POJOKSATU.id - Puasa dalam Islam tidak hanya dimaknai sebagai menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan secara lahiriah.
Lebih dari itu, puasa merupakan ibadah yang bertujuan membentuk pribadi bertakwa, yakni insan yang mampu menjaga diri dari perbuatan maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang berpuasa, tetapi gagal meraih pahala dari ibadah tersebut. Dalam sebuah hadits disebutkan: Kam min sha’im laisa lahu min shiyamihi illal ju’u wal ‘athasy.
Artinya: Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga. (HR An-Nasa’i).
Baca Juga: Reza Arap Janji Bersihkan Nama Lula Lahfah, Ungkapan Duka Penuh Emosi Usai Kepergian Sang Kekasih
Hadits ini menjadi peringatan keras bahwa sahnya puasa secara hukum tidak selalu sejalan dengan diterimanya puasa di sisi Allah SWT.
Ada faktor-faktor tertentu yang dapat menghapus pahala puasa, meskipun seseorang berhasil menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Habib Zain bin Smith, dalam kitab Al-Fawaidul Mukhtarah li Saliki Tariqil Akhirah, menjelaskan bahwa terdapat tiga hal utama yang menjadi penyebab hilangnya pahala puasa.
Ketiganya sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar terhadap kualitas ibadah puasa seseorang.
Baca Juga: Bukan Cuma 12 Kali, PNS Bisa Terima Gaji hingga 14 Kali dalam Setahun! Ini Rinciannya
Tetap Melakukan Perbuatan Buruk
Hal pertama yang dapat menghilangkan pahala puasa adalah tetap melakukan perbuatan-perbuatan buruk selama berpuasa.
Di antaranya adalah menggunjing orang lain, mengadu domba, berbohong, serta membiarkan pandangan terjerumus pada hal-hal yang membangkitkan syahwat.
Rasulullah SAW bersabda: Khamsun yufthirnas sha’im: al-ghibah, wan namimah, wal kadzib, wan nadhru bisy syahwah, wal yaminul kadzibah.
Artinya: Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa, yaitu membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu. (HR Ad-Dailami).
Baca Juga: Jelang Sidang Tipikor, Noel Kembali Koar-koar, KPK Disebut Konten Kreator dengan Operasi Tipu-Tipu
Hadits ini menunjukkan bahwa menjaga lisan dan anggota tubuh lainnya merupakan bagian tak terpisahkan dari puasa.
Menahan perut dari makanan, tetapi membiarkan lisan melukai orang lain, pada hakikatnya telah merusak ruh puasa itu sendiri.
Puasa yang seharusnya melatih kesabaran dan pengendalian diri justru kehilangan nilainya ketika maksiat masih terus dilakukan.
Menyimpan Riya’ dan Ingin Dipuji
Hal kedua yang menghilangkan pahala puasa adalah adanya sifat riya’ dalam hati.
Riya’ muncul ketika seseorang beribadah bukan semata-mata karena Allah, tetapi karena ingin dipuji, dihormati, atau dianggap lebih saleh dibandingkan orang lain.
Baca Juga: PNS yang Sudah Menikah Simak! Segini Tunjangan untuk Suami, Istri, dan Anak Lengkap dengan Simulasi
Habib Zain bin Smith menukil sebuah hikayat tentang Syekh Abdul Qadir al-Jilani.
Dikisahkan, ada seseorang yang menghadiri majelis beliau dan dihidangkan makanan. Ketika diminta untuk makan, orang tersebut menolak dengan alasan sedang berpuasa.
Syekh Abdul Qadir lalu berkata, “Makanlah, aku menjamin pahala puasamu satu hari penuh dan diterima di sisi Allah.”
Namun orang itu tetap menolak. Bahkan setelah dijanjikan pahala satu bulan hingga satu tahun penuh, sikapnya tidak berubah.
Akhirnya Syekh Abdul Qadir berkata, “Tinggalkanlah, engkau telah hina di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.” Dikisahkan, setelah peristiwa tersebut orang itu keluar dari Islam dan meninggal dalam keadaan kafir, naudzubillah.
Baca Juga: Kumpul Optimis
Kisah ini berlaku dalam konteks puasa sunah, bukan puasa fardhu. Namun hikmahnya sangat dalam, yakni bahwa ibadah yang dibungkus rasa bangga dan keinginan dipuji justru dapat menjadi sebab kehinaan di sisi Allah.
Puasa yang seharusnya melahirkan kerendahan hati malah berubah menjadi sarana memuaskan ego.
Berbuka dengan Sesuatu yang Haram
Hal ketiga yang dapat menghilangkan pahala puasa adalah berbuka dengan sesuatu yang haram.
Perkara ini sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar terhadap kondisi spiritual seseorang.
Habib Zain bin Smith menjelaskan bahwa berbuka dengan makanan atau minuman haram bukan hanya menghapus pahala puasa, tetapi juga menyebabkan hati menjadi berat untuk beribadah.
Seseorang akan lebih mudah merasa malas, enggan melaksanakan ibadah sunnah, bahkan perlahan menjauh dari ketaatan. (Al-Fawaidul Mukhtarah li Saliki Tariqil Akhirah, halaman 587).
Makanan haram yang masuk ke dalam tubuh akan memberikan pengaruh negatif, bukan hanya pada jasmani, tetapi juga pada ruhani.
Ibadah yang dilakukan setelahnya terasa berat, tidak khusyuk, dan kehilangan kenikmatan spiritual.
Tiga hal tersebut menjadi peringatan penting bagi siapa pun yang menjalankan ibadah puasa.
Menjaga diri dari perbuatan buruk, membersihkan hati dari riya’, serta memastikan yang dikonsumsi adalah sesuatu yang halal merupakan bagian dari upaya menjaga pahala puasa. ***




