POJOKSATU.id – Sebagian umat Islam menjalankan sholat tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat. Rinciannya, 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir.
Dalam praktiknya, terdapat susunan surat yang lazim dibaca dan umumnya diambil dari juz 30 Al-Qur’an yang didominasi surat-surat pendek.
Tuntunan sholat tarawih 23 rakaat ini salah satunya bersandar pada riwayat Imam Malik dalam Al-Muwatha’:
"Dari Malik, dari Yazid bin Rumman, ia berkata: Orang-orang pada masa Umar bin Khattab melaksanakan sholat (Tarawih) sebanyak 23 rakaat." (HR. Imam Malik dalam Al-Muwatha’).
Riwayat lain juga menyebutkan praktik 20 rakaat tarawih ditambah witir sebagaimana dijelaskan dalam karya para ulama mazhab Syafi’i.
Lalu bagaimana urutan surat yang biasa dibaca? Berikut susunan lengkapnya.
Urutan Surat Salat Tarawih 20 Rakaat
1. Salam Pertama
Rakaat Pertama: Al-A'la
Sabbiḥisma rabbikal-a'lâ allażî khalaqa fa sawwâ wal-lażî qaddara fa hadâ wal-lażî akhrajal-mar'â fa ja'alahû ghutsâ'an aḥwâ sanuqri'uka fa lâ tansâ illâ mâ syâ'allâh, innahû ya'lamul-jahra wa mâ yakhfâ wa nuyassiruka lil-yusrâ fa dzakkir in nafa'atidz-dzikrâ sayadzdzakkaru may yakhsyâ wa yatajannabuhal-asyqâ allażî yashlan-nâral-kubrâ ṡumma lâ yamûtu fîhâ wa lâ yaḥyâ qad aflaḥa man tazakkâ wa dzakarasma rabbihî fa shallâ bal tu'tsirûnal-ḥayâtad-dun-yâ wal-âkhiratu khairuw wa abqâ inna hâdzâ lafish-shuḥufil-ûlâ shuḥufi ibrâhîma wa mûsâ.
Artinya:
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya), yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, dan yang menumbuhkan (rerumputan) padang gembala, lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman. Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa, kecuali jika Allah menghendaki.
Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Kami akan melapangkan bagimu jalan kemudahan (dalam segala urusan). Maka, sampaikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran, sedangkan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api (neraka) yang besar.
Selanjutnya, dia tidak mati dan tidak (pula) hidup di sana. Sungguh, beruntung orang yang menyucikan diri (dari kekafiran) dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat. Adapun kamu (orang-orang kafir) mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya (penjelasan) ini terdapat dalam suhuf (lembaran-lembaran) yang terdahulu, (yaitu) suhuf (yang diturunkan kepada) Ibrahim dan Musa.
Rakaat Kedua: Al-Ghashiyah
Hal ataaka haditsul ghaasyiyah, wujuuhuy yauma idzin khaasyi’ah, ‘aamilatun naashibah, tashlaa naaran haamiyah, tusqaa min ‘ainin aaniyah, laisa lahum tha’aamun illaa min dharii’, laa yusminu wa laa yughnii min juu’, wujuuhuy yauma idzin naa’imah, lisa’yihaa raadhiyah, fii jannatin ‘aaliyah, laa tasma’u fiihaa laaghiyah, fiihaa ‘ainun jaariyah, fiihaa sururum marfuu’ah, wa akwaabum maudhuu’ah, wa namaariqu mashfuufah, wa zaraabiyyu mabtsuutsah, afalaa yanzhuruuna ilal ibili kaifa khuliqat, wa ilas samaa’i kaifa rufi’at, wa ilal jibaali kaifa nushibat, wa ilal ardhi kaifa suthihat, fa dzakkir innamaa anta mudzakkir, lasta ‘alaihim bimushaythir, illaa man tawallaa wa kafar, fa yu’adzibuhullaahul ‘adzaabal akbar, innaa ilainaa iyaabahum, tsumma inna ‘alainaa hisaabahum.
