POJOKSATU.ID - Dulu, liburan identik dengan jadwal padat dan daftar tempat yang harus dikunjungi.
Kini, generasi muda mulai melambat.
Mereka tak lagi mengejar banyak destinasi, tapi memilih menikmati satu tempat lebih lama mengenal budaya, berbincang dengan warga, dan menemukan makna di setiap langkah.
Baca Juga: Guru Sudah SKTP Tapi Tidak Dapat TPG? Mungkin Kamu Terlambat Sinkronisasi Data, Begini Solusinya!
Tren ini dikenal sebagai slow travel, gaya berwisata yang menekankan pengalaman, bukan kecepatan.
Bukan soal berapa banyak yang dilihat, tapi seberapa dalam perjalanan itu dirasakan.
Perjalanan yang Mengubah Cara Pandang
Fenomena slow travel muncul dari keinginan untuk keluar dari rutinitas wisata cepat dan konsumtif.
Baca Juga: Teknologi Miliaran, Akurasi Menurun Ada Apa dengan Sistem Prediksi BMKG? Cek Faktanya!
Setelah pandemi, banyak orang sadar bahwa bepergian bukan soal “mengejar itinerary”, tapi menghargai waktu dan koneksi dengan alam serta manusia.
“Dulu saya bisa ke tiga kota dalam empat hari, tapi yang saya ingat cuma capek,” cerita Ratri Sulastri, travel blogger asal Yogyakarta.
“Sekarang saya lebih suka tinggal seminggu di satu tempat, ngobrol dengan penduduk, belajar masak makanan lokal. Rasanya jauh lebih hidup.”
Perjalanan yang Mengubah Cara Pandang
Konsep slow travel sejalan dengan tren slow living gaya hidup yang mengajak orang untuk menikmati setiap momen dengan sadar.
Baca Juga: Akselerasi Hilirisasi Sektor Strategis Nasional Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Dalam dunia pariwisata, ini berarti:
-
Tinggal lebih lama di satu destinasi, bukan pindah setiap hari.
-
Menginap di homestay atau rumah warga, bukan hotel besar.
-
Mengutamakan interaksi dan budaya lokal, bukan hanya pemandangan.
Menurut laporan Booking.com (2025), lebih dari 60% wisatawan milenial Indonesia kini mengaku tertarik dengan konsep perjalanan yang tenang, personal, dan ramah lingkungan.
Milenial Cari Pengalaman, Bukan Sekadar Foto
Generasi milenial tumbuh di era digital di mana foto dan konten menjadi segalanya. Tapi kini, mereka mulai lelah dengan “wisata demi unggahan”.
Slow travel menawarkan kebalikannya.
Baca Juga: Akselerasi Hilirisasi Sektor Strategis Nasional Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pengalaman tanpa tekanan untuk tampil sempurna di media sosial.
“Sekarang, justru momen tanpa kamera yang paling berkesan,” kata Ratri sambil tertawa.
Ia mengingat saat belajar membuat batik di Kampung Giriloyo, Yogyakarta, dari pengrajin tua yang mengajarinya dengan sabar.
Dampak Slow Travel untuk Indonesia
Konsep ini mulai memengaruhi arah industri wisata nasional.
Banyak destinasi kini beralih ke wisata berbasis komunitas dan keberlanjutan, di mana turis tidak hanya datang, tapi juga memberi dampak positif bagi warga lokal.
Program desa wisata dari Kemenparekraf menjadi contoh sukses.
Baca Juga: Terungkap! Data Honorer “Siluman”, Ada Istri Lurah hingga Instruktur Zumba Lolos PPPK!
Dari Bali hingga Flores, wisatawan diajak tinggal bersama penduduk, ikut kegiatan harian, dan memahami budaya dari dekat.
Selain memperkuat ekonomi lokal, konsep ini juga menekan jejak karbon karena wisatawan tidak berpindah tempat terlalu sering.
Bagaimana Memulai Slow Travel Sendiri
Kamu tak perlu pergi jauh untuk memulai.
Prinsip slow travel bisa diterapkan di mana saja:
-
Pilih satu destinasi dan habiskan waktu lebih lama di sana.
-
Gunakan transportasi lokal untuk menjelajah.
-
Cicipi kuliner tradisional dari warga sekitar.
Baca Juga: Akselerasi Hilirisasi Sektor Strategis Nasional Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia -
Kurangi jejak sampah selama perjalanan.
-
Matikan notifikasi media sosial sesekali fokus pada pengalaman, bukan postingan.
Dengan melambat, kamu akan menemukan sisi perjalanan yang sebelumnya terlewat aroma pasar pagi, obrolan dengan penduduk, atau matahari sore di pinggir sawah yang tak bisa diburu waktu.
Melambat untuk Menemukan Diri
Slow travel bukan sekadar tren wisata tapi cara baru memaknai hidup.
Baca Juga: Guru Sudah SKTP Tapi Tidak Dapat TPG? Mungkin Kamu Terlambat Sinkronisasi Data, Begini Solusinya!
Ketika dunia makin cepat, generasi muda justru memilih melambat.
Mereka ingin hadir sepenuhnya, bukan sekadar lewat.
Karena kadang, perjalanan paling jauh bukan tentang jarak, melainkan tentang bagaimana kita belajar menikmati setiap langkah.***




