POJOKSATU.id - Trigger merupakan stimulus yang dapat memicu kembali ingatan yang menyakitkan. Pemicunya dapat berasal dari pengingatan sensorik terhadap peristiwa traumatis, seperti suara, penglihatan, sensasi fisik, penciuman, waktu, dan musim.
Selain trauma, istilah trigger juga digunakan dalam konteks kesehatan mental lainnya.
Pemicunya dapat berupa apa saja yang kemudian mengaktifkan atau memperburuk gejala kesehatan mental, misalnya pada gangguan obsesif kompulsif (OCD).
Trigger bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Setelah mengalami trigger, seseorang mungkin mengalami perasaan negatif yang besar, seperti kewalahan, ketidakberdayaan, atau ketakutan.
Baca Juga: Pengertian, Sejarah, dan Contoh Trigger dalam Kesehatan Mental, GenZ Wajib Tahu!
Hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan sering kali membutuhkan langkah-langkah pencegahan.
Penting untuk melakukan langkah-langkah tertentu ketika menghadapi trigger.
Berikut adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan saat mengalami trigger.
1. Latih belas kasih dan penerimaan diri
Hindarilah rasa kesal terhadap diri sendiri. Perlihatkan cinta dan kepedulian terhadap dirimu sendiri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana kamu mencintai orang lain.
Apabila sudah terpicu, usahakan untuk melihat situasi secara keseluruhan. Coba lihat dari perspektif yang baru terhadap masalah ini.
Kenali bahwa perasaan intensitas tidak muncul hanya dari pemicu itu sendiri, tetapi juga dari pengalaman traumatis sebelumnya.
2. Cobalah bermeditasi
Tarik nafas dalam-dalam dan fokuskan pikiran bahwa kamu sekarang dalam perasaan aman dan nyaman.
Lakukan meditasi berulang kali jika hal itu bisa membantu. Meditasi juga berguna untuk mengurangi kecemasan yang berlebihan.
Meditasi merupakan metode yang sangat efektif dalam mengatasi kecemasan, depresi, dan stres.
Selain itu, trigger dalam kesehatan mental juga bisa dicegah dengan cara berikut ini.
1. Belajar mengidentifikas
Pertimbangkan reaksi terhadap pemicu di masa lalu, termasuk siapa atau apa yang terlibat, di mana, kapan, dan mengapa hal itu terjadi.
Perhatikan dengan seksama pola dan tanda-tanda risiko sehingga situasi serupa dapat dihindari.
Baca Juga: Tips Jitu Menjaga Kesehatan Mental, Kunci Sukses Menuju Indonesia Emas 45, GenZ Wajib Baca!
2. Fokus menangani masalah
Saat berupaya mencegah trigger mental memicu reaksi emosional, hadapi pemicu stress secara langsung.
Bisa juga mencari cara untuk menemukan solusi terhadap situasi stress tersebut.
Sebagai contoh, jika melewati rumah sakit dapat memicu ingatan trauma, maka coba cari rute lainnya.
3. Fokus pencegahan pada emosi
Ketika kamu tidak dapat menghilangkan atau menghindari pemicu, fokuslah mengatur reaksi terhadap pemicu stress yang dapat membantu mengurangi dampak pemicu stres tersebut.
Sebagai contoh, praktik meditasi dapat membantu mengurangi tingkat stres dan kecemasan.***



