POJOKSATU.id - Mendidik anak merupakan tugas sekaligus tanggung jawab besar bagi setiap orang tua.

Peran ini sangat menentukan pembentukan karakter anak yang kelak memengaruhi masa depannya.

Sayangnya, dalam praktiknya, mendidik anak tidak selalu mudah.

Tantangan, tekanan, serta kelelahan kerap membuat orang tua terpancing emosi.

Baca Juga: Solusi Hindari PHK Massal, Forum Honorer Dorong Skema PJLP untuk Sisa Honorer, Ini Penjelasannya

Padahal, kekerasan dalam bentuk apa pun, baik verbal maupun fisik, tidak dibenarkan karena dapat meninggalkan luka pengasuhan yang berdampak panjang.

Luka pengasuhan adalah luka batin yang dialami anak akibat pola asuh yang keliru, seperti bentakan, caci maki, atau hukuman fisik.

Luka ini bisa terbawa hingga dewasa dan berpotensi muncul kembali ketika seseorang menjadi orang tua.

Baca Juga: Rata-rata Nilai SNBP Unej 2026 Lengkap Semua Jurusan, dari D3 hingga S1, Cek Peluang Masuk Kampus Favorit Jember

Ibarat bom waktu, luka tersebut dapat meledak sewaktu-waktu dan melahirkan pola asuh yang sama kepada generasi berikutnya.

Tak sedikit orang tua yang tanpa sadar meniru cara pengasuhan yang mereka terima di masa kecil.

Ketika anak melakukan kesalahan atau saat orang tua berada dalam kondisi tertekan, kemarahan pun dilampiaskan.

Padahal, cara ini tidak menyelesaikan masalah, justru memperpanjang rantai luka pengasuhan.

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyadari dan memutus rantai luka tersebut.

Baca Juga: Viral! Pengakuan Tukang Es Gabus Dituduh Jual Es Spons, Ditendang dan Dipermalukan Aparat Saat Berjualan

Orang tua masa kini dituntut untuk terus belajar tentang pola asuh yang sehat dan relevan dengan perkembangan zaman.

Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan zamanmu.”

Pesan ini menjadi pengingat bahwa pendekatan pengasuhan harus selalu menyesuaikan konteks.

Di era digital, anak-anak lebih mudah mengakses informasi dan cenderung lebih kritis.

Oleh karena itu, orang tua perlu membekali diri dengan ilmu parenting agar tidak salah langkah. Kesabaran menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika ini.

Baca Juga: UMKM Terjepit Biaya Produksi? Ini Tips Menyesuaikan Harga Saat Bahan Baku Naik Tanpa Kehilangan Pelanggan

Komitmen untuk menghentikan segala bentuk kekerasan juga harus ditanamkan.

Anak adalah peniru ulung. Apa yang mereka lihat dan dengar dari orang tua akan mudah ditiru.

Memanggil anak dengan nada lembut akan mengundang respons lembut, sebaliknya teriakan akan dibalas teriakan.

Sekalipun anak berbuat salah, selesaikan dengan komunikasi dari hati ke hati.

Cara ini membantu anak memahami kesalahannya dan belajar bertanggung jawab, tanpa merasa terancam atau tertekan.

Baca Juga: Ombudsman Soroti Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG, Dinilai Timbulkan Ketidakadilan

Selain itu, orang tua perlu memahami kebutuhan emosional anak. Perhatian, cinta, dan dukungan tanpa syarat akan membuat anak merasa aman dan dihargai.

Berikan pujian saat anak berbuat baik, bukan hanya menegur ketika ia melakukan kesalahan. Bangun kedekatan layaknya sahabat, sehingga tercipta hubungan yang harmonis.

Kesabaran juga perlu diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari sabar belajar tentang parenting, mengajarkan kebaikan, menasihati, mengajarkan ibadah, membentuk akhlak, hingga sabar meredam emosi saat menghadapi kenakalan anak.

Pendidikan adab dan akhlak bahkan sebaiknya ditanamkan sejak usia dini, karena masa ini merupakan periode emas perkembangan otak anak.

Keluarga yang bebas dari kekerasan adalah keluarga yang dipenuhi kasih sayang.

Baca Juga: Lagu Indonesia Legendaris yang Tetap Populer Meski Rilis Puluhan Tahun Lalu

Dalam lingkungan seperti ini, anak tumbuh dengan rasa percaya diri, empati, dan karakter yang kuat.

Pada akhirnya, mendidik anak dengan penuh kasih sayang adalah investasi terbesar orang tua.

Anak-anak adalah amanah sekaligus aset berharga, baik di dunia maupun akhirat.

Ketika mereka dididik dengan cinta dan keteladanan, merekalah yang kelak menjadi sumber kebahagiaan dan kebanggaan orang tua. ***