POJOKSATU.id, PERNAH enggak sih Ayah Bunda penasaran, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala si kecil saat dia lagi asik main atau belajar sesuatu yang baru?

Wah, ternyata otak anak tuh sibuk banget bekerja keras lho, membangun "jaringan kehebatan" yang bakal menentukan masa depannya.

Yuk, kita bahas bareng-bareng gimana sih otak anak bekerja saat belajar dan kenapa bermain interaktif itu penting banget.

Baca Juga: Perkenalkan, Inilah Pemain Asing Pertama PSMS Musim Ini, Bek Asal Korsel yang Sempat Perkuat Timnas U23 Negeri Ginseng Itu

Bermain Itu Belajar, Belajar Itu Bermain

Ternyata, proses belajar anak paling optimal itu dimulai dari hal yang kelihatan sederhana: bermain bersama orang tua atau pengasuh setiap harinya.

Tapi jangan salah, di balik permainan itulah otak anak mulai menyusun koneksi atau sirkuit baru antar sel otak (neuron).

Sirkuit inilah yang bikin anak bisa merespons, memahami, sampai menyimpan informasi sebagai memori.

Saat anak main bareng orang tua—entah itu main cilukba, nyanyi-nyanyi, atau meraih mainan—dia sedang menerima pengalaman sensoris.

Baca Juga: 8 Kapal Legendaris Nusantara Bukti Bangsa Pelaut Sejati, Penjelajah Samudra Tradisi Kemaritiman Negeri Bahari 

Dari pengalaman ini akan mengaktifkan berbagai reseptor di indera penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan.

Contohnya nih, kalau si kecil dengar suara "Mamaaa..." dari ibunya, suara itu akan masuk lewat indera pendengaran → diteruskan ke otak → lalu diproses oleh sel-sel otak A, B, C, D... dan akhirnya disimpan dalam area khusus di otaknya.

Hebat ya? Semua proses itu cepat banget dan berlangsung terus-menerus setiap kali si kecil belajar sesuatu yang baru.

Otak Si Kecil Hebat Bekerja dalam 3 Tahap Hebat Ini

Bunda, Ayah tahu tidak ada keajaiban dalam otak Si anak?, ini dia penjelasan menurut para ahli, ada tiga mekanisme penting yang terjadi saat anak belajar:

Baca Juga: Kerja Kontrak Minimal Satu Bulan, Tetap Dapat THR dan BPJS, Begini Cara Hitung Resminya

1. Pembentukan Sirkuit Baru

Setiap kali anak mendapatkan pengalaman baru, otaknya langsung gercep membentuk sirkuit baru sesuai dengan kebutuhan.

Contoh nyatanya: Saat pertama kali anak meraih mainan, otaknya mulai bikin sirkuit untuk:

Melihat benda,
Menggerakkan tangan,
Menggenggam mainan.
Dulu belum ada tuh koneksi ini.

Tapi setelah diberi kesempatan belajar, sirkuit itu mulai terbentuk loh.

2. Seleksi Sirkuit

Nah, otak tuh enggak mau boros energi. Jadi, sirkuit yang jarang dipakai bisa ‘dibuang’, alias dieliminasi.

Yang sering dipakai? Dipertahankan.

Misalnya: Anak lebih sering dengar kata "Bunda" daripada "Mama", maka sirkuit otaknya akan lebih kuat untuk kata “Bunda”.

Kata “Mama”? Bisa-bisa lenyap dari sirkuit memorinya.

Baca Juga: 7 Aplikasi AI Terbaik untuk Pelajar dan Mahasiswa, Dari ChatGPT Sampai Otter, Jadikan Jembatan Cerdas, Bukan Jalan Pintas!

3. Konsolidasi Sirkuit

Kalau satu sirkuit sering banget dipakai, dia akan makin kuat dan bersifat permanen.

Contoh lagi nih: Anak umur 2 tahun selalu diajarkan meniup minuman panas.

Karena ini dilakukan terus-terusan, maka sirkuit otaknya menganggap ini penting banget, dan menyimpannya sebagai memori seumur hidup.

Jadi pas anak udah umur 10 tahun, dia tetap tiup minuman panas sebelum diminum.

Belajar Harus Bertahap, Jangan Langsung Lompat ke yang Rumit!

Otak anak itu berkembang secara bertahap.

Sirkuit untuk kemampuan sederhana harus dibentuk dulu, baru disusun jadi kemampuan yang kompleks.

Misalnya, sebelum anak bisa menulis, dia perlu:

Bisa meraih benda kecil dulu,
Lalu menggenggam benda,
Baru belajar memegang pensil.
Setelah tiga sirkuit ini kuat, barulah otak siap membentuk kemampuan mencoret dan menulis.

Baca Juga: 3 Puisi Cinta Helvy Tiana Rosa yang Menyentuh Hati

Hati-hati, Jangan Sampai Anak Belajar Hal Negatif

Karena otak anak gampang banget menyerap informasi, pastikan yang masuk itu positif.

Hindari hal-hal seperti melihat pertengkaran, mendengar kata kasar, atau melihat kekerasan.

Itu semua bisa membentuk sirkuit negatif yang bertahan seumur hidup juga, lho!

Yuk, Mulai Sekarang Jadi Pendamping Hebat Si Kecil

Belajar bukan sekadar duduk di meja dengan buku saja loh. Bagi anak, belajar itu adalah setiap interaksi sederhana yang bermakna.

Baca Juga: Keseruan Rutinitas Siswa Sekolah Rakyat Banyuwangi, Anak Jadi Disiplin dan Mandiri

Maka, yuk bantu anak membentuk sirkuit hebatnya sejak dini.Dampingi mereka, ajak main yang edukatif, dan ciptakan lingkungan penuh cinta.

Karena sekali anak membentuk sirkuit hebat di otaknya, itu akan jadi bekal luar biasa seumur hidupnya.

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Gimana Ayah dan Bunda, Siap jadi bagian dari keajaiban otak anak hari ini? ***