Artinya:
Sudahkah sampai kepadamu berita tentang al-Gāsyiyah (hari Kiamat yang menutupi kesadaran manusia dengan kedahsyatannya)? Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina, (karena) berusaha keras (menghindari azab neraka) lagi kepayahan (karena dibelenggu). Mereka memasuki api (neraka) yang sangat panas. (Mereka) diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.
Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri, merasa puas karena usahanya. (Mereka) dalam surga yang tinggi. Di sana kamu tidak mendengar (perkataan) yang tidak berguna. Di sana ada mata air yang mengalir.
Di sana ada (pula) dipan-dipan yang ditinggikan, gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya), bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar. Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Bagaimana langit ditinggikan?
Bagaimana gunung-gunung ditegakkan? Bagaimana pula bumi dihamparkan? Maka, berilah peringatan karena sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Akan tetapi, orang yang berpaling dan kufur, Allah akan mengazabnya dengan azab yang paling besar. Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali. Kemudian, sesungguhnya Kamilah yang berhak melakukan hisab (perhitungan) atas mereka.
2. Salam Kedua
Rakaat Pertama: Asy-Syams
Wasy syamsi wa dhuhaahaa, wal qamari idzaa talaahaa, wan nahaari idzaa jallaahaa, wal laili idzaa yaghsyaahaa, was samaa’i wa maa banaahaa, wal ardhi wa maa thahaahaa, wa nafsin wa maa sawwaahaa, fa alhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa, qad aflaha man zakkaahaa, wa qad khaaba man dassaahaa, kazzabat tsamoodu bithaghwaahaa, idzim ba’atsa asyqaahaa, fa qaala lahum rasuulullaahi naaqatallaahi wa suqyaahaa, fa kazzabuuhu fa ‘aqaruuhaa fa damdama ‘alaihim rabbuhum bidzanbihim fa sawwaahaa, wa laa yakhaafu ‘uqbaahaa.
Artinya: Demi matahari dan sinarnya pada waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah). Demi bulan saat mengiringinya. Demi siang saat menampakkannya. Demi malam saat menutupinya (gelap gulita). Demi langit serta pembuatannya. Demi bumi serta penghamparannya. Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya. Lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.
Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (Kaum) Samud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas. Ketika orang yang paling celaka di antara mereka bangkit (untuk menyembelih unta betina Allah). Rasul Allah (Saleh) lalu berkata kepada mereka, "(Biarkanlah) unta betina Allah ini beserta minumannya."
Namun, mereka kemudian mendustakannya (Saleh) dan menyembelih (unta betina) itu. Maka, Tuhan membinasakan mereka karena dosa-dosanya, lalu meratakan mereka (dengan tanah). Dia tidak takut terhadap akibatnya.
Rakaat Kedua: Al-Insyirah
Alam nasyrah laka shadrak, wa wada’naa ‘anka wizrak, alladzi anqadha zhahrak, wa rafa’naa laka dzikrak, fa inna ma’al ‘usri yusraa, inna ma’al ‘usri yusraa, fa idzaa faraghta fanshab, wa ilaa rabbika farghab.
Artinya: Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Nabi Muhammad)? Dan meringankan beban (tugas-tugas kenabian) darimu. Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami meninggikan (derajat)-mu (dengan selalu) menyebut-nyebut (nama)-mu? Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!
3. Salam Ketiga
Rakaat Pertama: At-Tin
Wat tiini waz zaituun, wa tuuri siininn, wa haadzal baladil amiin, laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim, tsumma radadnaahu asfala saafiliin, illalladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihati fa lahum ajrun ghairu mamnuun, fa maa yukadzdzibuka ba’du bid diin, alaisallaahu bi ahkamil haakimiin.
Artinya: Demi (buah) tin dan (buah) zaitun. Demi gunung Sinai. Dan demi negeri (Makkah) yang aman ini. Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Kemudian, Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya. Maka, apa alasanmu (wahai orang kafir) mendustakan hari Pembalasan setelah (adanya bukti-bukti) itu? Bukankah Allah hakim yang paling adil?
Rakaat Kedua: Al-Qadr
Innaa anzalnaahu fii lailatil qadr, wa maa adraaka maa lailatul qadr, lailatul qadri khairum min alfi syahr, tanazzalul malaa’ikatu war ruuhu fiihaa bi idzni rabbihim min kulli amr, salaamun hiya hattaa mathla’il fajr.
