POJOKSATU.id - Bullying atau perundungan bukan sekadar ejekan atau lelucon antar teman bagi si korban.
Pengalaman bullyting itu bisa menjadi luka dalam yang membekas dan memunculkan trauma.
Anak bisa jadi takut, kehilangan kepercayaan diri, bahkan menarik diri dari lingkungan sekitarnya.
Namun kalian harus tau, trauma ini bukanlah akhir dari segalanya.
Dengan dukungan tepat, anak bisa bangkit dan kembali kuat.
Baca Juga: Belajar Bilang Tidak: Cara Sehat Menetapkan Batas Tanpa Rasa Bersalah
Berikut lima langkah yang sangat disarankan untuk membantu anak pulih dari trauma bullying.
1. Jadilah Pendengar yang Empatik
Yang pertama dan paling penting: biarkan anak menyampaikan pengalamannya tanpa tergesa-gesa, tanpa penilaian.
Saat anak merasa didengar, ia tahu bahwa ia tidak berada dalam kesendirian.
Mendengarkan anak menjadi poin utama dalam pemulihan.
Pastikan suasana nyaman, tanyakan secara lembut apa yang ia rasakan, apa yang membuatnya takut atau sedih.
Ketika anak merasa aman berbagi, beban emosionalnya sudah mulai berkurang.
2. Tawarkan Bantuan Profesional
Kadang, kondisi trauma tidak cukup ditangani hanya lewat dukungan keluarga.
Apalagi jika muncul gejala seperti kecemasan berat, mimpi buruk, gangguan tidur atau keinginan menghindar dari sekolah.
Lakukan terapi sebagai langkah lebih jauh untuk penyembuhan trauma anak.
Terapi bukan tanda kelemahan, melainkan investasi untuk kesehatan jangka panjang anak.
Usahakan pendekatan yang ramah anak, agar ia merasa terbantu, bukan diberi beban lain.
Baca Juga: Beauty Sleep: Tidur yang Cukup Bisa Bikin Kulit Glowing, Ini Alasannya!
3. Beri Keyakinan dan Bangun Rasa Percaya Diri
Bullying sering merenggut rasa aman dan harga diri anak.
Maka, penting untuk menguatkan anak bahwa ia layak dihormati dan bisa bangkit.
Ajak anak melakukan aktivitas yang ia kuasai atau senangi seperti olahraga ringan, seni, hobi, atau tugas kelompok.
Setiap keberhasilan kecil akan memperbaiki citra dirinya, dan anak akan meyakini dirinya: “Saya bisa!”, “Saya aman!”.
Lingkungan positif di rumah dan sekolah sangat membantu.
4. Ajak Anak Bicara Tentang Pengalaman & Ajarkan Strategi Kuat
Anak perlu memahami bahwa perasaan takut atau malu yang ia alami adalah wajar.
Namun tentu bukan akhir dari kemampuannya untuk pulih.
Diskusikan bersama apa yang terjadi, siapa yang bisa dibantu, bagaimana ia bisa meminta pertolongan.
Hal tersebut merupakan bagian dari proses pemulihan.
Ajarkan anak teknik sederhana untuk menyampaikan batasan diri, mencari teman kepercayaan, atau berbicara ke guru bila situasi memburuk.
Baca Juga: UAS Sudah Dekat? Coba Latihan Soal Bahasa Indonesia Kelas 4 Ini, Dijamin Lebih Siap!
Dengan demikian, anak merasa punya “alat” untuk menghadapi situasi sulit.
5. Pantau & Evaluasi Perkembangan Secara Rutin
Pemulihan dari trauma tidak instan, butuh waktu dan konsistensi.
Orang tua dan guru perlu memonitor apakah anak mulai kembali aktif di sekolah, berinteraksi dengan teman, dan tampil lebih terbuka.
Jika masih ada gejala seperti menghindar, sedih terus-menerus, atau menurunnya prestasi belajar, maka kiprah profesional perlu ditingkatkan.
Membangun rutinitas yang stabil, suasana di rumah yang mendukung, dan komunikasi terbuka akan membantu anak merasa bahwa “ini lingkungan yang bisa dipercaya”.
Trauma karena bullying memang berat, tetapi bukan jalan tanpa harapan.
Dengan menjadi pendengar yang baik, menyediakan bantuan profesional, membangun kepercayaan diri, mengajarkan strategi, dan memantau perkembangannya.
Anak punya kesempatan nyata untuk bangkit lebih kuat dari sebelumnya.
Lingkungan keluarga, sekolah, dan profesional menjadi tiga pilar utama dalam proses menghentikan bullying ini.***




