Dewa Made Keter Dituntut 8 Tahun

Atas perbuatan Dewa Made Keter, korban mengalami trauma dan luka di beberapa bagian tubuhnya akibat terjatuh dan ditarik.

Korban tidak mengalami robek pada selaput dara. Yang ada hanya luka lecet. Hal itu berdasarkan hasil visum di Rumah Sakit Bhayangkara.

“Perbuatan terdakwa melanggar pasal 285 KUHP,” ucap jaksa penuntut umum (JPU) Baiq Sri Saptianingsih saat membacakan tuntutan kepada terdakwa dalam sidang yang digelar secara daring oleh Pengadilan Negeri Mataram pada Senin (6/9).

“Menuntut terdakwa Dewa Made Keter alias Kaking dengan pidana penjara selama 8 tahun dikurangi selama terdakwa berada di dalam tahanan,” tambah Baiq Sri Saptianingsih.

Terhadap dakwaan ini, Made Keter melalui penasihat hukumnya Deni Nur Indra akan mengajukan nota pembelaan (pledoi) secara tertulis.

“Kami mohon waktu selama seminggu yang mulia,” ujar Deni Nur Indra.

Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembacaan pledoi dari terdakwa Dewa Made Keter. (der/radarlombok)