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.
4. Salam Keempat
Rakaat Pertama: Al-Bayyinah
Lam yakunilladziina kafaruu min ahlil kitaabi wal musyrikiina munfakkiina hattaa ta’tiyahumul bayyinah, rasuulum minallaahi yatluu shuhufam muthahharah, fiihaa kutubun qayyimah, wa maa tafarraqalladziina uutul kitaaba illaa mim ba’di maa jaa’athumul bayyinah, wa maa umiruu illaa liya’budullaaha mukhlishiina lahud diina hunafaa’a wa yuqiimush shalaata wa yu’tuz zakaata wa dzaalika diinul qayyimah, innalladziina kafaruu min ahlil kitaabi wal musyrikiina fii naari jahannama khaalidiina fiihaa, ulaa’ika hum syarrul bariyyah, innalladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihati ulaa’ika hum khairul bariyyah, jazaa’uhum ‘inda rabbihim jannaatu ‘adnin tajrii min tahtihal anhaaru khaalidiina fiihaa abadaa, radiyallaahu ‘anhum wa raduu ‘anh, dzaalika liman khasyiya rabbah.
Artinya:Orang-orang yang kufur dari golongan Ahlulkitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (kekufuran mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Nabi Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran suci (Al-Qur'an) yang di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar). Tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahlulkitab, melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.
Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). Sesungguhnya orang-orang yang kufur dari golongan Ahlulkitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahanam.
Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhannya adalah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Baca Juga: Ramadan Jadi Ujian Integritas ASN, Wagub Sumut Minta Pelayanan Publik Justru Makin Cepat
Rakaat Kedua: Az-Zalzalah
Idzaa zulzilatil ardhu zilzaalahaa, wa akhrajatil ardhu atsqaalahaa, wa qaalal insaanu maa lahaa, yauma idzin tuhadditsu akhbaarahaa, bi anna rabbaka auhaa lahaa, yauma idzin yashdurun naasu asytaatal liyurau a’maalahum, fa man ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah, wa man ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarah.
Artinya: Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan isi perutnya, serta manusia bertanya, "Apa yang terjadi dengannya (bumi)?" Pada hari itu (bumi) menyampaikan berita (tentang apa yang diperbuat manusia di atasnya) karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar (dari kuburnya) dalam keadaan terpencar untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatan mereka. Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.
5. Salam Kelima
Rakaat Pertama: Al-‘Adiyat
Idzaa zulzilatil ardhu zilzaalahaa wa akhrajatil ardhu atsqaalahaa wa qaalal insaanu maa lahaa, yauma idzin tuhadditsu akhbaarahaa bi anna rabbaka auhaa lahaa, yauma idzin yashdurun naasu asytaatal liyurau a’maalahum, fa man ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah wa man ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarah.
Artinya: Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan isi perutnya, serta manusia bertanya, "Apa yang terjadi dengannya (bumi)?" Pada hari itu (bumi) menyampaikan berita (tentang apa yang diperbuat manusia di atasnya), karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar (dari kuburnya) dalam keadaan terpencar untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatan mereka. Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.
Baca Juga: Komisi IV DPRD Jabar Apresiasi Sistem TPS3R Cimahi, Sampah ke Sarimukti Turun 120 Ton per Hari
Rakaat Kedua: At-Takatsur
Alhaakumut takaatsur hattaa zurtumul maqaabir, kallaa saufa ta’lamuun, tsumma kallaa saufa ta’lamuun, kallaa lau ta’lamuuna ‘ilmal yaqiin, latarawunnal jahiim, tsumma latarawunnahaa ‘ainal yaqiin, tsumma latus’alunna yauma idzin ‘anin na’iim.
Artinya: Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)!
Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (niscaya kamu tidak akan melakukannya). Pasti kamu benar-benar akan melihat (neraka) Jahim. Kemudian, kamu pasti benar-benar akan melihatnya dengan ainul yaqin. Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).
6. Salam Keenam
Rakaat Pertama: Al-‘Asr
Wal ‘ashr, innal insaana lafii khusr, illalladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati wa tawaashau bil haqqi wa tawaashau bish shabr.
