POJOKSATU.id - Pernah merayakan kebahagiaan dengan makan makanan favorit?

Atau justru mencari camilan manis saat sedang sedih, stres, dan lelah? Kebiasaan tersebut ternyata bukan hal yang asing.

Banyak orang menjadikan makanan sebagai pelarian emosional tanpa menyadari dampak yang mungkin muncul di kemudian hari.

Hubungan antara emosi dan makanan memang sangat erat.

Baca Juga: Instrumentasi Jurusan Apa? Bisa Mengembangkan Alat Ukur dan Sistem Kendali Teknologi Modern

Ketika seseorang merasa bahagia, makanan sering menjadi bagian dari perayaan.

Sebaliknya, saat dilanda kesedihan atau tekanan, makanan tertentu juga kerap dianggap mampu memberikan rasa nyaman.

Masalahnya, pilihan makanan yang muncul ketika emosi sedang tidak stabil biasanya mengarah pada makanan tinggi gula atau karbohidrat.

Padahal, konsumsi berlebihan terhadap jenis makanan ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, termasuk yang berkaitan dengan kondisi psikologis.

Baca Juga: Polres Karawang Tangkap Dua Pria di Jayakerta, Sita Sabu Seberat 43 Gram

Saat masuk ke dalam tubuh, gula akan memecah karbohidrat menjadi glukosa.

Glukosa kemudian digunakan sebagai sumber energi bagi sel-sel tubuh. Namun jika jumlahnya terlalu banyak, energi yang tidak terpakai dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Lebih dari itu, konsumsi gula dalam jumlah besar juga memengaruhi sistem kimiawi di dalam otak.

Ketika seseorang mengonsumsi makanan manis, tubuh akan melepaskan hormon dopamin yang sering dikenal sebagai hormon perasaan senang.

Dopamin inilah yang membuat seseorang merasa lebih nyaman, rileks, atau bahagia sesaat setelah menikmati makanan manis. Sayangnya, efek tersebut hanya berlangsung sementara.

Baca Juga: Siapa Berani Masuk Teknik Fisika, Ilmu Menggabungkan Fisika, Rekayasa, dan Teknologi Industri

Mengapa Gula Bisa Menimbulkan Ketergantungan?
Ketika tubuh terbiasa menerima asupan gula dalam jumlah tinggi, terjadi perubahan kimia tertentu yang membuat keinginan mengonsumsi gula semakin meningkat.

Akibatnya, seseorang akan terus mencari sensasi menyenangkan yang sama melalui makanan atau minuman manis.

Saat keinginan tersebut tidak terpenuhi, sebagian orang bisa mengalami perubahan suasana hati.

Perasaan cemas, mudah tersinggung, kehilangan semangat, hingga munculnya perasaan rendah diri dapat terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan asupan gula yang biasanya dikonsumsi.

Baca Juga: Proteksi Tanaman, Jurusan yang Melindungi Tanaman dari Hama dan Penyakit untuk Ketahanan Pangan

Kondisi ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus.

Seseorang mengonsumsi gula untuk merasa lebih baik, namun karena efeknya hanya sementara, ia kembali mencari makanan manis dalam jumlah lebih banyak.

Hubungan Konsumsi Gula dan Risiko Depresi
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi gula berlebih dan meningkatnya risiko depresi.

Salah satu studi menemukan bahwa pria yang mengonsumsi gula dalam jumlah tinggi dalam pola makan sehari-hari memiliki risiko depresi yang lebih besar dibandingkan mereka yang mengonsumsi gula dalam jumlah lebih terkendali.

Baca Juga: Banyak Aksi Demo di Jakarta, Presiden Prabowo Batal Berangkat ke Kazan Rusia

Menariknya, sebagian orang selama ini beranggapan bahwa depresi membuat seseorang menginginkan makanan manis.

Namun beberapa temuan justru menunjukkan kemungkinan sebaliknya.

Konsumsi gula berlebihan diduga terjadi lebih dahulu sebelum gejala depresi muncul.

Dengan kata lain, kebiasaan mengonsumsi makanan manis secara berlebihan mungkin berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan suasana hati.

Misalnya, saat seseorang merasa sedih lalu berpikir segelas besar milkshake akan membuat suasana hati membaik.

Baca Juga: Keren! Tim U-9 Bina Patra Fantasista Academy Jadi Juara Piala GEAS Jawa Barat

Padahal dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut belum tentu menjadi solusi dan bahkan bisa memperburuk kondisi emosional.

Pentingnya Menjaga Kadar Gula Darah
Selain bermanfaat untuk kesehatan fisik, menjaga kestabilan kadar gula darah juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.

Ketika kadar gula darah tidak terkontrol, respons insulin dalam tubuh dapat mengalami fluktuasi.

Kondisi ini bisa mengganggu proses metabolisme dan berpotensi memengaruhi suasana hati seseorang.

Baca Juga: Keren! Tim U-9 Bina Patra Fantasista Academy Jadi Juara Piala GEAS Jawa Barat

Karena itu, pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, serta pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam menjaga kestabilan kadar gula darah.

Bagi sebagian orang, terutama penderita diabetes, upaya mengontrol kadar gula darah terkadang juga dapat menimbulkan tekanan psikologis.

Rasa bosan, lelah menjalani berbagai aturan, hingga kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan bisa memicu stres maupun depresi.

Jika mengalami kondisi tersebut, penting untuk memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat sejenak.

Baca Juga: Keren! Tim U-9 Bina Patra Fantasista Academy Jadi Juara Piala GEAS Jawa Barat

Mengingat kembali berbagai pencapaian yang sudah diraih dalam menjaga kesehatan juga dapat membantu memperkuat motivasi.

Selain itu, berbagi cerita dengan keluarga, sahabat, atau orang terdekat bisa menjadi langkah sederhana yang membantu meringankan beban pikiran tanpa harus melampiaskannya pada makanan manis.

Makanan memang bisa menghadirkan kenyamanan sesaat, tetapi kesehatan mental membutuhkan perhatian yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa manis di lidah.

Baca Juga: Honor X80 Pro Max Meluncur 22 Juni, Bawa Baterai Raksasa 11.000 mAh dan Fast Charging 90W

Mengenali hubungan antara emosi dan pola makan adalah langkah penting untuk menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran.

Sebab terkadang, yang benar-benar dibutuhkan bukan tambahan gula, melainkan ruang untuk beristirahat, didengar, dan memahami diri sendiri dengan lebih baik.***