POJOKSATU.ID – Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, namun juga menguji ketahanan tubuh terhadap dehidrasi.

Para ahli kesehatan dan ahli gizi mengingatkan bahwa kecukupan asupan air putih menjadi kunci utama agar tubuh tetap bugar, konsentrasi terjaga, dan produktivitas tidak menurun meski sedang berpuasa selama kurang lebih 13 jam.

Kekurangan cairan atau dehidrasi ringan seringkali menjadi penyebab utama munculnya keluhan fisik seperti sakit kepala, bibir pecah-pecah, hingga lemas yang berlebihan di siang hari.

Mengingat lebih dari 60% tubuh manusia terdiri dari air, kehilangan cairan tanpa penggantian yang tepat dapat mengganggu fungsi organ vital dan metabolisme tubuh.

Baca Juga: WAJIB TAHU! Manfaat Minum Air Putih dengan Pola 2-4-2 Selama Ramadhan

Banyak masyarakat yang cenderung "balas dendam" dengan mengonsumsi minuman manis atau bersantan saat berbuka, namun melupakan air putih.

Padahal, minuman tinggi gula justru dapat memicu rasa haus lebih cepat dan memberikan beban berlebih pada sistem pencernaan yang baru saja beristirahat.

Untuk menyiasati keterbatasan waktu minum, para ahli merekomendasikan pola 2-4-2.

Pola ini mengarahkan kita untuk meminum 2 gelas air saat berbuka, 4 gelas sepanjang malam (antara waktu Isya hingga sebelum tidur), dan 2 gelas saat sahur.

Baca Juga: Rahasia Agar Tidak Cepat Lapar Saat Puasa Ramadhan Maka Hindari 5 Makanan Ini Saat Sahur!

Pembagian yang merata ini bertujuan agar ginjal tidak bekerja terlalu berat dalam satu waktu dan cairan dapat diserap oleh sel tubuh secara optimal.

Selain menjaga volume air, masyarakat juga diimbau untuk menghindari konsumsi kafein berlebih, seperti kopi atau teh pekat saat sahur.

Sifat diuretik pada kafein dapat memicu tubuh mengeluarkan lebih banyak urine, yang justru mempercepat terjadinya dehidrasi di siang hari.

Selain menjaga energi harian, konsumsi air putih yang cukup selama Ramadhan terbukti memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan kulit dan fungsi pencernaan.

Dengan pola hidrasi yang benar, kulit tetap lembap dan risiko sembelit yang sering terjadi akibat perubahan pola makan dapat diminimalisir.

Memasuki bulan suci ini, kesadaran akan pentingnya air putih diharapkan menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat.

Dengan tubuh yang terhidrasi dengan baik, ibadah diharapkan dapat berjalan lebih khusyuk dan kondisi fisik tetap prima hingga hari kemenangan tiba.***