Artinya: Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
Baca Juga: Cara Gadai BPKB Motor Secara Online lewat Aplikasi Playstore
Rakaat Kedua: Al-Humazah
Wailul likulli humazatil lumazah, alladzii jama‘a maalaw wa ‘addadah, yahsabu anna maalahuu akhladah, kallaa layumbadzanna fil huthamah, wa maa adraaka mal huthamah, naarullaahil muuqdah, allatii taththali‘u ‘alal af’idah, innahaa ‘alaihim mu’shadah, fii ‘amadim mumaddadah.
Artinya: Celakalah setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia (manusia) mengira bahwa hartanya dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah. Tahukah kamu apakah (neraka) Hutamah? (Ia adalah) api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) naik sampai ke hati. Sesungguhnya dia (api itu) tertutup rapat (sebagai hukuman) atas mereka, (sedangkan mereka) diikat pada tiang-tiang yang panjang.
7. Salam Ketujuh
Rakaat Pertama: Al-Fil
Alam tara kaifa fa‘ala rabbuka bi ashaabil fiil, alam yaj‘al kaidahum fii tadliil, wa arsala ‘alaihim thairan abaabiil, tarmii him bihijaaratim min sijjiil, fa ja‘alahum ka‘ashfim ma’kuul.
Artinya: Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, sehingga Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
Baca Juga: Beredar Informasi Keliru, Pertamina Regional JBB Tegaskan Tak Ada Truk BBM Kecelakaan di Cipali
Rakaat Kedua: Quraisy
Li’iilaafi quraisy, iilaafihim rihlatasy syitaai wash shaif, falya‘buduu rabba haadzal bait, alladzii ath‘amahum min juu‘iw wa aamanahum min khauf.
Artinya: Disebabkan oleh kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas (sehingga mendapatkan banyak keuntungan), maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka'bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.
8. Salam Kedelapan
Rakaat Pertama: Al-Ma’un
Ara’aitalladzii yukadzdzibu bid diin, fa dzaalikal ladzii yadu‘‘ul yatiim, wa laa yahudhdhu ‘alaa tha‘aamil miskiin, fa wailul lil mushalliin, alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun, alladziina hum yuraa’uun, wa yamna‘uunal maa‘uun.
Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.
Maka celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Film Komedi Indonesia Buat Ngabuburit, Dari Agak Laen sampai Kang Solah yang Absurd
Rakaat Kedua: Al-Kautsar
Innaa a‘thainaakal kautsar, fa shalli lirabbika wanhar, inna syaani’aka huwal abtar.
Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah! Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).
9. Salam Kesembilan
Rakaat Pertama: Al-Kafirun
Qul yaa ayyuhal kaafiruun, laa a‘budu maa ta‘buduun, wa laa antum ‘aabiduuna maa a‘bud, wa laa ana ‘aabidum maa ‘abattum, wa laa antum ‘aabiduuna maa a‘bud, lakum diinukum wa liya diin.
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), "Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku."
Rakaat Kedua: An-Nasr
Idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath, wa ra’aitan naasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa, fa sabbih bihamdi rabbika wastaghfirh, innahuu kaana tawwaabaa.
Artinya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.
10. Salam Kesepuluh
Rakaat Pertama: Al-Lahab
Tabbat yadaa abii lahabiw wa tabb, maa aghnaa ‘anhu maaluhuu wa maa kasab, sayashlaa naaran dzaata lahab, wamra’atuh hammat al hathab, fii jiidihaa hablun mim masad.
Artinya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.
Baca Juga: Jelang Ramadan 1447 H, Harga Cabai Rawit Capai Rp83.850 per Kg, Bawang hingga Daging Ikut Naik
Rakaat Kedua: Al-Ikhlas
Qul huwallahu ahad, Allahush shamad, lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakul lahuu kufuwan ahad.
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), "Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya."
