Berapa Banyak Perawan Jebol di Malam Tahun Baru?

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU – Tahun baru pacar baru, tahun baru kenangan baru, tahun baru pengalaman baru. Begitulah prinsip lelaki itu menyambut tahun baru. Karenanya, setiap menjelang tahun baru, dia sudah mematangkan planning, mulai dari tempat perayaan tahun baru hingga menyiapkan pesta untuk mengisi malam pergantian tahun.

Sebut saja Anton. Usianya 32 tahun. Dia teman baik saya, sehingga bersedia menceritakan pengalamannya menghabiskan malam tahun baru. Anton begitu serius mengisahkan padaku bahwa keperawanan pacarnya terenggut pada malam tahun baru di sebuah vila di kawasan Puncak Bogor.

Kasus seperti ini banyak terjadi di malam tahun baru. Ya, perempuan kita selalu menjadi korban atas nama cinta, kekasih, kesetiaan, pengorbanan, calon suami yang belum tentu jadi suami beneren. Aku bingung, mengapa malam tahun baru identik dengan masa pelepasan keperawanan?

Teramat sulit bagiku memahaminya, beginikah cara merayakan tahun baru? Ini sama saja menistakan malam tahun baru. Mengotori hakikat pergantian baru. Mestinya, pergantian tahun baru dilakukan dengan cara-cara manusiawi, berbudaya dan penuh renungan, refleksi dan resonansi kehidupan.


Jelang tahun baru, agenda anak muda sudah terusun rapi. Dan hal seperti itu terjadi di semua kota-kota besar di Indonesia. Hotel-hotel dan penginapan sudah banyak yang habis di-booking, terutama di daerah kawasan wisata, seperti Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Seminggu sebelum tahun baru, vila-vila di kawasan sejuk itu habis di-booking. Jalur menuju Puncak pun padat merayap. Para wisatawan lokal dan anak muda jauh-jauh hari berangkat ke Puncak agar tidak kerkena imbas macet. Selain itu, mereka juga ingin berlama-lama di Puncak agar bisa menggoreskan pengalaman yang mungkin tak akan terlupakan sepanjang hidup mereka.

Banyaknya hotel dan vila yang sudah di-booking jelang tahun baru tentu menjadi gelagat yang kurang baik. Ini berarti bahwa sudah ada deal-deal dan sudah ada perencanaan matang jauh sebelum malam tahun baru itu tiba.

Suatu hari, aku berobat ke dokrer. Kami larut dalam diskusi panjang. Ya, hari itu pasiennya cuman saya, sehingga kami leluasa bercerita apa saja di ruangannya. Tiba-tiba dia melayangkan pertanyaan yang membuatku cukup miris. “Berapa banyak lagi gadis yang akan hilang perawannya di malam tahun baru ini?”.

Saya hanya menjawab ringan: “Itu hak mereka!”. Dokter ini tersenyum kecut. Ia memang dokter spesialis obgin. Kerap bercerita padaku akan pedihnya kasus-kasus aborsi dari `pasutri palsu’ yang tak sedikit berujung kepada kematian dan sempitnya terali besi di bui.

Karena itu, waspadailah perilaku anak-anak kita di lingkungan rumah tangga. Banyak agenda-agenda yang mesti kita teliti dan cermati. Jangan sampai putri kita di ambang kehancuran yang kita tak sadari. Seolah mereka baik-baik saja.

Tahun baru 2015 tinggal dua hari lagi. Saatnya orang tua harus ketat. Mencegah selalu lebih baik dari pada rehabilitasi. Rehabilitasi itu bernama penyembuhan tekanan mental, tekanan sosial dan takanan dosa.

Ada baiknya orangtua merancang sendiri agenda malam tahun baru sebelum orang lain yang mendesign perayaan malam tahun baru untuk anak-anak kita,  untuk kemudian terhancurkan masa indah remajanya dan masa depan anak-anak yang kita sangat kasihi itu. Selamat tahun baru semuanya. Semoga tahun baru 2015 lebih baik dari 2014, amin. (***)