POJOKSATU.id — Upaya meningkatkan minat baca tidak hanya dilakukan melalui ajakan kepada masyarakat untuk rajin membaca.
Sejumlah negara juga menjalankan kebijakan dan program khusus untuk memperluas akses terhadap buku sekaligus membangun budaya literasi.
Dukungan tersebut memiliki bentuk yang berbeda-beda.
Ada negara yang mengatur harga buku agar tetap terjangkau dan menjaga keberadaan toko buku, sementara negara lainnya membuat strategi literasi nasional, kampanye membaca hingga memberikan insentif kepada masyarakat.
Berikut beberapa negara yang memiliki kebijakan atau program pemerintah untuk mendukung buku dan literasi.
1. Prancis
Prancis menjadi salah satu negara yang memiliki kebijakan khusus mengenai harga buku.
Baca Juga: Ada Proyek MRT Baru di Jakarta Pusat, Bangunan di Kramat Kwitang dan Kebon Sirih Mulai Didata
Melalui aturan harga buku yang berlaku sejak 1981, penerbit atau importir menetapkan harga jual buku kepada masyarakat.
Toko buku dan penjual lainnya pada dasarnya harus mengikuti harga yang telah ditetapkan tersebut.
Diskon untuk buku baru dibatasi maksimal 5 persen, dengan sejumlah pengecualian tertentu.
Kebijakan ini bertujuan menjaga kesetaraan akses masyarakat terhadap buku sekaligus mempertahankan jaringan toko buku yang tersebar di berbagai wilayah.
Kementerian Kebudayaan Prancis menyebut kebijakan tersebut juga berkaitan dengan upaya mempertahankan keberagaman dalam dunia penerbitan dan distribusi buku.
Baca Juga: HP Bisa Terbakar Meski Tidak Dicas, Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya
Dengan mekanisme tersebut, dukungan pemerintah Prancis terhadap buku bukan sekadar memberikan subsidi langsung kepada pembeli.
Negara mengatur ekosistem perdagangan buku agar persaingan harga tidak membuat toko buku kecil dan jaringan distribusi di daerah semakin sulit bertahan.
2. Finlandia
Finlandia memiliki pendekatan yang lebih luas melalui strategi literasi nasional.
Pemerintah negara tersebut memiliki National Literacy Strategy 2030 yang dirancang untuk memperkuat kemampuan literasi masyarakat.
Strategi tersebut tidak hanya membahas kemampuan membaca secara dasar.
Baca Juga: Selain HGB Summarecon, KPK Bidik Pelicin Mutasi Pejabat Kementerian ATR BPN, Ada Uang Tunai Rp 106 M
Pemerintah Finlandia juga memasukkan konsep multiliterasi, yaitu kemampuan membaca, memahami, menafsirkan dan menghasilkan berbagai jenis teks melalui lingkungan serta media yang berbeda.
National Literacy Strategy 2030 memiliki tiga arah utama, yakni memperkuat struktur kerja literasi, meningkatkan kemampuan multiliterasi serta mendorong kegiatan membaca dan memperluas bentuk literasi.
Program tersebut menunjukkan bahwa literasi ditempatkan sebagai bagian dari kebijakan pendidikan dan kehidupan masyarakat secara luas, bukan hanya sebagai kegiatan di dalam kelas.
3. Korea Selatan
Korea Selatan juga menjalankan program nasional untuk mendorong masyarakat kembali menjadikan membaca sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Hasil Kualifikasi Moto3 Austria 2026: Veda Pratama Start P19, Jauh di Belakang Rider Malaysia
Pada 2026, Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan meluncurkan kampanye “Reading Korea” untuk memperluas kesenangan membaca di tengah masyarakat.
Kampanye tersebut kemudian dikembangkan melalui berbagai kegiatan partisipatif.
Salah satunya adalah tantangan membaca yang mengajak peserta menjalankan sejumlah misi, seperti mengunggah bukti membaca, menulis satu baris dari buku dan membuat ulasan singkat.
Baca Juga: Doa Mahjong
Menariknya, program tersebut juga memberikan berbagai hadiah berdasarkan pencapaian peserta.
Hadiah yang disiapkan antara lain voucher buku, paket perlengkapan membaca hingga perangkat pembaca buku elektronik.
Korea Selatan juga menjalankan kegiatan “Book Check-in” yang mengajak masyarakat mengunjungi toko buku dan mendapatkan stempel pada paspor membaca.
Program tersebut berlangsung pada 8 Juli hingga 15 November 2026.
Dengan demikian, dukungan terhadap literasi di Korea Selatan tidak hanya berbentuk kampanye membaca, tetapi juga dikombinasikan dengan aktivitas di toko buku dan pemberian insentif bagi masyarakat yang berpartisipasi.
Baca Juga: DPRD Jabar Dorong Literasi Media Masuk Sekolah, Anak Muda Diminta Makin Kritis
Dari sejumlah contoh tersebut, terlihat bahwa dukungan pemerintah terhadap budaya membaca dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Prancis memilih mengatur ekosistem harga dan distribusi buku. Finlandia membangun strategi literasi jangka panjang yang mencakup kemampuan membaca dan multiliterasi.
Sementara Korea Selatan pada 2026 mendorong kebiasaan membaca melalui kampanye nasional, tantangan membaca, kegiatan di toko buku dan insentif.
Artinya, peningkatan literasi tidak selalu harus dilakukan dengan membagikan buku secara gratis.
Kebijakan harga, penguatan perpustakaan dan toko buku, strategi pendidikan serta program yang membuat kegiatan membaca lebih menarik juga dapat menjadi bagian dari ekosistem literasi.***