Urutan Surat Shalat Witir 3 Rakaat
Rakaat Pertama: Al-A’la
Sabbiḥisma rabbikal-a'lâ allażî khalaqa fa sawwâ wal-lażî qaddara fa hadâ wal-lażî akhrajal-mar'â fa ja'alahû ghutsâ'an aḥwâ sanuqri'uka fa lâ tansâ illâ mâ syâ'allâh, innahû ya'lamul-jahra wa mâ yakhfâ wa nuyassiruka lil-yusrâ fa dzakkir in nafa'atidz-dzikrâ sayadzdzakkaru may yakhsyâ wa yatajannabuhal-asyqâ allażî yashlan-nâral-kubrâ ṡumma lâ yamûtu fîhâ wa lâ yaḥyâ qad aflaḥa man tazakkâ wa dzakarasma rabbihî fa shallâ bal tu'tsirûnal-ḥayâtad-dun-yâ wal-âkhiratu khairuw wa abqâ inna hâdzâ lafish-shuḥufil-ûlâ shuḥufi ibrâhîma wa mûsâ.
Artinya:
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya), yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, dan yang menumbuhkan (rerumputan) padang gembala, lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman. Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa, kecuali jika Allah menghendaki.
Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Kami akan melapangkan bagimu jalan kemudahan (dalam segala urusan). Maka, sampaikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran, sedangkan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api (neraka) yang besar. Selanjutnya, dia tidak mati dan tidak (pula) hidup di sana.
Sungguh, beruntung orang yang menyucikan diri (dari kekafiran) dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat. Adapun kamu (orang-orang kafir) mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya (penjelasan) ini terdapat dalam suhuf (lembaran-lembaran) yang terdahulu, (yaitu) suhuf (yang diturunkan kepada) Ibrahim dan Musa.
Rakaat Kedua: Al-Kafirun
Qul yaa ayyuhal kaafiruun, laa a‘budu maa ta‘buduun, wa laa antum ‘aabiduuna maa a‘bud, wa laa ana ‘aabidum maa ‘abattum, wa laa antum ‘aabiduuna maa a‘bud, lakum diinukum wa liya diin.
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), "Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku."
Salat Witir Salam Kedua
Rakaat Pertama: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas
Untuk membaca surat pada salam kedua sholat witir, lakukan langkah-langkah berikut:
-Baca surat pertama (Al-Ikhlas) hingga selesai, kemudian berhenti sejenak.
-Ucapkan takbir "Allâhu Akbar", lalu berhenti.
-Baca basmalah "Bismillâhir-Raḥmânir-Raḥîm", lalu berhenti.
-Baca surat kedua (Al-Falaq) hingga selesai, kemudian berhenti.
-Ucapkan takbir "Allâhu Akbar", lalu berhenti.
-Baca basmalah "Bismillâhir-Raḥmânir-Raḥîm", lalu berhenti.
-Baca surat ketiga (An-Nas) hingga selesai, kemudian berhenti.
-Membaca Surat Al-Ikhlas
Qul huwallâhu aḥad, Allâhuṣ-ṣamad, Lam yalid wa lam yûlad, Wa lam yakun lahu kufuwan aḥad. (Waqaf)
Artinya:
Katakanlah (Nabi Muhammad), "Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya." (Berhenti)
-Mengucapkan Takbir dan Basmalah
Allâhu Akbar (Waqaf)
Bismillâhir-Raḥmânir-Raḥîm (Waqaf)
Allah Maha Besar (Berhenti)
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (Berhenti)
-Membaca Surat Al-Falaq
Qul a‘ûżu birabbil-falaq, Min syarri mâ khalaq, Wa min syarri ghâsiqin iżâ waqab, Wa min syarrin-naffâṡâti fil-‘uqad, Wa min syarri ḥâsidin iżâ ḥasad. (Waqaf)
Artinya:
Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan pendengki apabila dia dengki." (Berhenti)
-Mengucapkan Takbir dan Basmalah
Allâhu Akbar (Waqaf)
Bismillâhir-Raḥmânir-Raḥîm (Waqaf)
Allah Maha Besar (Berhenti)
