POJOKSATU.id - Stunting adalah kondisi yang ditandai dengan kurangnya tinggi badan anak apabila dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

Penyebab utama dari stunting adalah kurangnya asupan nutrisi selama masa pertumbuhan pada anak sehingga membuat anak lebih cepat terkena penyakit sebab daya tahan tubuhnya yang terganggu.

Stunting adalah kondisi ketika pertumbuhan tinggi anak yang tidak sesuai dengan tinggi badan normal usianya akibat kekurangan nutrisi.

Hal ini akan terjadi secara berkelanjutan dalam 1000 hari pertama kehidupan dan bersifat permanen sehingga sulit untuk diperbaiki.

Baca Juga: Deretan Program Pemerintah dalam Menurunkan Tingkat Stunting di Indonesia, Mari Simak Program Serunya

Sunting juga bersifat tidak dapat dikembalikan pada keadaan sebelumnya terutama setelah anak mencapai usia 2 tahun.

Pengobatan sunting lebih baik dilakukan pada saat usia anak masih dalam masa 1000 hari pertama kelahiran (HPK) dengan menjaga asupan gizi sang anak agar lebih seimbang agar terhindar dari resiko infeksi.

Ketika anak berusia 5 tahun, pengobatan sunting masih tetap bisa dilakukan, tetapi kemungkinan akan lebih sulit untuk mencapai kesembuhan 100% karna perkembangan anak yang semakin meningkat.

Karna sulitnya pengobatan dan keterbatasan kesembuhan maka peran orang tua sangat penting untuk memahami cara pencegahan sunting pada anak sejak dini.

Baca Juga: Menghadapi Stunting, Penyebab, Dampak, dan Langkah-Langkah Pengobatan yang Perlu Diketahu

Jika indikasi sunting sudah terlihat pada si kecil, segeralah berkonsultasi pada dokter agar segera mendapatkan penanganan yang tepat, karna dengan penanganan yang cepat maka kesembuhan akan lebih optimal dan akan semakin baik untuk anak.

Cara Pencegahan Stunting pada Anak

Pada fase 1000 hari pertama kehidupan memegang peran yang penting dalam proses perkembangan di kecil.

Karna pada fase ini organ-organ penting pada tubuh anak seperti rangka tulang, jantung dan otak sampai anggota tubuh lainnya sedang mengalami perkembangan yang pesat.

Maka upaya yang harus dilakukan khususnya sebagai orang tua dalam fase ini adalah sebagai berikut:

1. Memeriksa Kehamilan Secara Rutin

Pencegahan stunting harus dimulai saat masa kehamilan, karna stunting bisa terjadi ketika anak masih berada dalam kandungan dan gejalanya akan terlihat ketika anak berusia 2 tahun.

Mengontrol kandungan ke dokter juga dapat menambah edukasi bagi orang tua terutama Ibu agar lebih mengetahui tentang nutrisi yang baik dikonsumsi selama kehamilan.

Untuk menilai status gizi ibu hamil dapat dilakukan dengan mengikuti program ANC yang sudah ada di Indonesia diantaranya konsultasi gizi, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan dokter, jika ditemukan adanya resiko maka dapat ditindak lanjuti oleh petugas kesehatan yang berkompeten.

Baca Juga: Mengenal dan Mengatasi Stunting pada Anak, Orang Tua Harus Tahu!

2. Melengkapi Kebutuhan Gizi Sejak Hamil

Nutrisi utama yang harus diketahui dan dibutuhkan untuk memenuhi gizi saat kehamilan lewat makanan sehat dan bergizi.

Nutrisi yang dibutuhkan berupa kalori, asam folat, protein, kalsium, zat besi, sampai Vitamin A, C, dan D.

Apabila makanan sehari-hari tidak mengandung gizi yang cukup maka janin akan mengambil persediaan yang ada didalam tubuh sang Ibu seperti lemak ibu sebagai sumber kalori dan zat besi ibu sebagai zat besi janin.

3. Memberikan ASI Ekslusif Minimal 6 Bulan

Menyusui selama minimal 6 bulan dapat berpotensi mengurangi resiko stunting pada anak sejak usia dini berkat kandungan gizi mikro dan makronya, seperti protein whey dan kolostrum yang terdapat pada ASI sehingga mampu meningkatkan daya imun pada bayi yang terbilang masih rentan.

Baca Juga: Ini Dia 5 Cara Cegah Stunting Pada Anak Dimulai Sejak Dalam Kandungan

4. MPASI Lengkap dan Bergizi

MPASI lengkap yang bergizi seimbang dan memadai dapat menjadi pendamping ASI pada usia 6 bulan sampai usia 2 tahun sesuai dengan rekomendasi IDAI.

Maka orang tua harus memastikan makan yang dipilih sebagai MPASI bisa memenuhi gizi untuk anak.

Protein hewani juga harus ada dalam makanan anak sejak pertama kali dikenalkan pada usia 6 bulan, sebab hal ini dapat mencegah pencapaian tinggi optimal penyakit sunting.

Menurut Kementerian Kesehatan, anak-anak dengan asupan protein yang sesuai dengan kebutuhan mereka cenderung memiliki tinggi badan yang lebih tinggi di bandingkan dengan anak-anak yang jarang mengonsumsi protein yang didapatkan dari daging sapi, daging ayam, hati ayam dan telur.

PERGIZIAN PANGAN Indonesia menjelaskan bahwa pemberian satu butir telur pada masa MPASI dapat mencegah stunting pada anak, karna telur merupakan sumber protein yang tinggi.

Baca Juga: Kontribusi Mak Ganjar Untuk Tekan Kasus Stunting di Lampung

5. Selalu Pantau Tumbuh Kembang Anak

Pemantauan pertumbuh kembangan anak secara teratur dapat mencegah stunting, idealnya pemantauan ini dilakukan setiap bulan.

Pemantauan dan pemeriksaan ini dapat dilakukan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya secara teratur.

Tumbuh kembang anak bisa dilakukan secara rutin pada usia:

Setiap bulan saat anak berusia 0-12 bulan.

Setiap 3 bulan saat anak berusia 1-3 tahun.

Setiap 6 bulan saat anak berusia 3-6 tahun.

Orang tua harus terus memantau perkembangan pada anak terutama tinggi badan dan berat badan pada anak.

6. Melakukan Imunisasi

Pemberian vaksinasi sesuai dengan jadwal imunisasi memiliki peran penting untuk merangsang kekebalan tubuh dan melindungi dari berbagai macam penyakit.

Menurut IDAI, penerimaan vaksin secara rutin diwajibkan bagi anak-anak sejak baru lahir hingga mencapai usia 18 tahun.

Baca Juga: Hari Jadi Indramayu ke-496, Ketua PDIP Jabar : Persoalan Stunting dan Pengentasan Kemiskinan Masih Jadi PR

7. Menjaga Kebersihan Lingkungan

Seperti yang kita ketahui, anak-anak sangat mudah terjangkit penyakit terutama ketika lingkungan sekitar yang mereka tempati kotor.

Faktor seperti ini juga dapat menyebabkan resiko stunting pada anak, sebab stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi yang berulang.

Studi di Harvard School of Public Health menyatakan diare kronis merupakan faktor ketiga penyebab stunting.

Seperti yang orang tua ketahui diare dapat disebabkan adanya paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh manusia.***