POJOKSATU.id - Liburan panjang sering dibayangkan sebagai waktu paling menyenangkan bagi anak. Jam sekolah berhenti, jadwal longgar, dan harapan akan momen seru bersama keluarga semakin besar.

Namun di balik suasana santai Liburan Akhir Tahun yang berdekatan dengan Tahun Baru, banyak orang tua justru menghadapi situasi berbeda: anak lebih mudah marah, sensitif, atau menangis tanpa alasan yang jelas.

Perubahan ini kerap membuat orang tua bingung. Padahal, para psikolog anak menjelaskan bahwa kondisi emosional anak sangat dipengaruhi oleh rutinitas.

Baca Juga: Update! Korban Tewas Bencana Sumatera Tembus 1.068 Jiwa, Negara Dinilai Kalah Cepat dari Alam

Saat sekolah berjalan, anak memiliki struktur harian yang memberi rasa aman. Ketika libur panjang datang, struktur itu mendadak hilang dan anak perlu waktu untuk menyesuaikan diri.

Dalam psikologi perkembangan, fase transisi seperti liburan panjang dikenal dapat memicu ketidakstabilan emosi.

Anak belum memiliki kemampuan regulasi emosi sebaik orang dewasa. Ketika ritme hidup berubah drastis, emosi menjadi cara mereka mengekspresikan kebingungan, lelah, atau kecewa.

Berikut beberapa alasan mengapa anak cenderung lebih emosional saat libur panjang.

Baca Juga: IPB University Resmi Luncurkan Program Doktor Ilmu Manajemen, Pendaftaran Dibuka 20 Oktober 2025

- Rutinitas yang tiba-tiba hilang

Sekolah memberi pola waktu yang jelas dan berulang setiap hari.

Saat libur, anak kehilangan keteraturan yang biasanya menjadi pegangan.

Hilangnya struktur ini dapat memicu rasa tidak aman dan membuat emosi lebih mudah meledak.

- Waktu layar yang meningkat

Libur panjang sering diiringi peningkatan penggunaan gawai.

Paparan layar berlebihan berpengaruh pada kualitas tidur dan fokus anak.

Anak yang lelah secara fisik dan mental cenderung lebih sensitif secara emosional.

Baca Juga: Ramai Klaim TPG THR 100 Persen Sudah Cair, Simak Isi Email Balasan Kemenkeu Prime

- Aktivitas fisik yang berkurang

Tanpa kegiatan sekolah, banyak anak kurang bergerak.

Energi yang tidak tersalurkan dapat muncul dalam bentuk rewel atau mudah marah.

Aktivitas fisik membantu tubuh menyeimbangkan emosi.

- Ekspektasi liburan yang tidak selalu terpenuhi

Anak sering membayangkan liburan penuh jalan-jalan dan kesenangan.

Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, muncul rasa kecewa yang sulit diungkapkan.

Kekecewaan ini kerap muncul sebagai ledakan emosi.

Baca Juga: 5 Solusi Bagi Guru Bersertifikasi yang TPG Triwulan 3 dan 4 Belum Cair hingga Bulan Desember Ini!

- Perubahan pola tidur

Jam tidur yang bergeser membuat tubuh anak tidak beristirahat optimal.

Kurang tidur berdampak langsung pada kestabilan suasana hati.

Anak menjadi lebih mudah tersinggung oleh hal kecil.

Dalam konteks Indonesia, sejumlah studi pendidikan dan kesehatan mental anak menunjukkan bahwa masalah emosional pada anak usia sekolah bukan hal yang jarang.

Penelitian di beberapa sekolah dasar perkotaan mencatat sebagian anak menunjukkan gejala kesulitan emosi dan perilaku, yang sangat dipengaruhi oleh pola asuh, kedekatan keluarga, dan suasana rumah.

Baca Juga: Rekening Bansos Jangan Dipakai Transaksi Harian, Ini Alasan Pentingnya

Penelitian lain di Indonesia juga menegaskan bahwa stres orang tua dan minimnya kualitas interaksi di rumah berpengaruh langsung pada kestabilan emosi anak.

Artinya, suasana keluarga selama libur panjang memainkan peran besar dalam membantu anak beradaptasi secara emosional.

Meski liburan memberi kesempatan anak beristirahat dari tekanan akademik, tanpa pendampingan yang tepat, waktu senggang justru bisa memunculkan kebingungan emosional.

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting, bukan sebagai pengatur ketat, melainkan pendamping yang hadir.

Baca Juga: Wabup Intan Dorong Penguatan Karakter di Tengah Laju Teknologi Pendidikan

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu anak lebih stabil selama liburan.

- Menjaga rutinitas ringan seperti jam bangun, makan, dan tidur.

- Menyisipkan aktivitas fisik harian, meski dilakukan di rumah.

- Mengatur waktu layar secara bertahap dan konsisten.

- Memberi ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaannya tanpa dihakimi.

- Melibatkan anak dalam memilih aktivitas agar ia merasa dihargai.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Berpeluang Full Time, Ini Syarat Utamanya

Jika anak meluapkan emosi secara berlebihan, orang tua sebaiknya tetap tenang. Dengarkan, temani secara fisik, dan bantu anak mengenali apa yang sedang ia rasakan.

Pendekatan empatik jauh lebih efektif dibandingkan teguran keras.

Liburan panjang bukan hanya jeda dari sekolah, melainkan masa adaptasi emosi bagi anak.

Dengan pemahaman yang lebih utuh, orang tua dapat menjadikan Liburan Akhir Tahun sebagai momen belajar emosional yang berharga. ***