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (Berhenti)
-Membaca Surat An-Nas
Qul a‘ûżu birabbin-nâs, Malikin-nâs, Ilâhin-nâs, Min syarril-waswâsil-khannâs, Alladzii yuwaswisu fii ṣudûrin-nâs, Minal-jinnati wan-nâs. (Waqaf)
Artinya:
Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (setan) yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia." (Berhenti)
Baca Juga: Sidang PN Di Solo Memanas, Roy Suryo Tegaskan Ijazah Jokowi yang Beredar 99,9 Persen Palsu
Doa Setelah Sholat Tarawih
Setelah menunaikan 20 rakaat tarawih dan sebelum melanjutkan sholat witir, dianjurkan membaca doa berikut:
Allâhummaj‘alnâ bil-îmâni kâmilîn, wa lifarâ’idhika mu’addîn, wa ‘alash-shalawâti muhâfizhîn, wa liz-zakâti fâ‘ilîn, wa limâ ‘indaka thâlibîn, wa li‘afwika râjîn, wa bil-hudâ mutamassikîn, wa ‘anil-laghwi mu‘ridhîn, wa fid-dunyâ zâhidîn, wa fil-âkhirati râghibîn, wa bil-qadhâ’i râdhîn, wa bin-ni‘mâ’i syâkirîn, wa ‘alal-balâ’i shâbirîn, wa tahta liwâ’i sayyidinâ Muhammad ﷺ yaumal-qiyâmati sâ’irîn, wa ‘alal-haudhi wâridîn, wa fil-jannati dâkhilîn, wa ‘alâ sarîratil-karâmah qâ‘idîn, wa bihûrin ‘în mutazawwajîn, wa min sundusin wastabraqin wa diyâjin mutalabbisîn, wa min tha‘âmil-jannati âkilîn, wa min laban wa ‘asalin mushaffâ syâribîn bi-akwâbin wa abârîqa wa ka’sin min ma‘în, ma‘alladzîna an‘amta ‘alaihim minan-nabiyyîn wash-shiddîqîn wasy-syuhadâ’i wash-shâlihîn, wa hasuna ulâ’ika rafîqâ, dzâlikal-fadhlu minallâh, wa kafâ billâhi ‘alîmâ. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil-lailatisy-syarîfah al-mubârakah minas-su‘adâ’il-maqbûlîn, wa lâ taj‘alnâ minal-asyqiyâ’il-mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa âlihi wa shahbihi ajma‘în, birahmatika yâ arhamar-râhimîn, walhamdulillâhi rabbil-‘âlamîn.
Artinya:
"Ya Allah, jadikanlah kami (orang-orang) yang beriman sempurna, dapat menunaikan segala fardhu, menjaga shalatnya, menunaikan zakat, menuntut segala kebaikan di sisiMu, mengharap keampunan-Mu, senantiasa memegang teguh petunjuk-Mu, terlepas dari penyelewengan, mencintai amal untuk bekal akhirat, tabah menghadapi cobaan, mensyukuri nikmat-Mu.
Semoga nanti pada kiamat kami dalam satu barisan di bawah naungan panji Nabi Muhammad, melalui telaga yang sejuk, masuk surga, terhindar dari api neraka, duduk di tahta kehormatan, didampingi bidadari surga, mengenakan baju sutra berwarna-warni, menikmati santapan surga, minum susu dan madu suci, bersama nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang sholeh. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."
Baca Juga: SKTP Februari 2026 Segera Terbit, Guru Diminta Cek Info GTK usai Cut Off 15 Februari
Doa Setelah Sholat Witir
Setelah menunaikan sholat witir tiga rakaat, bacalah doa:
Subḥānal-Maliki al-Quddūs (3x)
Allāhumma innī a‘ūdhu biraḍāka min sakhaṭik, wa bimu‘āfātika min ‘uqūbatik, wa bika minka, lā uḥṣī thanā’an ‘alayka, anta kamā athnaita ‘alā nafsik.
Artinya:
"Mahasuci bagi Penguasa yang Mahaqudus." (3x)
"Ya Allah, dengan keridhaan-Mu aku memohon perlindungan dari kemurkaan-Mu dan dengan ke-Maha-Pemaafan-Mu aku memohon ampunan dari siksa-Mu. Aku memohon perlindungan dari-Mu, yang aku tidak menghitung pujian bagi-Mu. Engkau laksana pujian yang keluar dari diri-Mu sendiri."
Demikian uraian lengkap mengenai tata urutan surat dalam sholat tarawih dan witir 23 rakaat beserta doa setelahnya. Semoga bermanfaat. ***




